Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Duka Irwan 2


__ADS_3

Part 60


Novia sudah ada di ruangan tempat Emir di rawat, dia mendapati suaminya sedang berbaring menemani putranya.


" Wan, barusan aku bertemu mama di apotek dan katanya papa di rawat di sini."


Irwan membalikan badannya dan menatap istrinya dengan alis yang sedikit terangkat.


" Apa iya, serius Vi ?"


Novia mengangguk lalu meletakkan obat di atas nakas kemudian dia duduk di sebelah Irwan.


" Aku kesana sekarang." Irwan bangkit dan melangkah tapi di tahan Novia.


" Memang kamu tahu ruangannya ?"


" Tahu Vi, pasti di ruang isolasi."


" Hah kenapa ?"


" Sudahlah Vi nanti aku jelaskan kembali dari sana." Irwan melangkah meninggalkan Novia, dia tahu betul setiap kali ayahnya di rawat pasti di tempatkan di ruang isolasi karena riwayat penyakit yg di derita ayahnya.


Tiba di ruang isolasi, Irwan meminta izin perawat untuk masuk.


Sampai di dalam dia mendapati ayahnya terbaring lemah, hatinya bergetar saat melihat ayahnya di pasangi alat bantu pernapasan.


Bu Mini menghampiri anaknya, tanpa menoleh Irwan bicara pada ibunya.


" Kenapa tidak mengabariku ?" wajahnya datar dan pandangannya masih tetap tertuju pada ayahnya.


" Kami tidak ingin merepotkan kalian."


" Mah, aku ini anak tertua yang nantinya akan bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu dalam keluarga kita."


Bu Mini diam, perkataan Irwan memang benar adanya tapi terlalu malu dengan sikapnya selama ini.


" Kita bicara di luar, biarkan papa istirahat."


Mereka berjalan keluar, duduk di kursi taman tak jauh dari ruangan tersebut.


Bu Mini diam sejenak, lalu memulai percakapan sedangkan Irwan pandangannya lurus ke depan.


" Sepulang dari rumah mertuamu, papa drop dan tak sadatkan diri sehingga di larikan kesini."


" Dimana Romi dan nanda ?"


" Mereka di rumah, hanya sesekali kesini kalau semuanya berkumpul di sini mama tidak punya uang untuk biaya makan adik-adikmu."


Irwan mengusap wajahnya, mana mungkin dia meminta tolong pada Novia sementara uang yang dulu belum di kembalikan.


Merasa tak ada lagi yang di bahas, Irwan pamit dan kembali ke ruangan anaknya.


Novia menoleh saat suaminya muncul, lalu mengambil bangku kecil dan meminta suaminya duduk.


" Bagaimana keadaan papa ?"


" Keadaan papa sepertinya buruk karena menggunakan alat bantu pernapasan."


" Vi, kamu bisa kan sendiri di sini ?"


" Iya, jangan khawatir, Emir juga sudah mulai membaik dan besok mungkin bisa pulang."


" Baiklah, aku pergi dulu ada urusan yang harus aku selesaikan."


Novia mengangguk, dan mengantar suaminya keluar dari ruangan terlintas di pikirannya untuk membesuk ayah mertuanya tapi dia urungkan karena tak mengkin meninggalkan Emir sendirian.


Irwan keluar dari area rumah sakit, tapi dia masih bingung dan tak punya tujuan hanya memacu mobilnya keliling kota tanpa arah yang jelas.


" Mama pasti butuh uang, sedangkan aku juga belum punya simpanan dan tidak mungkin meminta pada Novia. Sepertinya aku harus cari pinjaman di luar."


Saat pikirannya mulai kalut, tiba-tiba muncul ide di kepalanya untuk menemui Fahrul dan meminta bantuan padanya.

__ADS_1


Irwan tahu kemana tujuannya sekarang, dia melaju menuju tempat biasa Fahrul berkumpul bersama teman-temannya.


Tiba disana teman-temannya menyambut dengan canda dan menawarinya minuman, namun Irwan tak menanggapi sebab tujuannya hanya satu meminta tolong pada Fahrul.


" Mana Fahrul ?"


" Ada di belakang, Rul ada yang cari ini." Teriak salah seorang yang ada di situ.


Fahrul muncul dan menghampiri.


" Siapa yang mencariku ?"


"Aku Rul, bisa bicara sebentar ?" Sahut Irwan.


" Ayo kita ke belakang."


Irwan pun mengikuti langkah Fahrul, mereka sudah ada di sebuah ruangan yang letaknya di belakang kantin kampus lalu keduanya duduk berhadapan.


" Ada apa Wan, tumben kamu mencariku ?"


" Tolong aku Rul, anak dan ayahku sekarang fi rumah sakit keduanya sedang di rawat."


" Maksudnya ?"


" Kumohon bantu aku, beri pinjaman uang kondisi ayahku cukup memprihatinkan sekarang."


Fahrul diam dan tampak berpikir, batinnya berperang antara iba dan ragu sebab baru kali ini Irwan meminjam uang padanya.


Irwan meraih tangan Fahrul dengan wajah memelas, taka ada jalan lain dia harus meyakinkan sahabatnya.


" Kumohon Rul, percayalah akan aku kembalikan nanti kalau kondisi ayahku sudah membaik."


" Baiklah Wan aku percaya padamu, tapi tolong jaga kepercayaanku karena aku juga harus meminta izin pada istriku."


Irwan mengangguk, perasaan lega bercampur sedih membaur menjadi satu. Lega keran dia sudah mendapat pinjaman uang dan sedihnya dia justru meminjam uang dari orang lain, seharusnya keluarga lah yang membantunya.


" Ayo Wan ikut aku, kita ke rumah dan meminta izin istriku."


Setelah berhasil mendapat pinjaman uang, Irwan kembali ke rumah sakit menemui ibunya dan menyerahkan uang tersebut.


Tanpa banyak bertanya bu Mini menerima uang itu dan memasukkan ke dalam dompetnya, kemudian Irwan pamit pada ibunya lalu berjalan menuju ruangan Emir di rawat.


Dia masuk ke dalam dan di sambut istrinya, Novia ingin menyampaikan keinginannya pulang sore ini juga.


Irwan duduk di ranjang, di sebelahnya Emir tertidur pulas dan sama sekali tidak terusik dengan kehadiran ayahnya.


" Wan, tadi aku sudah bicara sama dokter Emir sudah di izinkan pulang hari ini."


" Apa kondisinya sudah stabil ?"


" Iya tentu saja, makanya dokter membolehkan kita pulang."


" Oh pantas saja semua barang sudah kamu bereskan."


" Hehe iya, aku sudah tidak sabar pulang dan mandi sepuasnya di rumah."


" Hmm baiklah, semua administrasi sudah di selesaikan ?"


" Sudah, dan sekarang kita boleh pulang."


" Kamu tunggu di sini, aku pamit dulu sama mama."


" Oke."


Irwan pergi menemui ibunya dan berpamitan, bu Mini kaget saat Irwan mengatakan kalau mereka akan pulang, sejak beberapa hari di rumah sakit bu Mini tak pernah sekalipun berkunjung ke ruangan cucunya aneh memang dengan sikapnya.


Setelah berpamitan, Irwan membawa anak dan istrinya pulang ke rumah. Mereka di sambut dengan keceriahan kedua putrinya yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu.


" Papa, mama, dedek Emir sudah pulang horee !!"


" Iya dedek sudah sembuh, sini temani dedek mama mau mandi dulu."

__ADS_1


" Vi, sepertinya aku belum bisa menemani kalian di sini aku harus balik ke rumah sakit."


" Iya, ada mama dan papa di rumah dan juga Emir kan sudah sembuh pergilah temani mereka di sana." Jawab Novia.


Irwan pun kembali ke rumah sakit, hingga malam dia belum juga pulang dan Novia memakluminya karena tahu Irwan pasti di butuhkan disana.


Keesokan harinya di rumah sakit...


" Wan, papa memaksa pulang."


" Kenapa ?"


" Katanya ingin istirahat di rumah."


" Tapi kan papa masih lemas mah, dan pasti dokter juga tidak membolehkan."


" Sudah Wan, turuti saja keinginannya." Balas bu Mini pasrah.


Mereka akhirnya pulang dengan menanda tangani surat perjanjian jika terjadi sesuatu di luar tanggung jawab pihak rumah sakit.


Tiba di rumah, Pak Ahmad meminta Irwan tetap berangkat kerja padahal hari sudah siang.


" Wan, pergilah kerja kasihan anakmu juga butuh susu."


" Pah, sekarang hampir jam sebelas aku juga mau istirahat dulu."


Pak Ahmad tetap memaksa dan akhirnya Irwan pun mengalah lalu pergi meninggalkan kediaman orang tuanya.


Malam harinya saat Irwan pulang, dia mendapati ayahnya berbaring di ruang keluarga. Pak Ahmad tampak lebih segar dari biasanya.


Irwan menghampiri ayahnya dan ikut berbaring di sebelahnya, tapi pak Ahmad mendorong Irwan dan memintanya bangun.


" Wan, tolong pijat punggung papa."


Irwan pun memijat punggung ayahnya yang sedang berbaring, pak Ahmad terus berbicara sambil membelakangi anaknya.


" Susu untuk anakmu sudah kamu beli Wan ?"


" Iya pah."


" Malam ini kamu pulang saja, antarkan susu anakmu papa juga sudah membaik."


" Tapi aku masih ingin menemani papa di sini."


" Anakmu butuh susu, ada mama yang menemani papa di sini kamu pulang saja."


Bu Mini mengedipkan mata pada Irwan, sebagai tanda agar Irwan menuruti permintaan papanya.


" Baiklah, aku pergi sekarang jangan lupa obatnya di minum ya pah."


" Hmm." Balas pak Ahmad masih membelakangi Irwan, dan Irwan pun meninggalkan kediaman orang tuanya.


Sampai di rumah, Irwan masuk ke kamar tampak Novia kewalahan membujuk Adiba yang terus menangis.


Novia melirik jam di atas nakas, sudah jam dua belas tapi Adiba belum menunjukkan tanda akan berhenti menangis.


Sepanjang malam Adiba rewel, Novia dan Irwan sampai kebingungan di buatnya.


Barulah menjelang pagi anak itu diam dan tertidur karena kelelahan, Irwan bergegas mandi rencananya pagi ini dia akan singgah lagi ke rumah orang tuanya.


Setelah selesai mandi dia sarapan dan pamit pada istrinya, lalu berjalan keluar menuju garasi. Dia masuk ke dalam mobil menyalakan mesin berlalu meninggalkan rumah mertuanya.


Dari kejauhan Irwan melihat orang-orang berlarian ke arah rumah orang tuanya, hatinya bertanya-tanya ada apa dan apa yang terjadi.


Irwan melajukan mobil kemudian masuk dan memarkir mobil di halaman, sebelum turun dia bertanya pada seseorang yang ada di situ.


" Apa yang terjadi, kenapa ramai begini ?"


" Papamu baru saja meninggal."


Duaaarrrr...

__ADS_1


Jantung Irwan seperti mau lepas, pandangannya serasa gelap mendengar ucapan orang tersebut.


__ADS_2