Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Hargai Aku


__ADS_3

Part 71


Kedua pasangan itu pergi memenuhi janji menemui Fahrul, Novia membawa sejumlah uang yang diminta Fahrul.


Novia menitipkan anak-anaknya pada orang tuanya, alasan Novia keluar dia mau ke Mini Market membeli kebutuhan anak-anaknya.


Tiba di kantin kampus, Irwan menghentikan mobilnya tepat di depan kantin Fahrul sudah ada di sana berdiri di samping mobilnya.


"Halo, bro, apa kabar," sapa Fahrul ketika Irwan dan istrinya turun dari mobil.


"Baik, lama kita tidak ketemu," balas Irwan sambil berjalan ke arah Fahrul.


"Kamu yang menghilang, sampai aku harus datang ke rumahmu."


"Hehehe, maaf bro sudah merepotkan." Irwan terkekeh dan menggaruk tengkuknya.


"Kita masuk ke dalam, tidak enak bicara di sini." Fahrul mengajak Irwan dan istrinya masuk ke ruangan belakang kantin.


Irwan dan Novia mengikuti langkah Fahrul, mereka bertiga sudah ada di dalam ruangan.


"Silahkan duduk," Ucap Fahrul.


Di dalam ruangan itu tersedia bangku, meja, dan satu kasur lipat yang dipakai untuk berisrirahat kala sopir mampir ke situ.


Novia mengeluarkan amplop dari dalam tasnya lalu meletakkan ke atas meja, Fahrul menatap ke arah pasangan itu dan tersenyum.


"Dalam amplop itu isinya uang, jumlahnya sesuai permintaanmu silahkan hitung lagi," ujar Irwan


Fahrul meraih amplop itu membukanya dan menghitung uang dari dalam amplop, senyum Fahrul mengembang kemudian memasukkan kembali uang yang telah dihitung.


"Jumlahnya cukup, terima kasih bro." Fahrul menepuk bahu Irwan di sebelahnya.


"Kami yang seharusnya berterima kasih, sekaligus meminta maaf karena lama mengembalikan uangmu," ujar Irwan.


"Seandainya aku belum butuh aku akan menunggu hehe."


"Baiklah, urusan kita sudah selesai kami pamit." Kedua pasangan itu beranjak lalu berbalik melangkah keluar menuju mobil mereka.


Fahrul menyusul pasangan itu, mengantar keduanya sampai di depan. Irwan dan istrinya naik ke dalam mobil menyalakan mesin. Fahrul melambaikan tangan lalu mobil Irwan bergerak melaju memecah jalanan kampus.


"Mau langsung pulang atau makan dulu?" tanya Irwan.


"Langsung pulang ke rumah, kasihan mama mengurus anak-anak." Novia tidak pernah betah berlama-lama ketika di luar rumah, pikirannya selalu saja tertuju pada anak dan orqng tuanya.


"Hmm, baiklah kita pulang sekarang." Irwan menginjak pedal gas, mobilpun melesat mengantar pasangan suami istri itu kembali ke rumah.


Irwan memarkir mobil di garasi, Novia dan suaminya turun berjalan masuk.

__ADS_1


"Belanjaanmu mana? Tadi katanya mau ke Mini Market," tanya Bu Ratih saat melihat Novia datang tanpa membawa apa-apa.


Novia berhenti sebentar menjawab pertanyaan ibunya, "tidak jadi mah, kami hanya mengurus pajak mobil." Novia berbohong untuk menutupi masalah.


"Anak-anak mana mah?" Novia mengalihkan pembicaraan agar ibunya berhenti bertanya.


"Di dalam lagi nonton TV."


Novia kemudian berbalik masuk menemui anak-anaknya, "mama pulaang!" teriaknya. Ketiga anak tersebut menoleh lalu berlari menghambur ke pelukan Novia.


"Papa mana?" si sulung bertanya.


"Papa sudah ada di kamar, kalian tidak melihat papa masuk?"


Kedua anak perempuannya menggeleng, rupanya mereka tak menyadari saat Irwan melewati mereka ketika sedang menonton.


"Mau ikut mama ke kamar atau mau lanjut nonton?" tawar Novia.


"Kami mau nonton mah," sahut Camillah.


"Ya, sudah, mama masuk dulu." Novia beranjak masuk ke dalam kamarnya, di kamar sudah ada Irwan berbaring.


Novia melepas pakaiannya lalu mengganti dengan pakaian rumahan, kemudian dia menyusul suaminya naik ke atas ranjang.


Novia duduk di kepala ranjang, ingin mengutarakan sesuatu oada suaminya yang terus mengganjal di hati.


Irwan berbalik menghadap istrinya, "bicaralah."


"Bisakah, sedikit saja kamu menghargaiku." Novia menatap wajah suaminya.


"Maksudnya?" Irwan bingung dengan perkataan istrinya yang tiba-tiba meminta dihargai.


"Ya, tolong hargai aku selama ini kamu selalu bertindak sesuka hati tanpa memberitahu padaku."


"Sejatinya pasangan suami istri itu saling berkomunikasi jika ada sesuatu, tapi kamu lebih suka jalan sendiri dan pada akhirnya aku juga yang harus turun tangan menghadapinya."


Dari penjelasan panjang Novia, barulah Irwan mengerti maksud pembicaraan istrinya.


Irwan bangun, duduk bersila menghadap istrinya dan meluruskan apa yang ada dalam pikiran Novia.


"Maaf Vi, aku tahu aku memang salah karena tidak memberitahumu sebelumnya. Tapi waktu itu kondisinya sangat mendesak," ujar Irwan.


"Kamu bisa mengatakan padaku setelahnya, bulan malah menyembunyikan dariku," balas Novia tak mau kalah.


"Iya, aku minta maaf dan mengaku salah." Irwan tak lagi membantah karena akan membuat masalah menjadi panjang.


"Selalu saja bagitu, menyudahi pembicaraan tanpa solusi dan kejelasan," gumam Novia dan masih bisa didengar Irwan.

__ADS_1


Irwan tak mau menanggapinya, menghindar adalah solusi terbaik.


"Aku mau mandi." Irwan beranjak turun dari ranjang lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


Novia menghembuskan napasnya kasar, rasanya masih banyak yang belum dia sampaikan tapi Irwan sudah meninggalkannya.


"Huuufh menyebalkan," gerutu Novia dan langsung berbaring hingga terlelap.


Irwan keluar dari kamar mandi, pandangannya tertuju pada Novia yang tampak tidur di atas ranjang.


Irwan mengambil pakaian bersih dari dalam lemari dan memakainya, pandnagannya kembali tertuju pada Novia.


"Kamu sudah terlalu banyak berkorban, maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu," batin Irwan.


Tak ingin hanyut dalam perasaannya, Irwan keluar dari kamar menemui kedua putrinya dan mengajaknya bermain sedangkan putranya Emir tertidur di samping ayah mertunya.


"Ayo, ikut papa, kita beli ice cream," ajaknya


"Yeeiiih, ice cream," sorak kedua anak perempuan itu kegirangan lalu mengikuti langkah ayahnya keluar.


Irwan membawa keduanya berkeliling naik mobil, sesuatu yang jarang dia lakukan karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.


"Papaa, Diba mau ituu!" tunjuknya pada sebuah balon gas yang berbentuk ikan.


"Jangan Diba, papa tidak punya uang," timpal Camillah pada adiknya.


Irwan menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah kedua anaknya, pemandangan lucu baginya.


Irwan menepi dan menghentikan mobilnya, "Sudah, jangan bertengkar. Diba mau yang mana?"


"Ituu, ikan papa," tunjuknya lagi.


"Kakak juga mau, hmm?" tanya Irwan pada si sulung Camillah.


Camillah menggeleng, "tidak pah, Millah sudah besar itu mainan anak kecil."


"Hehehe, tunggu di sini ya papa mau mengambil balonnya." Irwan terkekeh mendengar jawaban Camillah layaknya anak gadis yang sudah dewasa.


Tak lama, Irwan datang membawa sebuah balon, ice cream, dan sekotak pinsil warna.


Irwan naik ke dalam mobil, kemudian menyerahkan balon pada Adiba, "Ini pinsil warna untuk kakak, ice creamnya dibagi ya sama adikmu."


Camillah tersenyum sumringah, "terima kasih papa."


Spontan gadis kecil itu memeluk dan mencium ayahnya, Irwan terkejut sekaligus terharu dengan perlakuan anaknya.


"Novia mendidik kalian dengan baik, terima kasih istriku."

__ADS_1


Mata Irwan berkaca-kaca, tapi dia berusaha menyembunyikan agar kedua anaknya tak melihat. Irwan menyalakan mesin mobil dan kembali ke rumah.


__ADS_2