
Part 74
Pelaksanaan lomba tinggal beberapa hari, tapi kostum yang akan dipakai belum siap. Pak Rizal meminta Novia dan Diana datang ke ruangannya.
Keduanya sudah ada di ruangan Pak Rizal, duduk dan diam menunggu Pak Rizal menyelesaikan pekerjaannya.
"Bajunya sudah siap?" Pak Rizal meletakkan polpen dan menutup buku di depannya lalu menatap kedua guru yang duduk di depannya.
"Belum pak," sahut Diana.
"Hari ini, kalian berdua cari tempat penyewaan baju. Oh, ya, Bu Novia apa sudah ditanyakan pada kakaknya?" tanya Pak Rizal pada Novia.
"Sudah pak," jawab Novia.
Diana melirik Novia, hatinya seperti terbakar mendengar ucapan Pak Rizal.
"Heh, memangnya cuma dia yang punya kenalan?" umpat Diana dalam hati.
"Bu Diana bisa kan menemani Bu Novia?" tanya Pak Rizal membuyarkan lamunan Diana.
"E-eh bisa pak," ucapnya terbata.
"Baiklah, kalian boleh keluar sekarang dan kembali bekerja." Pak Rizal menyudahi perbincangan dan meminta kedua wanita di depannya keluar.
Diana dan Novia keluar dari ruangan Pak Rizal. Namun, sebelum meninggalkan ruang guru Novia meminta Diana duduk dan membicarakan tentang baju yang akan disewa.
"Diana, bisa kita bicara?" ucap Novia sembari menarik kursi lalu duduk.
Diana duduk di depan Novia, "Ada apa?"
"Temani aku bertemu kak Riska, mungkin di sekolah tempatnya mengajar punya baju tari yang bisa disewa."
Novia memang sengaja mengajak Diana, agar dia juga terlibat langsung dan tidak ingin Diana mencurigainya.
"Kapan?" tanya Diana ketus.
"Hari ini sepulang sekolah, bisa?"
Novia tetap menganggapi dengan cara santai, meskipun jawaban Diana kadang terdengar kasar.
"Baiklah, aku masuk dulu ke kelasnya," balas Diana kemudian beranjak dan berjalan keluar meninggalkan Novia.
"Hmmm, sabar Novia temanmu itu memang suka kadang-kadang," batin Novia sambil mengelus dada.
Bel pulang berbunyi, siswa berhamburan keluar kelas Camillah menghampiri ibunya yang sudah menunggu di parkiran.
Camillah sudah di dekat ibunya, Novia bertanya pada anakny, "Millah, mau ikut mama atau mau mama antar pulang?"
"Mama mau kemana?" tanya Camillah.
"Mama ada urusan, kamu mau ikut atau langsung pulang?" tanya Novia lagi memastikan.
"Millah mau pulang mah, lapar," sahutnya.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya." Novia kemudian bergegas menemui Diana dan berpamitan serta meminta Diana menunggunya karena harus mengantar Camillah pulang.
Ibu dan anak itupun meninggalkan area sekolah, motor Novia melaju membelah jalanan. Sampai di depan rumah Novia tidak lagi masuk hanya memberi pesan pada anaknya.
"Millah, bilang sama ina mama lagi ada urusan penting."
__ADS_1
"Iya," sahut Camillah.
"Ya, sudah sana masuk."
Camillah membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah, Novia memandangi anaknya sampai hilang di balik pintu barulah dia memutar balik motornya kembali ke sekolah menjemput Diana.
Dari kejauhan Novia melihat Diana sudah menunggu di depan gerbang duduk di atas motornya.
Novia mendekat dan menghentikan motornya, "kita berangkat sekarang."
"Kamu duluan," balas Diana.
Novia menarik gas motor dan melaju di jalanan, sedangkan Diana mengikuti di belakang.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, keduanya sampai di tempat tujuan. Mereka memarkir motor di depan pos jaga, kemudian Novia menghampiri seorang Satpam yang berjaga.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu bu?" sapa Satpam tersebut sambil menyunggingkan senyum.
"Kami ingin bertemu Bu Riska, beliau ada?" jawab Novia.
"Ada bu, silahkan masuk ke ruangan yang di pojok itu," tunjuknya pada s ruangan yang terletak di sudut gedung.
Pandangan Novia mengikuti arah jari Satpam tersebut, kemudian dia menoleh pada Diana.
"Terima kasih pak, kami permisi masuk ke dalam."
Tanpa menunggu jawaban si Satpam keduanya berjalan kearah ruangan yang dimaksud, tampak di dalam ruangan beberapa orang yang duduk dan sedang berbincang.
"Vi, kamu saja yang masuk aku tunggu di sini," bisik Diana.
"Jangan, sebaiknya kita masuk bersama." Novia menarik tangan Diana.
"Assalamualaikum," ucap Novia dan Diana bersamaan.
"Waalaikumussalam," jawab seorang wanita yang duduk di dekat pintu.
"Silahkan masuk, ada yang bisa dibantu?" tanya wanita itu.
Novia dan Diana masuk, mereka tetap berdiri di tempat sebelum dipersilahkan duduk dan belum menyampaikan maksud dan tujuan mereka.
"Silahkan duduk bu," ucap salah seorang dari mereka yang ada di situ.
"Terima kasih," jawab Diana kemudian keduanya duduk.
"Bu Riska ada?" Novia langsung menanyakan keberadaan kakaknya yang saat itu tidak terlihat di dalam ruangan.
"Oh, masih di kelasnya tunggu ya bu sebentar lagi dia kesini," jawab wanita yang duduk di dekat pintu.
Tak lama Riska muncul di depan pintu, "Nah, ini orangnya yang kalian tunggu," ucap wanita tadi.
Riska menoleh kearah Novia dan Diana, begitupun dengan keduanya. Mereka saling menatap untuk beberapa saat lalu saling melempar senyum.
Riska menghampiri adiknya, "apa kabar dek, tumben mencari kakak kesini."
"Baik kak, ada perlu dan meminta bantuan sama kakak," jawab Novia.
Riska menarik sebuah kursi, duduk menghadap pada Novia dan Diana.
"Ada apa?" tanya Riska sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
__ADS_1
"Kak, sekolah ini punya baju tari?" tanya Novia tanpa berbasa-basi.
"Hmm, sebentar kakak tanya dulu pada kepala sekolah kalian tunggu sebentar." Riska beranjak lalu berjalan masuk ke ruang kepala sekolah.
Lima menit kemudian, Riska keluar dan menghampiri adiknya.
"Ada Vi, tapi harus disewa kata kepala sekolah," ucap Riska sedikit berbisik.
"Iya kak, kami kesini memang berniat mau menyewa," balas Novia.
"Berapa sepasang kak?" tanya Diana
"Sepasang lima puluh ribu, lengkap dengan aksesorisnya," jawab Riska.
Novia dan Diana saling pandang, Diana kemudian meminta pada Riska untuk melihat contoh bajunya.
Setelah melihat penampakan baju tersebut sepertinya Diana setuju dan menyukainya.
"Bajunya bagus Vi, kita ambil lima pasang jadi totalnya dua ratus lima puluh ribu," ucap Diana
"Nanti kamu yang menyampaikan pada Pak Rizal, " balas Novia.
"Iya," sahut Diana.
"Kak, bisakah bajunya kami bawa sekarang?" tawar Novia.
"Bisa, nanti uang sewanya kamu serahkan sama kakak," jawab Riska.
"Kalian tunggu di sini, kakak ambil yang lainnya." Riska masuk kembali ke ruang kepala sekolah karena baju tersebut di simpan di dalam ruangan tersebut.
Kostum tari sudah ada di tangan Diana dan Novia, keduanya pun berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.
Diana menyerahkan baju dan aksesoris pada Novia, karena jarak rumah Novia dengan sekolah lebih dekat dari pada Diana.
Keesokkan harinya, Novia berangkat ke sekolah dia meminta tolong pada suaminya untuk membawa baju tari ke sekolah karena dia sedikit kesulitan membawanya sambil membonceng Camillah.
Tiba di sekolah Novia masuk ke ruang guru, di dalam teman-temannya sudah berkumpul dan membicarakan mengenai sewa baju tersebut.
"Bu Novia silahkan masuk, kami sedang membahas mengenai biaya sewa bajunya." Pak Rizal menjelaskan kembali hasil pembicaraan mereka sebelum Novia datang.
"Saya sudah mendengar dari Bu Diana, bahwa biaya sewanya lima puluh ribu sepasang. Uangnya akan saya serahkan pada Bu Novia dan nanti Bu Novia yang melanjutkan pada kakaknya," lanjut Pak Rizal.
Pak Rizal kemudian merogoh dompet di kantong celananya, mengambil berapa lembar uang dab menyerahkan pada Novia.
Melihat itu, Diana langsung berkata, "Nanti, tolong bapak sampaikan lagi pada Bu Riska kalau uangnya sudah ada di tangan Bu Novia."
Novia menoleh pada Diana, wajahnya memerah dan tangannya mengepal menahan marah. Diana sudah mencurigainya bahkan berkata langsung di depan Novia.
"Keterlaluan kamu Diana, ternyata hatimu busuk," batin Novia.
"Maaf pak, mungkin sebaiknya bapak langsung yang menyerahkan uangnya pada kak Riska saya belum punya waktu untuk bertemu dia," ucap Novia.
Penolakan halus dari Novia menutupi rasa sakit hatinya, Diana sengaja mempermalukan dia di depan teman-teman dan juga atasannya.
Novia menyerahkan kembali uang tersebut pada Pak Rizal, terlalu sakit rasanya dicurigai menyalahgunakan uang yang jelas-jelas dipakai untuk menyewa baju.
"Diana, benar kata Putra kamu memang munafik dan ular berbisa."
Novia beranjak dari tempat duduknya, berlalu meninggalkan ruang guru dan masuk ke kelasnya.
__ADS_1