
Part 82
Sejak kejadian perkelahian itu, Irwan belum berani pulang ke rumah mertuanya dan lebih memilih tinggal bersama ibunya.
Pak Wahyu dan Bu Ratih juga tak mau bertanya perihal Irwan pada Novia, sebab mereka tahu kalau mereka sedang bertengkar.
Jumat sore ....
Saat Novia dan orang tuanya duduk dan berbincang di teras rumah, Pak Wahyu meminta Novia ke rumah kakaknya dan menyuruh mereka datang.
"Vi, besok kamu ke rumah kakak-kakakmu katakan pada mereka papa meminta mereka datang ada yang ingin papa bicarakan," ucap Pak Wahyu.
"Iya, kapan mereka disuruh kesini?" tanya Novia
"Besok sore, minggu pagi mereka bisa pulang," jawab Pak Wahyu.
Besok paginya, sebelum ke sekolah Novia lebih dulu mendatangi rumah kakaknya menyampaikan pesan ayahnya setelah itu baru dia kembali ke sekolah.
Sabtu siang, anak-anak Pak Wahyu sudah berkumpul Bu Ratih dan Novia menyiapkan cemilan dan buah segar menjadi hidangan saat berkumpul nanti.
Riska masuk ke dapur menemui adik dan ibunya, tampak beberapa jenis makanan kecil tersedia di meja.
"Wah, sepertinya pertemuan sore ini penting sampai harus menyiapkan banyak makanan," ucap Riska
"Mama cuma rindu, sudah lama kita tidak berkumpul dan makan bersama," balas Bu Ratih
"Kira-kira apa yang akan dibicarakan nanti?" tanya Riska lagi.
"Mama juga belum tahu, papa yang merencanakan pertemuan ini."
Keluarga Pak Wahyu sudah berkumpul di ruang tengah, Bu Ratih duduk mendampingi suaminya.
"Karena kalian sudah berkumpul semua, Papa mulai saja," ucap Pak Wahyu
"Sengaja papa memanggil kalian kesini, karena ada hal penting yang akan papa sampaikan."
"Mengingat usia papa sudah lanjut, maka papa memutuskan untuk membagi harta pada kalian," lanjut Pak Wahyu.
"Pah, kalau di bagi sekarang bukan warisan namanya tapi hibah." Bu Ratih mengoreksi ucapan suaminya.
"Iya, papa tahu. Apapun bentuknya hibah ataupun hadiah papa akan membagikannya sekarang."
Novia dan keempat saudara hanya menyimak, sebab mereka juga belum mengetahui maksud dan tujuan ayah mereka yang tiba-tiba ingin membagikan hartanya.
"Untuk anak lelaki, kalian masing-masing mendapat dua bidang tanah sedangkan yang perempuan sebidang tanah."
"Rumah ini milik siapa?" celetuk Riska.
"Rumah ini rencananya akan papa serahkan untuk kakakmu Randi," sahut Pak Wahyu.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kalian setuju?"
"Iya, kami setuju."
"Boleh aku bicara?" ucap Randi
Semua pandangan mereka yang hadir tertuju pada Randi, menunggu apa yang akan dia katakan.
"Iya, boleh," sahut Pak Wahyu.
"Terima kasih, papa dan mama sudah menyerahkan rumah ini untuk aku dan dengan senang hati aku menerima pemberian papa dan mama." Sejenak Randi diam mengatur napasnya dan melanjutkan perkataannya.
"Bolehkah aku serahkan rumah ini pada Novia?"
"Apa alasanmu? kami ingin mendengarnya," tanya Pak Wahyu.
"Alasan pertama, Novia belum memiliki rumah, alasan kedua selama ini dia yang menemani mama dan papa tinggal di sini dan alasan ketiga, aku percayakan pada Novia untuk merawat dan mengurus mama dan papa."
Pak Wahyu dan Bu Ratih terharu mendengar alasan yang disampaikan Randi, karena bagaimana pun mereka ingin ada anak yang menemani masa tua mereka.
"Apa kalian setuju dengan usulanku?" Randi menoleh pada adik-adiknya.
"Iya, kami setuju dengan keputusan kak Randi."
"Alhamdulillah, terima kasih atas pengertian kalian." Randi berucap syukur.
Pak Wahyu mengalihkan pandangannya pada Novia, sebelum menentukan keputusan tentunya dia harus bertanya pada Novia.
"Iya, aku terima dan setuju," jawab Novia.
"Alhamdulillah, akhirnya papa lega."
Lain halnya dengan Bu Ratih, tiba-tiba dadanya terasa sesak ada rasa was-was dan takut kehilangan suaminya.
Pak Wahyu melihat perubahan pada wajah istrinya, kemudian dia mengusap bahu istrinya.
"Mama kenapa? seperti orang yang gelisah," tanya Pak Wahyu.
"Tidak apa-apa, mama cuma mendadak pusing," jawab Bu Ratih.
"Vi, antar mama ke kamar," ucap Pak Wahyu pada Novia.
Novia beranjak dari duduknya lalu menghampiri, kemudian memapah ibunya masuk ke dalam kamar.
Bu Ratih sudah ada di dalam kamar dan duduk di atas ranjang, Novia berbalik hendak keluar namun, Bu Ratih menahannya.
"Vi, mama takut," ucap Bu Ratih lirih.
"Takut kenapa mah? mama sakit?" tanya Novia sembari meraba kening ibunya.
__ADS_1
"Mama takut terjadi sesuatu." suara Bu Ratih seakan tercekat di tenggorokannya.
Novia lalu duduk di sebelah ibunya, tangannya memgelus lembut punggung ibunya.
"Mah, jangan berpikir yang aneh-aneh lebih baik mama berdzikir dan berdoa," ucap Novia menenangkan ibunya.
"Ayo, mama berbaring nanti aku temani disini."
Bu Ratih pun berbaring dan membelakangi Novia, sementara Novia terus mengelus punggung ibunya hingga terlelap.
Setelah Bu Ratih terlelap, Novia keluar dan kembali bergabung bersama yang lainnya.
"Kenapa lama?" tanya Riska.
"Mama minta dipijat punggungnya," balas Novia.
Pembicaraan mereka mengalir dan lebih santai dari sebelumnya, bercanda sambil menikmati makanan yang tersedia hingga menjelang maghrib mereka membubarkan diri dan bersiap melaksanakan shalat maghrib.
Pak Wahyu masuk ke dalam kamar, mendengar suara suaminya di kamar Bu Ratih langsung bangun.
"Pah, kenapa tidak membicarakan lebih dulu pada mama rencana papa?"
"Hehe, papa minta maaf ide itu muncul tiba-tiba saja mah," jawab Pak Wahyu terkekeh
"Alasannya apa? lalu kenapa pula muncul tiba-tiba idenya?" tanya Bu Ratih
"Mah, kita sudah tua dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, makanya papa sudah menyiapkan semuanya termasuk membagi harta milik kita pada anak-anak." Pak Wahyu menyampaikan alasannya.
Bu Ratih tak menjawab hanya menghela napasnya, benar apa yang dikatakan suaminya.
"Satu kesyukuran papa, anak kita tidak mau meributkan masalah harta bahkan dengan senang hati saling berbagi," lanjut Pak Wahyu
"Iya, walaupun Riska suka protes tapi saat Randi bicara dia juga ikut setuju pah," jawab Bu Ratih.
"Semoga seterusnya mereka akan seperti itu, saat kita sudah tidak ada lagi mah,"
"Pah, jangan bicara seperti itu mama tidak suka mendengarnya."
Bu Ratih protes, ucapan Pak wahyu seperti sebuah kata selamat tinggal.
"Ayo, shalat dulu mah." Pak Wahyu mengalihkan pembicaraan dan mengajak istrinya shalat.
Malam harinya mereka berkumpul kembali dan makan malam bersama, hanya Irwan yang tidak hadir.
Riska yang duduk di samping Novia berbisik, "Vi, suamimu kemana?"
Novia berhenti mengunyah, makanan di mulutnya seperti tak bisa ditelan setelah mendengar pertanyaan Riska.
"Tadi pagi dia pamit, malam ini dia tidak bisa pulang karena mengantar penumpang keluar kota."
__ADS_1
Kalimat itu muncul begitu saja dari bibir Novia, untungnya Riska percaya dan tidak melanjutkan pertanyaannya.
Selesai makan, mereka masuk ke kamar masing-masing sama halnya dengan Novia dan ketiga anaknya yang memilih masuk ke kamarnya untuk meghindari pertanyaan dari saudara-saudaranya.