
Part 58
" Hiks..hiks Pah bagaimana anak kita, dia harus di rawat di rumah sakit."
Bu Ratih sesegukan dan memaksa suaminya membawa Novia ke rumah sakit, Kondisinya memang memprihatinkan tekanan darahnya naik turun dan belum stabil.
" Kita bicarakan sama Irwan, di mana dia ?"
" Irwan di belakang pah, membuang kasur yang terkena darah."
" Siapa yang menemani Novia di kamar ?"
" Bidan pah, dia masih terus memantau kondisi Novia."
Irwan muncul dari dapur dan bertemu mertuanya di ruang keluarga, pak Wahyu mengajaknya duduk membicarakan masalah Novia.
" Wan kita bawa Novia ke rumah sakit, bagaimana menurutmu ?"
" Kalau aku setuju pah, di rumah penanganan kurang."
" Baiklah, siapkan semua kebutuhan Novia kita bawa dia."
" Anak-anak bagaimana pah ?" Bu Ratih menimpali.
" Untuk sementara kita yang mengurus, biar Irwan yang menemani Novia di rumah sakit."
Mereka pun sepakat, bu Ratih menyiapkan segala sesuatu yang akan di bawa sedangkan Irwan masuk ke kamar. Dia menghampiri Novia di ranjang.
" Vi, kamu bisa mendengarku ? Kita ke rumah sakit ya."
Novia menggeleng lemah, dia membuka mata dan menatap suaminya.
" Aku di rawat di sini saja."
" Vi, kondisimu sangat lemah, tekanan darahmu juga belum stabil aku takut, jangan pikirkan anak-anak ada mama dan papa disini yang akan mengurus mereka."
Novia menggeleng lagi, sorot matanya mengiba dan memohon agar dia tetap di rumah bersama anak-anaknya.
Irwan menoleh pada bidan yang duduk di samping ranjang, berharap bidan tersebut juga bisa memberi pengertian pada Novia dan untungnya bidan paham maksud Irwan.
" Bu, benar kata suaminya memang sebaiknya ibu di rawat di rumah sakit agar mendapat perawatan intensif."
Novia memalingkan wajah.
" *Kenapa kalian semua tidak mengerti dengan perasaanku, atau kalian enggan merawatku di sini* ?"
Sekelebat pikiran itu muncul di benak Novia, air matanya menetes dia tak ingin berpisah dari anak-anaknya bagaimana pun kondisinya.
Irwan menyerah, dia keluar dan meminta mertuanya masuk dan membujuk anak mereka.
Pak Wahyu dan bu Ratih masuk di susul Irwan dari belakang, mereka berusaha menbujuk tapi Novia tetap dengan pendiriannya.
" Maaf pak, kalau memang bu Novia tetap menolak saya akan coba membantu meminta tolong pada dokter di puskesmas untuk memantau keadaan bu Novia di rumah."
__ADS_1
" Apa bisa seperti itu ?"
" Bisa pak, tapi bayarnya di luar Askes pak karena pelayanannya di rumah."
" Oh tidak masalah, asalkan anak kami bisa mendapatkan perawatan yang memadai."
" Iya, saya juga akan tetap mendampingi dokter."
" Baiklah, terima kasih bu bidan atas bantuannya."
" Iya sama-sama pak, kalau begitu biarkan bu Novia istirahat dulu agar pikirannya sedikit tenang."
Mereka semua keluar dari kamar, hanya Irwan yang tetap tinggal menemani istrinya di dalam. Bu Ratih mengurus kedua anak Novia yang sudah bangun.
" Pah, tolong antar Camillah ke sekolah sekalian papa antar bu bidan pulang."
Hingga satu minggu Novia mendapatkan perawatan khusus dari dokter dan bidan di rumah, Kondisinya pun berangsur membaik dan Irwan memutuskan mulai bekerja.
Pagi ini Irwan sengaja singgah ke rumah orang tuanya, dia ingin melihat keadaan ayahnya yang hampir seminggu tak di lihatnya. Baru saja dia masuk bu Mini langsung menghujaninya dengan perkataan kasar.
" Bagus kamu, seenak hati libur bekerja layaknya mobil sendiri."
" Novia habis lahiran mah." Sahutny.
" Apa hubungannya denganmu yang libur kerja ?"
" Mah, Novia itu istriku dan anak yang dia lahirkan itu anakku."
" Harusnya mama bertanya bagaimana keadaan anak dan istriku bukan malah mengataiku seperti ini." Irwan mulai terpancing emosi ibunya sudah sangat keterlaluan.
Tanpa menunggu jawaban, Irwan langsung berbalik dan meninggalkan ibunya begitu saja.
" Begitu bencinya mama pada istriku, padahal selama ini Novia tak pernah berbuat macam-macam justru sebaliknya aku yang sering menyakitinya."
Irwan membanting pintu mobil meluapkan kekesalannya, dia sudah kehabisan cara memperbaiki hubungan ibu dan istrinya yang dia sendiri juga bingung penyebabnya apa.
Sepanjang jalan Irwan terus terbayang ucapan ibunya, dan sepertinya dia kehilangat semangat untuk kerja akhirnya dia memutar balik arah mobil kembali ke rumah mertuanya.
Entah kenapa, tempat ternyaman bagi Irwan sekarang adalah rumah mertuanya. Dia selalu di perlakukan dengan baik oleh orang tua Novia hingga membuatnya merasa di hargai.
Saat tiba di rumah, Bu Ratih yang duduk di teras menatap heran pada menantunya.
" Lah, bukannya tadi kamu sudah berangkat kerja kenapa balik lagi ada yang ketinggalan ?"
" Tidak ada mah, cuma merasa kurang enak badan." Sahut Irwan.
" Oh, ya sudah masuklah dan istirahat.
Irwan masuk ke kamar, pertanyaan yang sama dari Novia karena merasa heran dengan Suaminya.
" Kenapa balik lagi ?"
" Kelapaku sakit Vi, aku mau tidur."
__ADS_1
Novia tak lagi bertanya, dia membiarkan suaminya tidur mungkin ada masalah yang dia pikirkan dan pasti Irwan akan menceritakannya nanti.
Empat bulan berlalu...
Sejak pertengkaran dengan ibunya, Irwan tetap bekerja seperti biasa tapi dia selalu menghindari komunikasi dengan ibunya. Hanya sekedar singgah dan memberi uang setoran pada ayahnya kemudian langsung pulang.
Malam ini Irwan pulang hampir jam delapan, sampai di rumah Novia menghampiri menawarinya makan dan melaporkan kalau si bungsu sakit.
" Wan Emir sakit, badannya panas dan juga diare."
" Sudah di bawa ke dokter ?"
" Belum."
" Kalau diare harusnya cepat di bawa ke dokter nanti anakmu dehidrasi Vi."
Novia tertunduk, tiba-tiba air matanya meleleh jatuh sedih mengingat anak lelakinya sampai usia empat bulan belum sekalipun di tengok orang tua Irwan.
" Kenapa ?"
" Cuma sedih, sudahlah jangan dipikirkan lebih baik kita masuk ke kamar."
Novia masuk dan Irwan mengikuti istrinya, kedua anak perempuannya sudah terlelap di atas ranjang.
" Tumben anak-anak cepat tidur."
" Kecapean, mainnya kejar-kejaran akhirnya tepar sendiri."
Irwan mendekat dan naik ke atas ranjang, dia menyentuh kening putranya lalu menatap Novia di sampingnya.
" Panas Vi."
" Iya, untungnya anak ini tidak rewel hanya sesekali di gendong."
" Sudah di kasih obat ?"
" Sudah, barusan minum obat penurun panas papa tadi yang beli ke apotek."
Irwan turun dari tempat tidur lalu duduk di lantai dan meminta Novia duduk di sebelahnya.
" Vi, aku minta maaf ?"
Novia memiringkan wajah menatap heran pada suaminya.
" Minta maaf untuk apa ?"
" Jujur aku malu, sampai hari ini orang tuaku belum datang menengok Emir."
Novia tersenyum tipis, sekarang dia mulai memahami kenapa suaminya tak pernah lagi mau membahas mengenai orang tuanya mungkin dia kecewa.
" Sudahlah Wan, tidak ada yang harus di maafkan toh anak-anak juga baik-baik saja di sini. Ada tata dan inanya yang selalu memberi perhatian lebih."
" Fokus saja bekerja, tidak semua yang kita inginkan bisa jadi kenyataan orang tuamu mungkin punya alasan sendiri sehingga tidak mau datang kesini."
__ADS_1
Irwan menghembuskan napas kasar, seandainya Noviq tahu semua perkataan dan ucapan ibunya yang penuh umpatan mungkin Novia akan semakin sedih.