Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Ingkar Janji 2


__ADS_3

Part 56


Novia membuka mata, rasanya belum lama dia terpejam semalaman dia begadang memikirkan bagaimana cara menagih janji mertuanya.


Sembari menunggu suaminya bangun, dia memilih mandi dan shalat subuh, kemudian menyiapkan sarapan kali ini dia hanya membuat bubur ayam.


Setelah selesai memasak bubur ayam Novia kembali ke kamar untuk membangunkan suami dan anak-anaknya.


Irwan bangun dan membuka matanya, dia melihat istrinya duduk di ranjang yang juga melihat kearahnya Novia turun ke lantai dan duduk di sebelah suaminya yang masih berbaring.


" Wan, emm...eemmm."


" Kenapa ?"


" Uang yang mama pinjam kapan ya di kembalikan ?"


Irwan mengusap wajahnya, dia bingung harus menjawab apa sementara ibunya belum memberi kabar padanya.


" Kenapa diam ? Bukannya mama dulu berjanji dan meminta waktu enam bulan."


" Mama belum memberiku kabar Vi, nanti aku tanya ya."


" Iya, aku harap kamu bisa ikut bertanggung jawab atas uang itu karena kamu tahu kan kita lagi butuh uang."


" Iya Vi sabar." Hanya itu yang bisa Irwan ucapkan.


" Baiklah aku mandi dulu." Irwan bangkit berjalan masuk ke kamat mandi.


Novia duduk termangu...


" Perasaanku jadi tidak enak, sepertinya tipis harapan uangku di kembalikan."


Tak lama Irwan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


" Ambilkan bajuku Vi."


Novia bangkit membuka pintu lemari dan mengambil pakaian bersih untuk suaminya, kemudian dia membangunkan anaknya Camillah dan menyuruhnya mandi sedangkan Novia sendiri bergegas mengganti bajunya.


" Ayo kita sarapan, kalian masuk dulu ke ruang makan mama mau panggil tata dan ina di kamar."


Novia mengetuk pintu kamar orang tuanya.


" Mah pah, sarapan dulu nanti buburnya dingin kami tunggu ya."


Pintu kamar di buka, pak Wahyu dan istrinya muncul dari dalam dan menyusul langkah Novia. Mereka sarapan bersama di selingi obrolan ringan.


" Diba masih tidur di kamar, tapi aku sudah siapkan bubur, pampers dan pakaian bersihnya mah."

__ADS_1


" Iya nanti mama yang mengurusnya, bagaimana kehamilanmu sekarang ?"


" Baik mah, tapi sekarang lebih sering kelelahan berbeda jauh dari Millah dan Diba."


" Mungkin jarak kehamilan terlalu dekat, kalau begitu kamu harus rajin memeriksakan kehamilanmu ke dokter."


" Iya mah, nanti kalau ada waktu aku pasti ke dokter."


Selesai sarapan Irwan pamit untuk berangkat, dia mau ke rumah orang tuanya dan menanyakan perihal uang pinjaman itu.


Selang berapa menit Novia dan Camillah juga berangkat ke sekolah, Novia masih mengendarai motor meskipun dalam kondisi hamil besar sebenarnya pak Wahyu tidak mengizinkan tapi dia tetap kekeh ingin naik motor.


Tiba di sekolah seperti biasa Novia masuk ke kelasnya dan melaksanakan tugas seperti hari-hari sebelumnya, Dia mulai mengurangi interaksi dengan teman-teman kerjanya karena Novia merasa sikap mereka mulai berubah padanya.


Sementara di tempat lain, Irwan datang dan menemui ibunya di rumah niatnya akan menanyakan masalah uang Novia.


Irwan dan ibunya sudah berada di ruang tamu, mereka duduk berhadapan Irwan mulai gugup dan was-was ingin bertanya atau membatalkan niatnya, dia berpikir sejenak dan memutuskan untuk bertanya.


" Mah, ee...sekarang sudah masuk bulan ke tujuh janji mama pada Novia bagaimana ?"


" Mama belum punya uang."


" Astaga mah, nanti kalau Novia tanya aku jawab apa ? Waktu yang mama minta juga lumayan lama bahkan sudah melewati batas."


" Lalu kalau mama belum punya, lantas kamu suruh mama jadi maling ?"


" Bukan seperti itu mah, kan mama sendiri yang meminta waktu enam bulan dan sekarang malah sudah lewat waktunya."


Irwan mengusap kasar wajahnya, perdebatan tanpa ujung dan solusi membuatnya pusing dia menarik napas dan perlahan menghembuskannya berusaha tenang dan meredam emosi.


" Mah, memang aku yang menawari mama tapi kan kita juga harus menghargai bantuan Novia mah karena uang itu papa bisa berobat, dan sekarang Novia sudah butuh uangnya untuk persiapan persalinannya nanti."


Irwan sedikit melunak, menghadapi ibunya dengan cara keras rasanya akan sia-sia. Pak Ahmad mendengar pertengkaran anak dan istrinya di luar tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena kondisinya lemah.


" Jadi kesimpulannya bagaimana mah ?"


" Nanti mama pikirkan dan juga mama tidak bisa janji kapan bisa mengembalikan uang itu.


Karena tidak mendapat jawaban yang pasti, Irwan akhirnya pamit dan meninggalkan kediaman orang tuanya dengan perasaan kesal.


Sepanjang perjalanan Irwan terus saja menggerutu, untungnya belum ada seorang pun penumpang yang naik hingga dia leluasa meluapkan kekesalannya sendirian.


" Apa nanti yang akan aku katakan pada Novia, kalau tahu begini jadinya menyesal aku menawari mama uang itu, dan pasti Novia akan menuduhku berbohong."


Sorenya Irwan pulang, Novia menyambut suaminya dengan senyuman sambil menggandeng tangan Irwan masuk ke dalam.


" Mana anak-anak ?"

__ADS_1


" Di kamar mama, habis mandi mama mengajak mereka main di dalam."


" Aku mau mandi Vi, tolong siapkan bajuku."


Novia mengambil handuk dan menyodorkan pada suaminya, kemudian dia mengambil pakaian bersih dari dalam lemari dan meletakkannya di atas kasur.


Sembari menunggu suaminya mandi, Novia duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca Novel kesukaannya.


Tak lama Irwan keluar, lalu memakai baju dan ikut naik ke atas ranjang.


" Wan, kamu sudah bicara sama mama ?"


Pertanyaan yang sebenarnya sangat di hindari Irwan akhirnya meluncur dari bibir Novia.


" Sudah, tapi aku minta kamu jangan marah ya ?"


Novia melihat suaminya mulai risau, tapi dia juga penasaran mendengar kabar dari suaminya.


" Maksudnya ?"


" Iya kamu jangan marah sama aku."


" Wan, jangan bertele-tele langsung saja pada poin nya."


" Aku sudah menanyakan pada mama, dan jawabannya mereka belum punya uang."


" Kenapa bisa begitu Wan, bukannya mama sendiri yang berjanji enam bulan akan mengembalikan uang itu."


" Tapi mereka benar-benar belum punya uang, lalu aku bisa apa ?"


" Astaghfirullah, kenapa jadi begini kamu tahu kan kita juga butuh uang ?"


" Iya, aku minta maaf Vi sudah mengecewakanmu." Irwan tertunduk lesu.


" Kapan mama bisa mengembalikannya ?"


" Aku belum tahu, mama juga tidak mengatakan kapan mereka akan mengembalikan uangmu."


" Bagaimana ini ? Harusnya kamu bertanggung jawab Wan, bukan malah ikut pasrah."


Irwan diam, dia meraih tangan Novia dan menatap wajah istrinya berusaha meyakinkan Novia lewat kontak mata.


" Aku janji akan berusaha meminta mama mengganti uangmu, tolong percaya sama aku dan beri tambahan waktu."


Novia memalingkan wajahnya, memutus kontak mata dengan suaminya kepercayaan yang dia berikan di sia-siakan.


" Orang tuamu memang tidak amanah Wan, bahkan mereka sendiri yang menentukan waktu tapi mereka juga yang mengingkarinya."

__ADS_1


" Wan, aku tidak bisa menjanjikan sesuatu untukmu, hanya saja aku kecewa dengan kalian."


Irwan merasa bersalah, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa satu sisi dia ingin membantu orang tuanya sementara sisi yang lain dia juga ingin menunjukkan tanggung jawab pada istrinya sungguh dilema.


__ADS_2