
Part 76
Sepulang kerja, Novia melihat belum ada tanda-tanda suaminya pulang. Wanita itu duduk di tepi ranjang merenung namun, belum menemukan jawaban kemana suaminya.
Novia bangkit lalu berjalan ke arah lemari mengambil pakaian bersih dari dalam lemari, Novia mengganti pakaian kerjanya dengan baju rumahan agar lebih nyaman.
Saat Novia keluar kamar berpapasan dengan ibunya yang juga baru keluar dari kamar mereka, "Ayo, makan siang bersama papa sudah menunggu di ruang makan."
Mereka berjalan beriringan memasuki ruangan, tampak Pak Wahyu sudah ada di situ bersama kedua cucunya.
Bu Ratih melempar senyum lalu menghampiri cucunya Adiba yang duduk di samping kakeknya.
"Cucu ina sudah lama menunggu ya?" tanya Bu Ratih.
"Iya," jawabnya singkat.
Novia hanya tersenyum tipis mendengar jawaban anakya, kemudian dia menarik kursi lalu duduk dan mengambil piring mengisi makanan dan menyodorkan pada anaknya.
Bu Ratih mengamati setiap gerakan Novia, sepertinya dia hanya sibuk mengambilkan makanan untuk anak-anaknya dan terlihat dia tidak berminat untuk makan.
"Kamu tidak makan Vi?" tanya Bu Ratih.
"Masih kenyang mah, tadi Bu Ratna bawa makanan ke sekolah ada hajatan di rumahnya," jawab Novia.
Bu Ratih membulatkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, kemudian dia mengambilkan makanan untuk suaminya.
Selesai makan dan membereskan meja makan, Novia mengajak anak-anaknya masuk ke kamar. Rutinitas yang dia lakukan setiap hari membiasakan anaknya tidur siang.
Sore hari Novia dan anak-anaknya bangun, tapi mereka masih betah di kamar dan belum mau keluar. Tiba-tiba Camillah melompat saat mendengar deru mesin mobil di luar.
"Mah, itu suara mobil papa," ucapnya girang lalu berlari keluar menyambut ayahnya.
Novia bertahan di kamar, enggan dan malas keluar menemui suaminya dia memilih masuk ke kamar mandi untuk memandikan kedua anaknya.
Dari dalam kamar mandi, Novia samar-samar mendengar suara pintu kamar terbuka dan juga tawa Camillah.
Novia melanjutkan kegitannya di dalam, memandikan anaknya kemudian dia sendiri juga mandi.
Beberapa menit kemudian, Novia keluar memakai jubah mandi lalu berjalan ke arah lemari.
Novia melirik suaminya yang terus mengamati kesibukan Novia mengurus kedua anaknya.
__ADS_1
"Sudah wangi, Diba ajak dek Emir main sama tata di luar," ujar Novia sembari membukakan pintu kamar, kedua bocah tersebut berlari keluar menemui kakek dan nenek mereka.
Camillah pun ikut keluar menyusul kedua adiknya meninggalkan orang tuanya di kamar.
Novia menoleh ke arah suaminya, tampak Irwan duduk dan bersandar dengan santainya Novia mendekat tapi tetap berdiri di tempatnya menghadap suaminya.
"Dari mana?" tanya Novia.
"Duduk dulu Vi, biar aku jelaskan," pinta Irwan dengan wajah memelas.
"Jelaskan saja, tidak usah memintaku duduk aku malas dekat denganmu," balas Novia sinis
"Ehemm ..., kemarin aku mengantar penumpang keluar kota dan tidak sempat mengabarimu," jawab Irwan.
Sorot mata Novia menelisik wajah suaminya, sepertinya mimik wajah Irwan kurang meyakinkan.
"Aku meragukan penjelasanmu, wajahmu tak bisa menipu," batin Novia.
Novia berbalik, tidak menjawab atau menanggapi ucapan suaminya namun, memilih keluar kamar meninggalkan Irwan di dalam.
Novia sudah ada di teras, duduk menatap lurus ke depan melihat kendaraan yang berlalu lalang sambil menyusun sebuah rencana.
"Jangan mengira aku bodoh Wan, kamu hanya belum mengenalku dengan baik dan aku pastikan akan menemukan kebohonganmu," gumamnya lirih.
Novia bangkit dari duduknya, beranjak masuk ke dalam bersiap melakukan ibadah shalat maghrib.
Saat masuk ke kamar, Novia mendapati Irwan malah berbaring di atas ranjang. Novia mendekat dan menepuk keras punggung suaminya, Irwan melonjak kaget dan terduduk lesu.
"Heeyy ..., enak saja kamu malah tidur maghrib begini sementara yang lain bersiap untuk shalat," geram Novia semakin kesal dengan kelakuan suaminya.
"Iya, jangan marah-marah aku ngantuk Vi," sahut Irwan sembari bangkit dan berjalan gontai menuju kamar mandi.
Novia menghela napas kasar, kemudian mengambil alat shalatnya dan langsung melaksanakan ibadah.
Sepuluh menit kemudian, Irwan selesai dengan mandinya dan keluar Novia juga sudah selesai shalat.
Novia menyodorkan sajadah dan sarung pada suaminya tanpa berkata-kata, Irwan mengambil dari tangan Novia lalu dia pun shalat.
Novia duduk di belakang suaminya yang sedang shalat sambil mengamati dalam diam, entah kenapa Novia seperti kehilangan kepercayaan pada suaminya.
Novia bangkit dan beranjak keluar kamar, berjalan menuju dapur menyiapkan hidangan untuk makan malam. Sekonyong-konyong Adiba dan Emir datang menghampirinya, Novia menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
"Anak mama, sini cium dulu," ucap Novia sambil mengelus pipi kedua anaknya.
Setelah mendapat ciuman dari ibunya, kedua bocah itu tersenyum sumringah kemudian berlari kembali masuk ke ruang keluarga menemui kakek dan neneknya.
Hidangan sudah siap di atas meja, Novia memanggil semua anggota keluarga termasuk Irwan.
Selesai makan malam mereka masuk ke kamar masing-masing, Camillah sudah tidur bersama dengan kakek dan neneknya.
Malam ini Novia menolak tidur bersama suaminya, Irwan tidak berani protes dan membiarkan istrinya tidur di ruang keluarga.
Sebelum adzan subuh Novia sudah bangun, masuk ke kamarnya dan membersihkan diri menunggu waktu shalat. Pagi ini dia akan menjalankan rencananya mencari tahu soal suaminya.
Setelah shalat subuh, Novia menyiapkan sarapan dan kebutuhan anak-anaknya karena dia hanya mengantar Camillah dan menjemputnya kembali nanti setelah urusannya selesai.
Novia sengaja tidak membangunkan suaminya, akan menyita waktu pikirnya karena dia perjalanannya cukup jauh.
"Ayo nak, kita berangkat," ajaknya sambil berjalan keluar.
Di teras Pak Wahyu dan istrinya sedang berbincang, Novia menghampiri orang tuanya kemudian berpamitan dan menyalaminya.
"Kami berangkat dulu, ayo Millah salim sama tata dan ina." Camillah menyalami kakek dan neneknya lalu menyusul ibunya yang sudah siap di atas motor.
Camillah naik ke atas motor, kemudian Novia memacu motornya meninggalkan kediaman orang tuanya.
Tiba di depan sekolah Novia meminta anaknya turun, wajah Camillah tampak bingung karena tidak biasanya dia di minta turun di depan pintu gerbang.
"Millah masuk duluan, mama ada urusan sebentar," ucap Novia dan di jawab anggukan Camillah.
Camillah berbalik dan melangkah masuk ke halaman sekolah, setelah anaknya hilang dari pandangan Novia memacu motornya membelah jalanan ke tempat yang dia tuju.
Empat puluh lima menit perjalanan Novia tempuh, meskipun lelah dia tetap semangat mencari seseorang untuk meminta informasi.
Novia menghentikan motornya, mencari posisi yang tepat untuk mengintai dan melihat dari kejauhan. Tak lama orang yang dia cari muncul Novia bergegas menaiki motor dan mendekati orang tersebut.
Novia berhenti tepat di depan Fahrul, pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat Novia.
Novia turun dari motornya dan melangkah menghampiri Fahrul, dengan santai Novia menyapa Fahrul yang masih tampak bingung.
"Hai, apa kabar?" sapa Novia
"Baik," sahut Fahrul dengan sikap waspada.
__ADS_1
"Bisa bicara sebentar? ada hal penting yang ingin aku tanyakan.
Fahrul mengajak Novia berjalan menjauh dari tempat itu, keduanya duduk di bawah pohon rindang. Fahrul masih diam menunggu Novia memulai percakapan.