Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Aku Tahu Kelicikanmu


__ADS_3

Part 104


Pintu gerbang sudah terbuka, Novia bergegas masuk ke halaman lalu memarkir motornya. Camillah menghampiri ibunya sambil tersenyum puas.


"Millah, lain kali jangan diulang lagi ya, cukup hari ini saja. Mama tidak mau kamu nanti bersalah dan ditiru teman-teman yang lain."


Novia menasihati anak sulungnya, walau pun dia terbantu bisa masuk. Namun, bagi Novia itu bukanlah perbuatan yang baik.


"Iya, mah. Ini juga baru pertama kali, aku janji tidak akan mengulanginya," jawab Camillah


Lima menit kemudian bel berbunyi, anak-anak berlarian ke lapangan untuk melaksanakan upacara, begitu juga dengan para guru yang sudah berbaris rapi dan Novia pun ikut berdiri di barisan guru-guru.


Namun, tanpa diduga tiba-tiba saja Diana marah dan mengumpat ketika melihat pintu gerbang terbuka.


"Siapa yang membuka pintu? harusnya kalau datang terlambat menunggu saja di luar sampai upacara selasai!"


Merasa tersindir Novia lalu berkata,"saya yang meminta penjaga membukanya, lagi pula tadi bekum waktunya pintu di tutup."


"Novia, kamu ini kan seorang guru, harusnya memberi teladan pada siswa!" cecar Diana.


Novia tersenyum miring, Diana memang pandai dan licik mencari celah kesalahan orang lain dan Novia bisa membaca sikapnya.


"Ibu Diana yang terhormat! Pintu gerbang ditutup sebelum jam tujuh, coba lihat baik-baik jadwalnya baru kamu menyerangku," balas Novia sambil tersenyum sinis


Telak, Novia membungkam Diana dengan fakta. Diana memang sengaja membuat Novia terlambat dengan menyuruh penjaga mengunci pintu lebih awal, sungguh licik


"Sudah, jangan bertengkar. Malu sama anak-anak yang melihat kalian." Pak Rizal melerai perdebatan Novia dan Diana


Upacara berlangsung tertib sampai selesai, selepas itu semuanya bubar dan masuk ke kelas masing-masing. Begitupun Novia yang memutuskan masuk kelasnya demi menjaga emosinya yang sedang tidak stabil.


Sampai bel pulang berbunyi, Novia sama sekali tidak menginjakkan kakinya di ruang guru, tetapi langsung pulang dan tanpa berpamitan pada Pak Rizal.


Tiba di rumah, Novia mengajak ketiga anaknya makan siang lalu selesai itu mereka masuk ke kamar untuk tidur, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mah, Millah belum ngantuk dan mau nonton dulu," ucap Camillah pada ibunya.


"Iya, jangan lupa pintunya ditutup." sahut Novia dari dalam kamar.


Sore hari Irwan pulang kebih cepat, tetapi, ada yang membuatnya merasa aneh. Pintu rumah tertutup dan tampak sepi berbeda dari biasanya.


"Kemana mereka, kenapa sepi?" gumam Irwan

__ADS_1


Irwan mengetuk pintu namun, tak ada jawaban. Ketukan berikutnya barulah pintu terbuka dan Camillah berdiri di depan pintu.


"Millah, mama dan adikmu kemana?" tanya Irwan karena tak melihat istri dan anaknya yang lain


"Mama di kamar, masih tidur," jawab Camillah


"Masih tidur? Sudah sore begini." Irwan melangkah masuk setelah mendengar keterangan dari Camillah.


Anak itu pun menyusul ayahnya masuk, Irwan membuka pintu lalu kemudian masuk ke dalam kamar.


"Vi, bangun sudah sore." Irwan membangun Novia yang masih terlelap.


Novia menggeliat karena merasakan tangan suaminya menggoyang tubuhnya, mata Novia perlahan terbuka lalu menatap Irwan yang berdiri di dekatnya.


"Mana Camillah?" tanya Novia panik


"Itu, lagi nonton. Sepertinya dia sudah mandi," jawab Irwan dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Novia melirik jam di atas nakas, matanya terbelalak kaget sambil bergumam,"oh, astaga tiga jam lebih aku tidur."


Novia menoleh pada kedua anaknya yang juga masih tertidur, dua bocah itu terlihat begitu nyaman dan tidak terusik dengan suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Irwan sudah selesai mandi dan berjalan masuk lagi ke kamar. Lelaki itu menghampiri istrinya yang masih betah duduk di atas ranjang.


Novia menuruti ucapan suaminya, turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi.


Sembari menunggu istrinya mandi, Irwan membangunkan kedua anaknya.


Seperti biasa, Adiba kalau bangun tidur selalu berada pada mode rewel dan merengek minta digendong dulu. Berbeda dengan Emir, bocah lelaki itu turun dan berlari keluar menghampiri kakaknya yang sedang nonton.


Novia keluar dari kamar mandi, kemudian bergegas memakai baju lalu mengajak Adiba dan Emir mandi.


Tak lama kemudian, dua bocah itu keluar dari kamar sudah berpakaian rapi lalu duduk tenang di ruang keluarga menyaksikan acara favorit mereka.


Novia dan Irwan juga ada disitu, mendampingi ketiga anaknya nonton sambil berbincang.


"Vi, tadi aku mampir ke rumah mamah." Irwan membuka obrolan


"Mereka sedang dalam masalah," sambung Irwan.


Novia menoleh pada suaminya, tanpa berkomentar dan menunjukkan wajah datar. Seolah dia tidak tertarik untuk membahas mengenai keluarga suaminya.

__ADS_1


"Romi menghamili anak orang, sementara dia kabur bersama wanita lain," lanjut Irwan sambil memgusap kasar wajahnya.


"Lantas, apa hubungannya dengan kita?" balas Novia sinis.


Sungguh, dia benar-benar muak jika membahas tentang kehidupan mertua dan iparnya tersebut.


"Vi, aku ini anak lelaki tertua pengganti papa. Otomatis semua yang berhubungan dengan mereka menjadi tanggung jawabku juga," ucap Irwan panjang lebar.


"Terserah sajalah, itu kan hakmu," balas Novia ketus


Irwan menghela napasnya, sadar selama ini memang Novia sudah terlalu banyak menerima perlakuan buruk dari keluarganya, oleh karena itu dia tidak bisa berharap banyak dari rasa simpati Novia.


Keesokkan harinya, Novia kembali beraktifitas seperti biasa, bedanya kali ini dia tak lagi mau masuk ke ruang guru dan lebih memilih menghindar agar tidak bertemu dengan Diana.


Saat Novia sedang mengajar, Putra tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Vi, dipanggil Pak Bos," ucap Putra.


Novia terkejut lalu mengelus dadanya dan berkata,"kebiasaan! Selalu saja begitu, datang tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam."


"Hehhe, perasaan tadi aku sudah mengucap salam. Tapi, kamu terlalu serius," jawab Putra diselingi kekehan seperti biasa.


"Ada apa ya kira-kira?"


"Aku juga belum tahu, sebaiknya temui saja dulu," balas Putra.


Novia kemudian meletakkan buku di atas mejanya, merapikan alat tulis menulis sekaligus memberi pesan kepada siswanya.


"Anak-anak, ibu sekarang dipanggil Pak kepala sekolah. Ibu harap kalian tetap tenang di dalam kelas."


Kemudian dia beranjak dari tempatnya, melangkah menghampiri Putra dan mengajak ikut dengannya.


"Ayo, temani aku ke ruang guru."


Keduanya pun berjalan menuju ruang guru, sepanjang perjalanan keduanya diam tak bicara. Pikiran Novia melayang entah kemana.


Mereka sudah ada di ruang guru, di dalam ruangan hanya ada Pak Rizal yang duduk sendiri menunggu Novia datang.


Dengan ragu-ragu Novia melangkah, kemudian berhenti di depan Pak Rizal.


"Bapak memanggil saya?" tanya Novia

__ADS_1


"Iya, silahkan duduk Bu Novia," ucap Pak Rizal sambil menunjuk bangku kosong di depannya.


__ADS_2