
Part 32
Dua minggu kemudian...
Sejak motor itu dibeli, belum pernah sekalipun Novia menaikinya kondisi yang sedang hamil besar membuat sedikit takut dan khawatir.
Seperti halnya pagi ini, Novia berangkat kerja hanya naik angkutan umum karena suaminya tak sempat mengantar.
Tiba di sekolah dia disambut sahabatnya Diana, " punya motor baru kenapa tidak di pakai Vi." Ucapnya sambil berjalan menuju ruang guru mengikuti langkah Novia.
" Aku masih takut, apalagi sedang hamil begini. Kalau anakku sudah lahir Insyaa Allah akan aku pakai " duduk dan meletakkan tasnya di atas meja, Mereka berbincang sembari menunggu bel masuk berbunyi.
" Assalamualaikum " Pak Rizal masuk dengan langkah yang lemah langsung masuk ke dalam ruangannya. Biasanya dia ikut bergabung bersama guru bersenda gurau tapi kali ini berbeda.
" Diana, pak Rizal kenapa wajahnya pucat ?"
" Kata teman - teman pak Rizal sakit, dan kemarin sempat di rawat di rumah sakit " jawab Diana.
" Ouh, tapi kenapa hari ini masuk kerja bukannya istirahat di rumah dan aku jiga pernah dengar dari bu Ratna kalau pak Rizal punya riwayat penyakit jantung " Novia pun bingung dengan pak Rizal yang katanya di rawat di rumah sakit tapi pagi ini sudah masuk kerja.
" Iya, beliau memang dirawat karena jantung, tapi semalam memaksa pulang."
Guru yang bertugas piket hari ini masuk dan membunyikan bel, akhirnya mereka membubarkan diri dan masuk ke kelas masing-masing.
Ketika di kelas, Novia tak bisa berkonsentrasi dengan benar dia justru memikirkan keadaan pak Rizal.
" Perasaanku jadi tidak enak, pak Rizal kenapa memaksakan diri datang ke sekolah padahal kondisinya masih lemah, sebaiknya aku tanya langsung beliau."
Novia beranjak meninggalkan kelas menuju ruang guru di dalam tampak sepi, pintu ruang kepala sekolah tertutup rapat perlahan dia mendekat dan mengetuk pintu.
" Permisi pak, boleh saya masuk ?" berdiri di depan pintu menunggu suara dari dalam.
Belum ada jawaban...
Novia kembali mengetuk pintu " Ya, siapa di luar " mendengar suara pak Rizal Novia bernapas lega.
" Saya bu Novia, boleh saya masuk pak ?"
" Silahkan." Novia membuka pintu lalu masuk dan berdiri di depan meja kerja pak Rizal.
Keduanya tak ada yang bersuara, hingga akhirnya Novia memulai pembicaraan " Wajah bapak pucat, sepertinya bapak hari ini sakit bapak baik-baik saja ?" sambil terus menatap wajah pak Rizal.
" Iya bu Novia, sebernarnya hari ini saya masih lemas, tapi tetap memaksakan diri datang, di rumah rasanya kurang nyaman "
Novia hanya mengangguk " ada yang bisa saya bantu pak, atau bapak sesuatu ?" sedikit khawatir melihat keadaan pak Rizal.
" Oh iya, tolong panggil Putra kesini."
" Iya baik pak, saya panggil sekarang " Novia bergegas mencari Pak Putra salah seorang guru di sekolah itu.
Setelah berkeliling mencari Novia menemukan Putra " Pak, dipanggil kepala sekolah di tunggu di ruangannya, beliau lagi sakit mungkin butuh sesuatu "
" Iya, sekarang ?"
__ADS_1
" Tahun depan !!, sekaraang pak " dengan nada kesal.
" Hehe jangan emosi bu, apalagi kalau sedang hamil nanti bayinya emosian." Putra terkekeh dan berlalu meninggalkan Novia.
" Huuuft menyebalkan " sungut Novia dan berjalan kembali ke kelasnya.
Hubungan Novia dan teman-teman kerjanya bisa di bilang baik, mereka sering bercanda bahkan kadang berbagi cerita hingga masalah pribadi pun sering kali mereka bahas ketika waktu senggang tentunya pak Rizal pun tak ketinggalan.
Dan pak Rizal selaku pimpinan, selalu bersikap bijak sangat mengayomi karena itu semua guru begitu menghormatinya.
Tak terasa bel pulang berbunyi, Novia membereskan buku yang berhamburan menatanya kembali ke dalam rak buku. Dia keluar kelas dan melihat Putra yang juga baru keluar dari kelas.
Novia berlari kecil mengejar Putra sambil berteriak memanggil. " Pak Putra tunggu " Mendengar namanya di sebut Putra berhenti dan menoleh ke belakang.
" Eh bagaimana keadaan pak Rizal ?"
" Tadi aku di panggil kesana, beliau memintaku untuk mengantarnya pulang."
" Terus ?"
" Belok bu nanti nabrak " Buuugh " Novia refleks memukul Putra dengan buku yang dibawanya karena kesal mendengar jawaban tak sesuai yang dia harapkan.
" Hehe " lagi-lagi Putra hanya terkekeh.
" Sepertinya Pak Rizal kurang nyaman dengan istrinya yang over protective " lanjutnya.
Novia terus menyimak cerita Putra sampai tersadar Diana memanggil mereka.
" Heii apa kalian berdua menginap disini ? Yang lain sudah mau pulang."
Sesampainya di rumah, Novia melirik jam di tangannya tepat pukul satu siang pintu rumahnya juga sudah terbuka, artinya Camillah ada di dalam sedangkan motornya masih terparkir rapi di teras.
Novia mengucap salam lalu masuk ke dalam, sementara Camillah asyik bermain sendiri di temani boneka kesayangannya. Dia menghampiri anaknya.
" Siapa yang jemput Millah di sekolah ?"
" Millah di antar bu guru " jawabnya polos.
" Millah kan sudah tahu tempat mama menyimpan kunci pintu, jadi Millah bisa masuk dan ibu guruku pulang " lanjutnya lagi.
Novia tersenyum dan membelai rambut anaknya " Anak mama sekarang makin pintar ya sudah mandiri berani di tinggal sendirian."
Camillah tertawa tanpa mengeluarkan suara hanya menampakkan giginya yang mungil dan rapi sungguh terlihat lucu.
Novia masuk ke kamar lalu mengganti pakaiannya kemudian mengajak Camillah makan, selasai makan shalat dzuhur dan merekapun tidur siang.
Sore harinya Novia bangun, Dia membereskan rumah mencuci piring yang mereka pakai makan siang, setelah itu mandi dan shalat ashar kemudian duduk di teras menunggu suaminya pulang.
Lama menunggu Irwan belum juga pulang, adzan maghrib sudah terdengar Novia memutuskan masuk dan bersiap-siap shalat.
Ketika Novia sedang mengajari anaknya mengaji menunggu waktu isya, pintu diketuk.
Novia mendongak memastikan pendengarannya. Sekilas terdengar suara yang mirip dengan suara ayahnya, dia bergegas bangkit dan melangkah keluar masih mengenakan mukenah.
__ADS_1
Begitu sampai di dekat pintu, terdengar kembali ketukan dan suara ayahnya kini terdengar jelas mengucapkan salam, buru-buru Novia membuka pintu.
Saat pintu di buka melihat ayahnya berdiri Novia menghambur diri memeluk ayahnya, pak Wahyu membalas pelukan anaknya.
" Tamunya tidak di suruh masuk dulu ?" ucapnya di sertai candaan.
Novia hanya tersipu menyadari kekonyolannya yang lupa mempersilahkan ayahnya masuk malah menahannya di pintu.
" Hehe masuk pah, maaf aku terlalu rindu dan kaget papa datang."
" Papa tadi ke apotek, obat papa habis jadi sekalian mampir kesini mana cucuku ?" pandangan pak Wahyu mencari ke seluruh ruangan.
" Eh ini orangnya " Novia menarik tangan Camillah yang mengintip di balik pintu kamar.
Pak Wahyu tersenyum lebar melihat pola tingkah cucunya yang terlihat lucu " Millah sini sama tata " sambil merentangkan tangannya dan Camillah berlari ke pelukan kakeknya.
Mereka bertiga pun duduk berbincang beberapa hal, Novia menanyakan keadaan ibunya sebaliknya pak Wahyu juga menanyakan kabar anak dan cucunya hingga tiba-tiba " Tata, kami punya motor baru " celetuk Camillah dengan polosnya menunjuk ke arah motor yang terparkir.
" Oh ya, Alhamdulillah kapan di belinya ?"
" Dua minggu yang lalu pah, aku butuh dipakai kerja nanti kalau sudah lahiran " Novia menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk Camillah.
Pak Wahyu tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, tak lama dia bangkit dan berdiri lalu Novia juga ikut berdiri.
" Papa pamit dulu, kasihan mama di tinggal sendirian di rumah, ini ada sedikit camilan yang papa beli tadi di depan apotek " kemudian menyerahkan kantong kresek pada Novia.
Novia mengambil pemberian ayahnya, lalu mengikuti langkah pak Wahyu menuju pintu.
" Tata, Millah ikut " Menarik jaket yang di pakai kakeknya. Pak Wahyu menoleh dan sedikit menunduk " Tata pulang dulu, besok Millah sama mama ke rumah tata ya sekarang sudah malam " kemudian mengelus lembut kepala cucunya.
Novia mengantar ayahnya sampai ke depan gerbang hingga mobil pak Wahyu perlahan melaju dan sudah terlihat jauh baru dia berbalik.
Sambil memegang tangan Camillah dia terus berjalan menuju rumahnya, sekilas dia melirik ke rumah mertuanya yang tampak sepi.
Mereka masuk ke dalam, Novia melihat jam di dinding " jam delapan, tidak biasanya dia pulang begini hmm " gumamnya dalam hati seraya menghembuskan napas.
" Millah sayang, kita shalat isya dulu, setelah itu kita tidur."
Selesai shalat, Novia menutup pintu dan tirai jendela di ruang tamu lalu memadamkan lampu kemudian masuk ke kamar berbaring di samping Camillah hingga akhirnya mereka berdua terlelap.
Jam tiga pagi, Novia bangun dia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Melirik ke samping "dia tidur di luar atau memang belum pulang ?" lalu bangkit bangun dari tempat tidur.
Novia berjalan ke ruang tamu sambil terus meringis menahan sakit, Dia ingin memastikan apa suaminya tidur di ruang tamu tapi dia tidak menemukan disana.
Dia kembali masuk ke kamar menyiapkan tas dan perlengkapan bayi serta beberapa potong kain sarung.
Meskipun belum ada tanda seperti yang di sebutkan dokter, tapi Novia yakin dia akan melahirkan karena sudah pernah mengalami sebelumnya.
Setelah semuanya siap, satu persatu tas dan barang itu Novia bawa ke ruang tamu lalu dia menyalakan lampu mengintip ke luar jendela.
" Mobilnya ada, tapi kemana dia perutku sakit ya Allah " gumamnya lalu menutup kembali tirai jendela.
Novia terus berjalan mondar-mandir sendirian sambil menahan rasa sakit kadang duduk lalu kembali berdiri sesekali mengusap perutnya.
__ADS_1
Perasaan Novia bergemuruh, antara marah, sedih dan cemas mengingat suaminya sekaligus menahan sakit di perutnya.