
Part 49
" Kenapa kamu kesini ?" suara Novia bergetar.
Irwan menatap lekat wajah istrinya, mencoba membangun komunikasi lewat tatapan mata kemudian mendekat pada istrinya.
" Boleh aku duduk di sini ?" menunjuk ruang kosong di sebelah Novia, lalu menoleh pada Camillah.
" Millah main dulu sama tata dan ina ya, papa mau bicara sama mama."
Camillah pun menurut, keluar dari kamar menemui kakek dan neneknya di teras.
Karena tak ada jawaban, Irwan mengulangi pertanyaannya " Vi, boleh aku duduk di sebelahmu."
Novia hanya menatap jengah, sorot matanya sulit di artikan tapi Irwan tidak menyerah begitu saja.
Dia meraih tangan Novia, menciumnya dengan lembut Novia menarik kembali tangannya.
" Vi, aku minta maaf mungkin kesalahanku sulit untuk di maafkan, tapi aku berharap kamu mau menerima maafku."
" Terus saja seperti ini, berbuat salah lalu dengan mudah meminta maaf. Kamu tidak pernah menganggapku ada bahkan tidak menghargaiku sebagai istri."
Irwan tersenyum tipis.
" Masih ada harapan, gayung bersambut."
Jawaban Novia dianggap sinyal oleh Irwan, dan dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Irwan semakin mendekat, menyambar tubuh Novia menariknya dalam pelukan. Tubuh Novia bergetar sambil sesegukan runtuh sudah pertahanannya.
" Kamu tahu, aku tidak mungkin meninggalkanmu demi wanita itu kamu akan tetap menjadi istriku selamanya."
" Kenapa aku selemah ini jika sudah berhadapan dengannya, bahkan untuk memakinya pun tak bisa ?" gumam Novia dalam hati.
" Kamu mau memaafkanku kan ?"
" Hmm."
Irwan semakin mengencangkan pelukannya, ingin rasanya berteriak melepaskan kegembiraannya. Hatinya lega Novia bisa memaafkannya.
" Aku memang sudah memaafkanmu, tapi lukaku masih belum sembuh."
Novia menggeliat melepaskan diri, hati memang tak bisa dibohongi dia dengan mudah memaafkan suaminya tapi bayangan wajah Sukma belum bisa hilang di ingatannya mungkin butuh waktu untuk itu.
" Bagaimana keadaanmu apa masih pusing ? Kita ke dokter ya."
" Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat." Novia menolak halus ajakan suaminya.
Ada yang berubah dan Irwan tidak menyadarinya, Sisi lain hati Novia sepertinya masih beku dia tidak seceriah dulu.
" Malam ini aku nginap disini."
__ADS_1
" Silahkan, rumah ini selalu terbuka."
Tak lama Camillah masuk ke kamar, " papa sudah makan ? Di tunggu tata di ruang makan."
" Papa sudah makan nak, sana kasih tahu tata tidak usah menunggu papa."
Camillah mengangguk dan kembali ke ruang makan, dan menyampaikan pesan ayahnya.
Sepertinya Irwan masih betah berlama-lama di kamar istrinya, meskipun komunikasi mereka masih kaku tapi dia bersyukur Novia sudah mau di ajak bicara.
Novia hanya bicara seperlunya, dia pun tak mau menyinggung masalah Sukma biarlah itu tersimpan rapi dalam hatinya.
Setelah selesai makan malam bersama kakek dan neneknya, camillah masuk kembali ke kamar.
" Mah, kaka sudah ngantuk."
" Oh iya, cuci kaki dan gosok gigi dulu nak." Ucap Novia sembari merapikan tempat tidur.
Dia sengaja mengatur posisi Camillah di sisi kanannya sedangkan bayinya di sisi kiri, sehingga tidak ada ruang yang di ranjang untuk Irwan.
Novia masih menjaga jarak dengan suaminya, tidak mudah menghapus noda perselingkuhan akan ada luka yang membekas meskipun sudah memaafkan.
Setelah mencuci kaki dan menggosok gigi, Camillah naik ke atas ranjang berbaring di tempat yang sudah di siapkan ibunya. Tak lama dia pun terlelap.
Irwan bangkit, mangambil karpet dan menggelarnya di depan ranjang dia pun paham sikap istrinya dan tak mau memaksakan diri.
Malam ini mereka tidur terpisah, Irwan tidur di lantai beralaskan karpet dia gelisah berputar menggerakkan tubuh ke kanan dan kiri sedangkan Novia diam memejamkan mata namun pikirannya melayang entah kemana.
Setelah memakai pakaian bersih, dia membangunkan Camillah memandikan dan memakaikan seragam.
Novia keluar dari kamar, Camillah mengikutinya dari belakang mereka berjalan ke dapur.
" Millah, mama siapkan sarapan dan bekalmu dulu ya kamu tunggu di situ." Novia menunjuk meja makan."
" Sudah baikan Vi ?"
" Iya mah Alhamdulillah, besok aku mulai masuk kerja."
" Syukurlah, pintar-pintar lah menjaga kesehatan anakmu masih kecil-kecil."
Novia hanya mengangguk, kemudian mengambil kotak makanan Camillah mengisinya dengan nasi panas dan telur dadar lalu memasukkan ke dalam tas.
" Suamimu sudah bangun ?"
" Belum mah, kita makan duluan nanti dia menyusul."
" Ya sudah, sana panggil papa."
Novia berjalan masuk ke kamar ayahnya, kemudian dia mengintip ke kamarnya tampak Irwan masih dengan posisi yang sama tidur begitu nyenyak.
Novia dan ayahnya berjalan beriringan menuju ruang makan, bi Ratih menarik kursi untuk suaminya dan pak Wahyu pun duduk dengan tenang menunggu istrinya mengisi makanan ke piringnya.
__ADS_1
" Suamimu mana Vi, kenapa tidak di ajak makan ?"
" Belum bangun, kita makan duluan saja pah."
Sementara di dalam kamar, Irwan bangun matanya menyapu seluruh ruangan hanya ada bayi Adiba yang masih terlelap di atas ranjang. Camillah dan Novia tidak ada di kamar.
Dia bangkit, masuk ke dalam kamar mandi.
" Kemana mereka, apa Camillah sudah berangkat ke sekolah ?"
Selesai membersihkan diri Irwan berjalan ke tempat tidur.
Kemudian dia naik ke atas ranjang, mendekati bayinya mengelus lembut pipi gembul bayi itu.
Karena merasa terusik Adiba menggeliat, Irwan buru-buru mengangkat dan menggendong bayinya.
Merasa tidak nyaman dalam gendongan ayahnya, bayi Adiba menangis suaranya terdengar sampai ke ruang makan.
Novia menghentikan makannya dan bergegas berlari menuju kamarnya.
Saat masuk, Novia mendapati Irwan yang kesulitan menenangkan Adiba yang semakin berteriak kencang.
Irwan menoleh kearah istrianya, Novia masih menikmati pemandangan langka di depannya karena selama ini dia belum pernah melihat suaminya menggendong Adiba.
" Vi, bagaimana ini ?" matanya menunjuk bayi di dalam gendongannya.
" Seperti itulah kami setiap hari, bergantian menggendong dan menenangkan dia jika rewel."
Irwan menghampiri Novia, dia menyodorkan bayi dalam gendongannya.
" Aku menyerah Vi, sungguh tidak tahu cara menenangkan dia."
Novia tersenyum sinis, seolah meremehkan Irwan.
" Kalau belum tahu cara menenangkan jangan mengganggunya tidur."
Kemudian Novia mengambil bayinya dari gendongan Irwan, tak lama bayi itupun diam koneksi batin bayi dan ibunya memang sangat kuat.
" Sarapannya sudah siap, kamu di tunggu sekarang."
Novia berjalan keluar, Irwan mengikuti langkah istrinya ke dapur.
" Eh sarapan dulu Wan,"
Pak Wahyu menyapa menantunya dan menyuruhnya makan.
Irwan mengangguk dan menarik kursi di dekat Camillah, suasana menjadi canggung semua diam tak bersuara.
Novia mengambil piring dan mengisinya lalu menyodorkan pada suaminya sembari menggendong bayi Adiba.
" Kami duluan, silahkan lanjutkan makannya."
__ADS_1
Karena pak Wahyu sudah selesai makan, dia pun berpamitan keluar di susul bu Ratih, mereka meninggalkan Novia dan suaminya di ruang makan.