
"Kamu…, kamu kembali," Juana menatap horor Gloria yang berdiri di depannya.
Juana yang sedang bersantai di ruang tamu langsung kaget saat orang yang di bencinya berdiri di depannya. Wanita itu langsung berdiri dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Gloria.
“Turunkan tanganmu, jika tidak ingin aku mematahkannya.” Desis Gloria yang melotot tajam ke arah Juana.
Juana yang mendengar apa yang dikatakan oleh Gloria sontak langsung menurunkan tangannya. Dia ingin sekali menjambak rambut wanita yang berdiri di depannya itu namun, apalah daya baru saja melangkah suara auman singa sudah terdengar nyaring di dalam mension itu.
“Hati-hati karena bisa saja hari esok tidak akan lagi kamu lihat, ibu tiriku tersayang.” Bisik Gloria yang langsung berlalu pergi begitu saja meninggalkan Juana yang terdiam kaku.
“LION..!”
Goarrrrr
Lion yang tadinya sangar langsung berlaku seperti kucing. Singa itu langsung berlari ke arah Gloria sang nona majikan.
Gloria dengan lembut mengelus kepala sang singa dengan mata yang memincing tajam melihat sosok di depannya itu yang berdiri di depan kamar miliknya. Pantas saja singanya itu tadi mengaung dengan keras menandakan jika sedang marah. Nyatanya ternyata ada seseorang yang memasuki wilayahnya.
“Apa yang kamu lakukan di epan kamarku?” Gloria bertanya dengan nada datar dan juga tatapan tajam.
“Kamarmu? Dari awal kamar ini adalah milikku hingga kamu datang dan menghancurkan hidup kami.”
“Menghancurkan hidup kalian? Apa otakmu sudah tidak ada tau aku lempar kamu dari sini baru kamu sadar?” balas Gloria yang tersenyum sinis menatap wajah memerah menahan amarah Fenia.
“Semua milikku sebelum kamu dan mommy kamu serta pria tua bangka sialan itu datang dalam kehidupan mommy saya? Kalian itu hanya parasit dan benalu yang sama-sama menempeli mommy. Sama seperti ibumu kamu sendiri pun menjadi benalu di rumah ini. Kamu lupa jika kalian itu hanya menumpang hidup sama saya?” sarkas Gloria yang langsung berlalu melewati Fenia tak lupa menyenggol bahu wanita itu dengan keras membuat Fenia langsung terjatuh.
Fenia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sadar diri dia tidak mempunyai kuasa untuk menjatuhkan Gloria. Lagi lagi rasa iri itu muncul dalam diri Fenia. Kenapa bukan dia yang terlahir dari keluarga terpandang, Kenapa bukan dia yang terlahir dengan menjadi putri seorang konglomerat? Fenia selalu bertanya-tanya kenapa nasibnya tak sama dengan nasib Gloria yang terlahir kaya dan penuh kekuasaan.
__ADS_1
Fenia mengepalkan tangannya kuat-kuat berdiri lalu berbalik pergi dari situ. Kebencian Fenia semakin besar terhadap Gloria.
"Aku harus segera membereskan mereka semua, aku tidak ingin menunda lagi." Guman Gloria yang menatap dingin punggung Fenia lewat ponselnya.
Tak mau ambil pusing Gloria segera mematikan ponselnya berbalik masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, baru meletakan ponselnya gadis itu kembali mengambilnya dan mengirim pesan kepada sang kekasih yang jauh disana.
Setelah selesai baru Gloria melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian Gloria kembali keluar memakai pakaiann rapi.
“Gloria, kamu ingin kemana nak?” tanya Juliando yang melihat Gloria.
“Perusahaan.” Jawab Gloria ketus.
Gloria berjalan keluar yang ternyata di luar sudah ada Gading yang telah siap menunggunya.
“Silahkan Nona,” Gading langsung membukakan pintu mobil untuk Gloria lalu menyusulnya masuk ke dalam.
“Selamat siang Nona,”
“Siang.”
Gloria hanya menjawab seperlunya saja berlalu pergi menuju lift dan menekan angka lantai ruangannya.
Ceklek
Gloria langsung duduk di kursi kerjanya menatap datar tumpukan berkas di atas mejanya.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
“Masuk.” Sahut Gloria yang masih fokus pada berkas di tangannya.
“Nona, saya datang membawa kabar baik.” Kata Galang dengan binar di wajahnya.
“Apa?” sahut Gloria dengan cuek.
“Perusahaan nomor 1 di Negara ini atau perusahaan yang ada di atas kita menerima ajuan kerjasama kita, Nona.”
“Benarkah?” Gloria mendongak menatap Gading.
“Benar Nona, dari pihak mereka baru saja menelfon untuk bertemu membahas kerjasama antar perusahaan di restoran A.” Terang Gading
Gloria yang mendengar itu menghentikan aktivitasnya. "Jam berapa?" Tanya Gloria yang menatap Gading dengan intens.
"Jam 12 Nona, sekalian mereka ingin juga makan siang bersama Nona."
Mendengar itu Gloria langsung melirik jam tangannya yang masih jam 21 siang itu artinya 1 jam lagi.
"Selidi tempat itu dan kirim anggota kita untuk berjaga-jaga." Perintah Gloria.
"Untuk apa Nona?"
"Kamu menolak perintahku?"
__ADS_1