
Di sebuah hotel tengah di adakan suatu pesta yang begitu meriah dan mewah. Undangan yang di sebar pun bukan puluhan atau ratusan namun mungkin bisa mencapai ribuan.
Tamu undangan begitu banyak saling berdatangan para wartawan berbaris paling depan untuk mengambil gambar atau mengvidoe jalannya acara. Blitz kamera terus mengkilat membidik siapa saja yang di rasa cukup.
Hotel bintang lima itu kini telah di sulap menjadi sebuah istana untuk merayakan ulang tahun dari seorang putri pengusaha ternama yang merupakan putri dari pebisnis hebat yaitu Juliando Leticia dan putrinya yang berulang tahun adalah Josefenia Leticia.
Malam ini adalah malam dimana putri pengusaha itu resmi berumur 25 tahun. Malam ini juga adalah malam yang sangat penting bagi Josefenia atau sang model yang di kenal dengan nama Fenia.
Tak jauh dari lokasi terlihat 3 orang yang ikut menyaksikan dan melihat barisan para tama undangan yang sangat panjang.
"Aku rasa pestanya pasti sangat meriah dan tentunya mewah..." Ucap Gloria dengan santai namun bibirnya membentuk sebuah senyum miring yang entah apa artinya.
Gading dan Tony yang melihat senyum miring dari sang ketua hanya bisa diam bahkan untuk menelan ludah saja sampai susah.
"Pesta itu memang meriah dan mewah tapi aku yakin ini akan menjadi malah petaka untuk mereka nanti." Kata Gading dalam hati yang dapat merasakan jika Nona muda kecilnya sekaligus ketuanya itu telah menyiapkan rencana yang kapan saja bisa meledak.
"Pesta mewah tapi aku tidak yakin pesta itu akan baik-baik saja saat ketua masuk ke dalam sana." Batin Tony yang meringis memikirkan apa yang akan di lakukan oleh Ketuanya itu.
"Ck.... Kenapa sangat banyak dan begitu panjang. Namun, itu tidak apa karna itu akan semakin bagus." Ucap Gloria yang tersenyum kecil.
"Ketua...."
"Cih... Berhenti memanggilku dengan sebutan yang menjijikan itu. Panggil saja Gloria atau apalah yang penting bukan Ketua." Gerutu Gloria.
Gloria memang sangat tidak menyukai jika di luar dia di panggil dengan kata ketua. Sedangkan Gading dan Tony yang mendengar perkataan dari Ketua mereka hanya bisa menggaruk-garuk kepala karna ini bukan pertama kali atau dua kalinya Gloria meminta mereka untuk tidak memanggil Gloria dengan ketua. Gloria bukan satu ada dua kali meminta untuk mereka memanggilnya dengan nama saja.
__ADS_1
Namun sebagai bawan tentu keduanya merasa tidak enak hati untuk seenaknya memanggil Gloria yang sebenarnya ketua mereka dengan hanya nama saja.
"Ayo....! Panggil namaku cepat...!" Desak Gloria yang menatap tajam kedua orang bawahan di depannya itu.
"Kami tidak berani Ketua...... Bagaimana jika nona saja." Usul Gading yang langsung di setujui Tony.
"Ah itu saya juga setuju...." Sahut Tony yang ikut menyahut.
"Baiklah ku rasa itu sedikit enak..." Balas Gloria yang ikut menyetujui usulan dari Gadng.
Dari pula di panggil ketua Gloria lebih memilih di panggil nona karna kata nona itu umum. Sedangkan di sisi lain begitu juga Gading dan Tony yang tidak ingin memanggil Gloria dengan nama lebih baik memanggilnya Nona.
"Sebenarnya ada apa kita kesini Nona...? Bukankah ini tidak ada dalam rencana kita?" Tanya Gading yang memang sedari tadi sudah cukup penasaran untuk apa mereka datang di tempat ini.
"Rencana berubah..." Ucap Gloria datar.
"Aku tidak tahu jika ****** kecil itu ulang tahun. Aku tidak ingin bermain lambat karna masih ada yang harus aku kerjakan." Ucap Gloria tegas.
Awalnya Gloria tidak niat untuk langsung muncul karna niat awal Gloria adalah menyiksa mereka pelan-pelan tai setelah di pikir-pikir Gloria tidak ingin membuang waktunya hanya bermain dengan para sampah itu.
Gloria tidak bisa diam terus karna dia ingin mencari Luis oleh karena itu Gloria mempercepat balas dendamnya. Walaupun mungkin belum sepenuhnya.
Di dalam hotel para tamu hadirin begitu banyak dari berbagai pengusaha ataupun dari para model papan atau bahkan para orang-orang yang berpengaruh di negara itu juga ikut hadir.
di atas panggung berdiri seorang MC yang sedang membacakan beberapa susunan dari acara.
__ADS_1
"Baiklah para tamu hadiran kini saatnya kita panggil Tuan rumah...."
Suara MC di atas panggung membuat atensi para tamu undangan menoleh ke arah sana.
"Untuk Tuan rumah kita Tuan Juliando silahkan naik di atas panggung untuk menyampaikan sepatah dua kata untuk para tamu hadirin yang hadir pada malam hari ini." Ucap sang MC.
Juliando yang sedang duduk bersama koleganya langsung berdiri. Dengan langkah percaya iri Juliando berjalan di atas panggung.
"SELAMAT MALAM SEMUANYA....." Sapa Juliando pada para tamu undangan.
"Selamat malam."
"Terima kasih untuk para tamu undangan telah menghadiri pesta ulang tahun dari putri semata wayang saya." Ucap Juliando dengan penuh percaya diri yang tinggi mengatakan anak semata wayangnya tanpa menyadari ada seseorang yang tersenyum sinis menatap Juliando dari kejauhan sana.
"Nak kemarilah...." Panggil JUliando yang memanggil sang putri.
Seorang wanita berjalan penuh percaya menuju ke atas panggung. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Josefenia Leticia.
"Dia merupakan putri saya satu-satunya yang tentunya akan mewarisi semua aset saya. Malam ini selain pesta ulang tahun putri saya yaitu Josefenia Leticia saya akan mengumumkan kepada teman-teman media jika putri saya Josefenia akan menjadi pewaris saya....." Ucap Juliando dengan lantang.
Prok
Prok
Prok
__ADS_1
Suara tepuk tangan para tamu undangan terdengar begitu keras. Josefenia yang mendengar gemuruh tepuk tangan semua orang langsung mengangkat tinggi-tinggi dagunya dengan percaya diri.
"MEWARISI ASET YANG MANA TUAN JULIANDO YANG TERHORMAT?"