Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Draft


__ADS_3

"Kok sudah pulang? Harusnya kan nanti malam baru pulang." Sinis Fenia menatap tajam Gloria baru saja masuk ke dalam.


"Kamu itu hanya seekor anjing jangan terus menggonggong di depan majikan mu." Sarkasme Gloria.


"KAU..., BERANINYA KAU MENYAMAKAN AKU DENGAN SEEKOR ANJING..!" teriak Fenia dengan suara yang membahana.


"Itu kenyataannya, harusnya kalian sadar diri jika kalian hanya menumpang di rumah ini. Kalian yang menumpang tapi kalian berlagak seperti seorang Tuan Rumah. Ibunya yang mantan wanita l4cur, ayahnya yang seorang penghianat, dan anaknya sebagai anak h4r4m."


PLAKKK


"Saya bukan anak seperti itu, kamu itu hanya anak yang tak di inginkan. Ayahmu bahkan membuang mu dan lebih menyayangiku di bandingkan anak buang sepertimu. Disini yang sadar diri adalah kamu, kamu anak yang tak di inginkan oleh daddy. Harusnya kamu tidak lahir atau ikut ibumu yang sialan itu ke neraka!"


BRAKKK

__ADS_1


Gloria yang mendengar seseorang menghina wanita yang melahirkannya itu langsung menendang Fenia dengan keras hingga terjungkal di belakang menghantam pintu. Tak hanya itu Gloria bahkan mengambil vas bunga di atas meja.


"Hanya seorang penumpang berani sekali menghina Tuan Rumah he..? Apa hak mu untuk menghina mommy ku?" Gloria berjalan mendekati Fenia dengan memainkan vas bunga di tangannya itu.


Fenia yang melihat itu tentu saja kaget dan panik. Dirinya tidak menyangka akan mendapat respons seperti ini dari Gloria. Biasanya gadis itu tidak akan pernah sampai semarah ini lalu kenapa sekarang dia terlihat mengerikan."


A...apa yang mau ..., kau lakukan? Me..,menjauh dariku! Aku bilang menjauh si4l4n!"


PLAKK


"Apa yang akan kamu lakukan ha..? Apa kamu ingiun membunuh saudara kamu!" bentak Juliando yang menatap tajam Gloria.


Gloria yang melihat tatapan amarah dari Juliando bukannya takut justru semakin menyeringai dingin. Matanya menatap sinis Juliando sebelum memngayunkan tangannya.

__ADS_1


Pyarrrr


"FENIA....!"


Juana dan Juliando berteriak histeris saat melihat kepala Fenia yang sudah berdarah. Kedua orang tua itu langsung segera mengampiri Fenia yang sudah tak sadarkan diri.


"GLORIA..,"


"BERHENTI BERTERIAK PADAKU PAK TUA...!" bentak Gloria balik yang menatap nyalang Juliando.


"Kalian benar-bnenar membuatku muak dan kesal maka terima hadiahku. Jangan fikir aku diam selama ini karena aku menyayangi dirimu pak Tua. Kali ini tidak ada ampun lagi untuk kalian berdua, akan aku pastikan kalian akan segera menyusul mommy ku di akhirat sana. Kalian berdua eh salah kalian bertiga akan aku pastikan menjadi pelayan mommy ku disana." lanjut Gloria yang menatap tajam Juana dan Juliando dengan senyum miring dan misterius di bibirnya.


Setelah berkata seperti itu Gloria langsung berbalik masuk ke dalam mension yang langsung di sambut oleh Lion di anak tangga paling bawah.

__ADS_1


"Kau rindu padaku, boy?" Gloria mengelus bulu-bulu halus milik Lion yang semakin hari semakin lebat.


Gloria segera naik di lantai dua di ikuti Lion di belakangnya. Sedangkan Juana dan Juliando terdiam seribu bahasa saat mendengar nada bicara Gloria yang kali ini benar-benar sepertinya tak ada kata ampun lagi untuk mereka. Juana dan Juliando saling melirik satu sama lain dengan wajat pucat pasi. Bahkan saking paniknya mereka sampai melupakan keadaaan Fenia yang sudah sekarat


__ADS_2