
"KAU BERANINYA KAU MENGHINA PUTRIKU SEPERTI ITU HA...? APA KAMU MAU MATI?" teriak Juana yang murka karena putrinya di rendahkan seperti itu bahkan di dalam rumahnya sendiri.
"Bukankah itu kenyataannya," sahut Juliando yang tiba-tiba angkat suara.
Juana dan Fenia yang mendengar apa yang di katakan oleh Juliando hanya bisa terpaku pada pijakan mereka. Juana menatap nanar sang suami yang bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata dekejam itu pada mereka terlebih di depan orang asing.
Sedangkan Luis pria itu hanya diam dengan sibuk pada apa yang dia kerjakan. Namun walau hanya diam Luis diam-diam tersenyum sinis karena bisa membuat kedua orang itu merasakan bagaimana rasanya tidak di akui oleh orang yang mereka sayang dan mereka percayai./
"Di bandingkan tanganmu yang kotor lebih baik aku yang aan membalaskan rasa sakitmu dengan begitu tanganmu tidak perlu kotor hanya karena untuk membasmi manusia sampah seperti mereka," kata Luis dalam hati.
Luis sudah memutuskan untuk membalaskan dendam Gloria sang kekasih. Luis tahu mungkin Gloria bisa berbuat nekat karena rasa sakit yang terlalu sakit namun Luis tidajk akan membiarkan itu terjadi.
Sebelum Gloria yang akan melakukan perbuatan itu lebih baik dia yang melakukannya dengan begitu tangannya yang akan kotor sedangkan tangan sang kekasih akan bersih. Luis tidak peduli jika harus membunuh orang-orang di depannya itu karena itu memang pantas.
"Kematian memang sudah pasti pantas untuk mereka namun akan lebih pantas lagi jika aku membuat mereka lebih menderita dulu," kata Luis dalam hati yang menyusun rencana untuk membalaskan dendam sang kekasih.
"Julian bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?" tanya Juana yang menatap tak percaya kepada suaminya.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, itu kebenaran bukan?" tanya Juliando balik kepada Juana,.
__ADS_1
"Tapi kita sudah berjanji untuk tidak membahas masalah ini Julian...!" bentak Juana dengan amarah yangmenggebu-gebu.
"AKU TIDAK MEMBAHASNYA..! AKU HANYA MENGATAKAN YANG SEBENARNYA JUANA...!"
"JULIANDO..!"
PLAKK
Sebuah tamparan melayang dan mendarat sempurna di wajah Juana membuat wanita paruh baya itu langsung menoleh ke arah samping.
"Jangan pernah berteriak di depanku Juana...! Kamu jangan lupa jika au adalah orang yang mengangkat derajat kalian hingga menjadi seperti saat ini. Dulu kalian ahnya apa? Anakmu yang hanya bisa sekolah di sekolah biasa dan kamu yang hanya bisa menjadi pelacur murah untuk melanjutkan hidup kalian. Sekarang kalian lupa siapa kalian dan siapa aku hingga berani membentakku?" sarkas Juliando yang menatap sinis.
Jika biasa Juana juga ingin menghapus kirsah masa lalu itu dengan begitu bersih hingga tak ada yang akan bisa mengetahuinya. Dirinya akan mereasa rendah dan juga kotor saat menyadari jika mengingat masa lalunya itu. Kemana hidupnya yang nyaman selama ini? Kenapa sekarang hidupnya hanya ada kemalangan dan penghinaan?
Sedangkan Fenia wanita muda itu hanya bisa meringgut menjauh dengan badan yang bergetar ketakutan mendengar pertengkaran kedua orang yang dulunya sangat menyayanginya itu. Sekarang kenapa mereka tak lagi menatap ke arahnya terutama pria yang ia panggil daddy. Kenapa pria itu sekarang tak lagi menyayanginya?
"Dad jangan berbicara seperti itu," Terdengar Fenia yang menatapnya di sudut sana.
Jika dulu Juliando akan luluh saat melihat sang putri tiri seperti itu maka dia aan langsung luluh dan menuriti apa lemauan dari sang putri tiri. Akan tetapi, saat ini melihat ekpresi itu bukannya luluh Juliando bahkan hanya menatapnya sinis dan penuh penghinaan.
__ADS_1
"Lihat bahkan anakmu juga sangat pintar membuat sandiwara. Sangat cocok denganmu Juana namun tajk mengherankan karena kalian yang sama-sama ibu dan anak,"
"Julian jangan hina putriku," lirih juana yang memeluk Fenia.
Sekotor-kotornya dia namun dia juga tetap seorang ibu dia akan iba melihatputrinya yang akan ketakutan seperti itu.
"Jangan karena aku mencintaimu kau akan berperilaku seenaknya Juana apalagi membentakku. Ingat kalian bukan apa-apa di rumah ini." sindir Juliando dengan pedas.
Selepas berkata dengan begitu pedas Juliando segera berbalik pergi begitu saja meninggalkan Juana dan Fenia yang di pandang sinis oleh para pelayan di rumah itu.
"Sebenarnya ada apa dengan daddy? Kenapa daddy tidak lagi menjadi seperti daddy yang dulu yang penuh akan kelembutan? Kenapa sekarang daddy suka marah-marah dan juga bahkan tak segan memainkan tangannya?" batin Fenia yang bertanya-tanya dalam hati tentang perubahan sikap Juliando terhadapnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Julian kenapa dia sangat tempramental seperti ini? Juliando yang aku kenal dulu tidak seperti ini, Juliando yang aku kenal adalah pria yang sangat lembut dan sangat mencintaiku hingga apapun yang aku inginkan maka dia berikan tapi kenapa sekrang dia seperti ini?"
Tak hanya Fenia yang bingun akan perubahan yang di lajkukan oleh Juliando namun sang Mommy Juana juga merasa heran dengan keadaan sang suami yang tiba-tiba berubah seperti itu.
"Aku harus mencari tahu soal ini," batin Juana dengan menatap arah menghilangnya Juliando.
"Oh ternyata dia anak haram toh..,"
__ADS_1
"KAU...,"