
"Tapi siapa pria tadi…? Kenapa wajahnya tidak asing?" Guman Juliando yang memikirkan Gading.
Wajah Gading tidak asing di mata Juliando wajah pria muda itu seperti pernah muncul dan di lihatnya di masa lalu tapi Juliando tidak ingat itu dimana.
Hingga beberapa menit kemudian Juliando langsung membulatkan mata saat mengingat jika ada kemungkin pria tadi dan anak kecil yang di kenalkannya Vanessa di masa lalu adalah orang yang sama.
"Itu artinya…. Pria itu pasti mengetahui dimana letak harta warisan milik Vanessa yang lain." Guman Juliando yang tersenyum miring.
Sedangkan di tempat lain Fenia baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dari sisa-sisa percintaannya dengan pria tua berperut buncit di atas ranjang itu.
Fenia melirik pakaian yang berserakan di lantai dan menemukan jika pakaian yang di kenakan-nya tadi telah sobek akibat pria tua itu yang tak sabaran.
Melihat itu Fenia hanya bisa menghela napas kesal. Matanya menatap jijik pria tua di atas ranjang. Namun bagaimana lagi ini hanya jalan satu-satunya untuk kembali di puncak karirnya. Tapi yang jadi masalah ia akan mengenakan apa? Fenia takut jika hanya mengenakan jubah mandi nanti pria tua itu bangun bisa-bisa dia di gempur lagi pikir Fenia yang mencari akal untuk menghindar dari pria tua itu.
"Sial, pria tua ini benar-benar agresif bahkan bajuku sampai sobek seperti ini. Jika begini aku harus memakai apa?" Gerutu Fenia dengan kesal meremas pakaiannya tadi.
Tak punya pilihan lain Feni hanya bisa duduk di sofa menunggu pria tua itu bangun dan juga menunggu hari gelap. Fenia tidak bisa mengambil resiko untuk keluar sekarang karna mengingat hari masih sore dan tentunya banyak orang yang lalu lalang itu akan membuatnya dalam bahaya nanti.
Jika Fenia keluar pada malam hari maka itu akan mengurangi sedikit bahaya dan tentunya akan sulit untuk mengenalinya di kegelapan malam nanti. Fenia hanya bisa duduk diam di sofa dalam ruangan itu karna Fenia tidak berani untuk memainkan ponselnya. Jangankan memainkan melihat saja Fenia tidak berani.
Fenia sangat tidak bisa menerima hinaan dan hujatan dari para netizen. Oleh karena itu, Fenia memilih untuk diam tanpa memainkan benda persegi panjang itu.
Fenia hanya bisa dengan terpaksa membaca koran di atas meja guna untuk mengusir rasa bosan yang datang melandanya.
Beberapa menit berlalu tetapi Fenia masih fokus dan menatap serius majalah di tangannya itu. Hingga Fenia di kagetkan dengan sebuah sentuhan di bahunya.
"Kamu tidak tidur baby…" bisik pria tua itu di telinga Fenia tak lupa mulai memberi ciuman di bahu Fenia.
"Gawat, tua Bangka ini lagi sepertinya ingin menerkam aku lagi tapi…. Aku juga menyukai hujamannya." Batin Fenia yang sudah benar-benar gila sepertinya.
"Ah om…" desah Fenia saat tangan pria tua itu mulai memainkan gunung kembarnya.
__ADS_1
"Panggil Daddy sayang…."
"Ah Daddy…"
"Aku suka itu… ah aku sudah tidak sabar…"
Pria tua itu langsung membuka jubah mandi Fenia lalu membaringkan Fenia di atas sofa dengan terlentang.
Jleb
"Dad….dhy" Fenia mendesah tertahan merasakan di dalam sana terasa penuh dan sesak.
"Sudah Daddy katakan, Daddy akan membuat kamu puas sayang." Ucap pria tua itu yang mulai menggenjot Fenia.
Dengan penuh semangat pria tua itu terus menompa tubuhnya maju mundur membuat Fenia semakin mengeluarkan suara-suara aneh hingga kamar itu hanya di penuhi oleh suara-suara itu.
Fenia yang tadinya merasa jijik dan enggan menikmati permainan pria tua itu. Kini justru semakin mendesah gila apalagi saat pria itu memasukinya dari belakang. Fenia semakin mendesah kasar saat hujan demi hujaman yang di berikan pria tua itu semakin mengobrak abrik dalam dirinya hingga membuatnya merasakan kenikmatan yang tiada tara.
"Kamu benar-benar nikmat sayang…. Terima kasih kamu membuat ku puas." Kata pria tua yang ternyata bernama Diki.
Dini berjalan ke kamar mandi meninggalkan Fenia yang masih mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Fenia merasa seperti bercinta dengan pria mudah dan gagah yang memiliki energi dan stamina yang begitu besar seperti Diki.
Beberapa menit kemudian terlihat Diki keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Diki segera memakai pakaiannya lalu menatap ke arah Fenia yang masih terlentang di atas sofa. Dengan langkah ringan Diki mendekati wanita muda yang baru saja memuaskan hasratnya itu.
"Capek…?" Tanya Diki yang duduk di depan Fenia.
"Lumayan, stamina om kuat banget" jawab Fenia dengan ekspresi malu-malu.
Diki yang mendengar itu langsung membusungkan dada bangga. Diki memang terkenal hobby main perempuan dimana bukan hanya Fenia model atau artis muda yang pernah dia tiduri. Namun, mereka selalu mengatakan jika Diki memiliki stamina yang sama seperti pria muda.
"Om…."
__ADS_1
"Panggil daddy sayang." Potong Diki.
"Baiklah dad, lalu bagaimana dengan karirku? Aku tidak akan….."
"Tenang saja sayang… bukankah sudah Daddy katakan semua akan baik-baik saja. Kamu hanya tinggal menunggu job akan segera datang menghampiri kamu." Kata Diki dengan ekspresi serius.
"Baiklah dad, aku akan menunggu kabar baik darimu." Ungkap Fenia yang memaksakan senyuman di bibirnya.
"Daddy pulang dulu, baju ganti mu ada di atas nakas sana. Tapi ada baiknya kamu pulang pada malam hari itu akan membuatmu aman dari pantauan wartawan atau awak media lainnya." Saran Diki yang tak ingin Fenia pulang sekarang karna itu akan berdampak buruk untuk simpanannya itu.
"Dad tenang saja, aku akan mengikuti saran dari Daddy untuk pulang malam." Sahut Fenia.
"Baguslah jika begitu, dad pulang dulu kamu tinggallah disini. Sebentar lagi akan ada pelayan yang mengantar makanan untukmu, maaf dad tidak bisa menemanimu." Ucap Diki yang merasa tak enak pada Fenia.
"Tidak apa-apa Dad." Balas Fenia dengan tersenyum manis.
"Cepatlah pergi, aku sudah muak melihat perut buncit kamu itu." Umpat Fenia dalam hati.
Diki yang mendengar itu tersenyum ternyata simpanannya itu juga begitu mengerti dirinya. Diki berdiri menghampiri Fenia melayangkan kecup manis di kening sang wanita.
Cup
"Ini ada cek 200juta ambillah dan belanjalah apa yang kamu butuhkan." Ucap Diki yang meletakan cek dengan nominal yang tertera 200juta.
Fenia yang melihat itu membulatkan mata lebar-lebar melihat Diki dengan enteng memberinya uang sebesar itu di pertemuan pertama mereka.
"Terima kasih dad." Balas Fenia dengan tersenyum manis. Kali ini tersenyum manis benar-benar manis karna di kasih uang.
Diki berbalik berjalan keluar dari kamar hotel yang menjadi saksi bisu percintaan mereka tadi. Sedangkan Fenia wanita itu tidak peduli lagi kepada keberadaan Diki tangannya langsung meraih cek itu lalu menciumnya beberapa kali.
"Gila… cuma hanya gitu doang dapat 200juta? Ini namanya sekali dayung dua pulau terlampau. Satu karir aku akan kembali berjaya, dua aku dapat uang tambahan." Sorak Fenia yang meloncat-loncat kegirangan.
__ADS_1