Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Melukis


__ADS_3

"Pastikan semua data-data itu bocor ke publik! Karna itu seperti boom waktu yang akan meledak kapan saja." Ucap Luis dengan senyum licik di bibirnya.


"Saya undur diri Bos." Ucap Javier yang berlalu pergi.


"Dulu aku hanya diam paman tapi tidak sekarang. Sekarang aku ingin hidup lebih lama lagi karna ada yang harus aku jalani. Aku sudah menemukan alasan aku yang lain untuk bertahan hidup. Jadi, Paman mari kita mulai permainan ini." Bisik Luis entah pada siapa.


Sedangkan di tempat lain Fabian langsung melotot tajam saat saat mendengar laporan di balik ponselnya itu.


"Bagaimana bisa? I.......ini tidak mungkin..."


"BAGAIMANA KERJA KALIAN KENAPA SAMPAI TERENDUS KEPOLISIAN..? AKU TIDAK MAU TAHU CARI CARA MELOLOSKAN SEMUA MASALAH ITU. DAN PASTIKAN NAMAKU KALIAN TIDAK SEBUT JIKA KALIAN SEMUA MASIH MENYAYANGI KELUARGA KALIAN." Fabian berteriak di depan ponselnya sebelum menutup sambungan telfon itu.


AAAAA


Prang....


Ponsel yang harganya puluhan juta itu langsung hancur berkeping-keping saat Fabian membanting dan menginjak-injak benda persegi itu hingga tak berbentuk lagi bagaimana bentuknya.


"Ada apa Dad? Kenapa daddy sepertinya cemas seperti ini?" Tanya Regis yang tidak mengetahui apa-apa.


"Klub kita yang ada di wilayah Z terendus polisi. Entah siapa yang melaporkan hal ini jika Klub itu tidak ada izin dan terjadi transaksi obat terlarang." Jawab Fabian yang benar-benar buntu sekarang.


"Bagaimana bisa itu terjadi Dad..? Bukankah selama ini aman-aman saja? Kenapa sekarang justru bisa begini?" Ucap Regis panik'


"Kecilkan suara mu jangan sampai ada yang mendengarnya atau kita akan benar-benar akan habis." geram Fabian yang menatap tajam sang putra.


Fabian Alejandro Ceo perusahaan Fabian C'rop merupakan salah satu cabang fari perusahaan Alejandro Group. Namun, saat Fabian mengambil alih perusahaan itu banyak yang berubah termaksud namanya.


Selain menjadi Ceo perusahaan itu Fabian membangun usaha lain berubah sebuah restoran mewah, hotel dan beberapa klub yang begitu di gemari oleh para pria hidung belang dan tentunya wanita kupu-kupu malam.


Di dalam klub itu bukan hanya tempat hiburan semata karna di dalam klub itu juga terjadi transaksi obat-obatan seperti ganja atau sabu-sabu intinya Narkoba meraja lelah di dalam klub itu. Itu sebabnya klub-klub milik Fabian banyak di gemari oleh orang-orang karna mereka terus mencari barang ilegal itu.


Namun Fabian bingun dan pusing bagaimana bisa sekarang salah satu klubnya justru di ketahui polisi. Bahkan selama ini aman-aman saja bagaimana bisa terbongkar di saat seperti-seperti saat ini.


"Sial, sebenarnya siapa yang melaporkan klub milikku hingga bisa seperti ini?" Geram Fabian yang benar-benar kesal.


"Dad... Jangan-jangan ini ulah dari anak sialan itu." Kata Regis yang langsung menuduh Luis.


"Apa kamu benar-benar bodoh ha...? Tidak mungkin anak sialan itu yang menjadi dalangnya. Anak itu baru kembali tadi malam sangat tidak masuk akal jika dia pelakunya." Bentak Fabian yang menatap tajam Regis.


Regis yang mendengar bentakan dari sang ayah hanya bisa diam tak berkutik lagi.


"Aku yakin ini pasti ulah dari Luis sialan itu tapi aku harus bilang bagaimana lagi ke daddy jika memang ulah dia. Luis sialan.... Kenapa kamu sangat sulit untuk di singkirkan sialan..." Teriak Regis dalam hati yang sudah cukup muak dengan Luis yang terus dari maut yang mereka rencanakan.


BUkan sekali atau dua kali kedua Ayah dan anak itu mencoba membunuh Luis tapi selalu saja selamat dari ajal. Luis seperti kucing yang memiliki nyawa sembilan walaupun sering di tembak bahkan di bakar dalam gudang masih juga hidup. Regis semakin membenci kehadiran Luis yang selalu unggul di banding dirinya. Bahkan Fabian yang notabenenya adalah ayahnya sendiri sering kali membandingkannya dengan dirinya.


"Tapi dad aku yakin dia pelakunya..." Kata Regis yang kali ini tidak mau diam.


Regis ingin membuktikan kepada ayahnya jika apa yang di dikatakannya adalah kebenaran.


"Itu tidak mungkin Regis...! JIka Luis itu tidak mungkin bahkan sangat mustahil. Jika dia bagaimana caranya anak sialan itu bisa menemukan bukti dan melaporkan kasus tentang klub itu. Jika itu adalah benar-benar dia maka bukan hanya satu klub yang di laporin tapi semuanya." Terang Fabian yang memijit pelipisnya saat merasakan sepertinya darah tingginya kambuh lagi.


"Sial aku melupakan itu... Jika benar-benar dia pelakunya itu benar tidak masuk akal. Anak sialan itu tidak akan secepat ini menemukan bukti tentang klub itu. Selama ini kami bermain aman tidak mungkin Luis bisa mendapatkan 1 kali 24>" Kata Regis dalam hati yang mulai menghapus keraguannya terhadap Luis.

__ADS_1


"Apa kita punya musuh baru lagi Dad?" Ucap Regis tiba-tiba yang membuat Fabian langsung membulatkan mata.


Fabian mulai berpikir jernih mencari dan mengingat kejadian beberapa terakhir ini tapi di ingatannya tidak pernah sekalipun dia membuat ulah atau menyinggung orang lain.


"Daddy tidak mengganggu atau mengusik orang akhir-akhir ini. Bagaimana denganmu?" Tanya Fabian balik ke arah REGIS.


Regis yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung berpikir keras tapi tidak menemukan ingatan yang janggal.


"Aku juga tidak melakukannya daddy." Jawab Regis dengan mantap.


"Teruslah berpikir wahai paman dan sepupuku tersayang karna kejutan selanjutnya akan segera menyusul." Ucap Luis dengan menatap sinis leptopnya yang menunjukan gambar paman dan sepupunya yang tak lain dan tak bukan adalah Fabian dan Regis.


Tok


Tok


Luis yang mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk langsung menutup leptopnya.


"Masuk" Sahut Luis yang menyimpan leptopnya di laci karna Luis tahu jika yang datang bukan Javier.


Ceklek


"Kak..." Luisa menunjukan kepalanya di pintu membuat Luis terkekeh akan ulah dari sang adik.


"Masuklah." Pinta Luis dengan lembut lembut melambaikan tangannya ke arah sang adik agar masuk ke dalam uang kerja miliknya


"Apa kakak tidak sibuk?" Bukannya masuk Luisa justru melempar pertanyaan ke arah sang kakak.


"Baiklah." Luisa segera masuk Namun Luis mengerutkan alis saat melihat di tangan sang adik ada kertas besar lebih tepatnya kanvas.


Tatapan mata Luis semakin menajam melihat 2 orang masuk ke dalam ruangannya dengan beberapa barang di tangan mereka masing-masing.


"Alat lukis?" Guman Luis dalam hati yang menatap Luisa dengan pandangan daam.


Apa adiknya itu ingin melukis tapi setahu Luis adiknya Luisa tidak pernah belajar melukis. Bagaimana bisa dia membawa barang-barang yang merepotkan itu pikir Luis.


"Letakan disana dengan rapi ya bii..." Perintah Luisa dengan lembut memberi instruksi kepada kedua pelayan yang membawa barang yang di butuhkannya.


"Sudah Nona... Kami undur diri dulu.." Kedua pelayan itu langsung membungkuk lalu berjalan keluar dari ruang kerja milik Luis.


"Ini untuk apa princess?" Tanya Luis yang menatap jengah perlengkapan menulis di depannya.


"Tunggu.." Luisa segera memasang kertas kanvas d kayu lukis


"Aku mau melukis kak... Jangan tanya aku bisa atau tidak jawabannya adalah pasti bisa. Kakak lupa jika dalam diri kita mengalir darah ibu yang merupakan pelukis paling di kenal di negara ini bahkan negara lain." Ucap Luisa dengan nada bangga.


"Jadi kamu benar-benar ingin melukis princess?" Tanya Luis yang kurang percaya.


"Yakin saja Bos... Adik kecilmu itu suah sangat jago melukis." Sahut Javier yang tiba-tiba masuk dan langsung menyahut begitu saja.


"Ck.... Siapa yang menyuruhmu masuk.?" Sarkas Luis yang menatap tajam Javier.


Javier yang melihat tatapan tajam dari Luis hanya bisa cengengesan sendiri memamerkan giginya yang rapi.

__ADS_1


"Ampun Bos hehe..."


Cih...


Luis hanya bisa berdecih saja lalu menoleh ke arah sang adik yang dengan santai menuangkan dan mencampur warna yang satu ke warna lain agar menciptakan warna baru.


"Jadi kamu ingin melukis kakak?" Tanya Luis yang masih memperhatikan sang adik.


"No..... Bukan kakak tapi calon kakak ipar." Sahut dari Luisa dengan senyum cerah di wajahnya.


"Kakak hanya perlu diam berkonsentrasi membayangkan rupa dari calon kakak ipar dan aku akan menggambarnya sesuai instruksi apa yang kakak katakan." Terang Luisa.


"Apa kakak bisa meminta...?" Ucap Luis yang entah kenapa berharap sang adik bisa melukis sempurna rpa wanita yang di rindukannya itu.


"Katakan akan aku kabulkan." Ucap Luisa yang menyanggupi keinginan sang kakak.


"Aku ingin kamu melukisnya sedang berbaring di padang rumput dengan seekor singa yang menjadi bantalnya." Pinta Luis yang menatap penuh harap sang adik.


Deg


Luisa yang mendengar permintaan sang kakak tertegun. Luisa tahu permintaan Luis sulit untuk pemula sepertinya tapi melihat tatapan penuh harap itu Luisa tahu kakaknya sangat merindukan sosok itu.


"Bisa...! Aku pasti melukisnya seperti keinginan Kakak." Jawab Luisa dengan yakin.


Mendengar itu Luis tersenyum lebar membuat Javier dan Luisa tertegun di buatnya. Selama ini memang Luis sering tersenyum namun tidak selebar dan seikhlas itu.


"Kakak diam dulu aku akan menggambar polanya dulu." Ucap Luisa yang mulai menggoreskan kuas di atas kanvas.


"Aku tahu ini sulit tapi kamu tidak boleh menyerah Luisa. Kamu harus membantu kak Luis agar sedikit kerinduannya terobati dengan bisa melukis rupa dari wanita itu." Kata Luisa dalam hati dengan keringat yang mulai menetas di keningnya


"Warna kulitnya?"


"Putih bersih bercahaya layaknya porselin."


"Bagaimana rambutnya Kak?"


"Hitam pekat sedikit bergelombang pada ujungnya."


"Bagaimana alisya?"


"Tipis amun tajam seperti pedang."


"Matanya?"


"Bola mata abu-abu tatapannya polos dan memiliki tatapan teduh."


"Bibirnya?"


"Bibirnya.... Tipis semerah cherry memiliki senyum yang begitu indah di pandang."


"SELESAI...!"


Deg

__ADS_1


__ADS_2