
Hari terus berlalu cepat hingga tak terasa Gloria dan Luis berpisah sudah sebulan. Kedua orang itu hanya bisa saling memendam kerindu an dalam dia. Membisik rindu pada kegelapan malam dengan harapan kiranya rindu itu kesampaian.
Saling memeluk dalam angan dan rasa hampa yang kosong pada relung hati yang tak kunjung menemukan pemiliknya.
Kedua insan yang saling mencintai dan memiliki rasa yang sama harus di pisahkan oleh jarak dan waktu tanpa mengetahui kisah ataupun kabar dari salah satunya.
Kedua insan yang di pisahkan dengan permasalahan yang hampir sama. Hingga keduanya terpisah tanpa kepastian.
Kedua orang asing yang sama-sama berjuang engan harapan yang sama di masa depan.
Luis menggerakkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan masalah yang di timbulkan pamannya saat dia menghilang.
Pria itu bahkan tak tertidur nyenyak karna harus terus bekerja dan membereskan semuanya.
Seperti sekarang Luis menatap datar dan dingin laporan keuangan antara anggaran dana yang keluar dan anggaran dana yang masuk.
BRAKK
Luis yang tidak bisa membendung lagi amarahnya langsung mengebrak meja. Luis benar-benar emosi bagaimana jumlah pengeluaran lebih besar di banding jumlah pemasukan.
"Bagaimana kinerja kalian hingga kasus seperti ini bisa terjadi? Aku sudah memberi kalian waktu satu bulan untuk memperbaiki semuanya termasuk dengan pendapatan pemasukan perusahaan ini tapi kenapa masih seperti ini juga? Apa kalian bekerja tidak menggunakan oak kalian itu...?"
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tidak ada yang membuka suara. Jangankan membuka suara menatap Luis saja tidak ada yang berani termaksud Javier yang sejak tadi hanya bisa berdiri diam tanpa bisa membuka mulut.
Jika biasanya Javier yang bisa menenangkan Luis maka berbeda dengan sekarang yang bahkan untuk mengeluarkan suaranya saja Javier tidak berani.
Javier memang sering melihat Luis marah-arah atau pun mengamuk. Namun tidak sampai semarah ini juga.
"Kenapa diam....?" Sentak Luis yang menatap tajam semua orang di dalam ruangan meeting itu sudah siap menyantap mereka satu persatu.
__ADS_1
"I...itu bos ada beberapa konsumen yang mengatakan jika produk baru yang kita keluarkan adalah jiplakan dari perusahaan lain..." Ucap salah satu pria paruh baya yang di ketahui sebagai kepala pemasaran.
"Jiplakan...? Kamu yakin?" Ucap Luis yang menatap datar pria patuh baya itu.
"Benar Bos... Mereka mengatakan jika produk kita hasil tiruan dari perusahaan lain."
"Perusahaan mana?"
"Fabian C'rot...."
"Mereka lagi....." Luis mengeram marah saat mengetahui jika semua kerugian yang di alami perusahaannya adalah ulah dari Fabian dan Regis yang merupakan Paman dan Sepupunya sendiri.
Luis benar-benar sudah muak menghadapi kedua manusia tak punya hati itu membuat Luis cepat-cepat ingin menghabisi keduanya.
"Bubar...! Rapat di hentikan.." Luis segera menyuruh semua orang untuk keluar dari ruang rapat.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Bos...?" Javier bertanya dengan duduk santai di samping Luis.
"Apalagi...? Hancurkan saja semuanya... Sebarkan semua bukti tentang klub yang di milikinya. Sebarkan ke semua media biar perusahaannya ikut tumbang sekalian." Ucap Luis dengan sinis.
Nyatanya memberi peringatan pada kedua manusia bodoh itu tidak berefek pada apapun membuat Luis benar-benar marah.
"Baik Bos..." Javier langsung undur diri meninggalkan Luis yang masih beta berada di dalam ruang rapat.
"Maafkan aku mungkin.... Aku akan sedikit membuat kamu menunggu. Namun, aku berjanji aku akan menjemputmu. Jadi, bertahanlah sedikit lagi.
Sedangkan di tempat lain Gloria sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam kehidupan orang yang telah membuatnya berpisah dengan Ibu dan kakeknya.
"Ketua...." Gading masuk ke dalam ruangan yang menjadi ruangan khusus ketua yaitu Gloria.
__ADS_1
"Kamu sudah datang... Bagaimana?" Gloria yang tadi sedang memainkan bulu Lion langsung menoleh ke arah Gading yang baru masuk ke dalam ruangannya.
"Semua yang data-data Ketua butuhkan ada disini..." Gading segera meletakan sebuah berkas di atas meja kerja Gloria.
"Benarkah.....?" Gloria berdiri berjalan mendekat dan duduk di kursinya membuka berkas yang memiliki sampul kuning itu.
"Kamu semuanya lengkap?" Tanya Gloria yang perlahan-lahan membuka map itu.
"Semuanya lengkap tidak ada apapun yang tersisa semua telah saya simpan di dalam map itu." Jawab Gading yang begitu tegas dan yakin dengan ucapannya.
Gloria yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja mulai membaca informasi yang tertulis di kertas putih itu.
"Juliando Letecia seorang pengusaha sukses dan mapan yang terkenal di negara jerman. Juliando memiliki istri bernama Juana Leticia yang memiliki beberapa kafe dan restoran yang cukup mewah. Pernikahan keduanya memiliki satu anak perempuan bernama Josefenia Leticia seorang model papan atas yang lagi naik daun." Gloria membaca satu persatu apa yang ada dan tertulis di dalam kertas itu.
HAHAHAHA
Gading yang mendengar Gloria tertawa tiba-tiba langsung meringkuk mundur. Entah kenapa bagi Gading Gloria lebih baik marah dan melampiaskan amarahnya di banding dia harus menyaksikan Gloria tertawa seperti itu yang terdengar lebih menakutkan.
Gloria tertawa namun matanya memerah bukan karna air mata tapi lebih ke arah menahan amarah. Tangan Gloria dengan kasar mencengkeram kertas di tangannya hingga menjadi kusut.
"Bajingan ini..... Berani sekali bajingan kotor itu menggunakan marga ibuku bahkan dua wanita ****** ini juga dengan bangga menggunakan Marga dari ibuku." Gloria menatap datar dan tajam potret ketiga orang di atas mejanya itu.
"Bukankah mereka terlihat seperti keluarga harmonis?" Ucap Gloria yang terkekeh sinis.
Gading melirik potret keluarga bahagia yang saling merangkul itu. Tangan Gading mengepal dengan erat darahnya pun ikut mendidih melihat wajah-wajah munafik di atas potret itu.
"Mereka memang keluarga berbahagia Ketua tapi kebahagiaan itu akan segera terganti dengan penderitaan." Balas Gading dengan tatapan penuh kebencian dan dendam kepada potret 1 keluarga itu.
"Kau benar... Mereka akan segera mendapatkan balasan." Sahut Gloria tersenyum miring.
__ADS_1