
"Maksud kamu apa Juana?" Tanya Juliando pergi.
"Apalagi? Temui para pemegang saham lalu bujuk mereka untuk melakukan protes dengan Gloria. Dengan seperti itu maka Gloria tidak akan jadi pemimpin perusahaan dan dad yang akan kembali menjadi pemimpin perusahaan itu." Kata Juana.
Juliando yang mendengar usulan dari Juana langsung terdiam memikirkan apa yang di katakan Juana ada benarnya. Jika Juliando bergerak sekarang masih ada kemungkinan untuk menguasai semuanya lagi.Di tambah dengan Gloria yang menghilang begitu saja akan menambah banyak peluang untuknya.
Apalagi jelas-jelas ada beberapa petinggi dan pemegang saham yang tidak menyetujui jika Gloria menjadi pemimpin perusahaan. Juliando yakin dengan mengajak beberapa orang itu akan mampu membuat Gloria mempertimbangkannya untuk menjadi pemimpin perusahaan kembali. Di saat itulah Juliando akan bergerak menguasai semuanya.
"Kenapa diam sih dad? Sudah sana siap-siap untuk ke perusahaan mumpung anak itu tida ada di tempat." Desak Juana yang mendorong sang suami untuk mengganti pakaian miliknya dengan pakaian formal.
"Aduh sebentar Juana," kata Juliando dengan menyingkirkan tangan juana dari lengannya.
"Apalagi sih??" Juana menatap kesal ke arah Juliando yang duduk kembali di kursi.
"Kamu itu bodh atau bagaimana sih Juana? Aku tidak mungkin akan pergi ke perusahaan begitu saja. Jika di sana ternyata ada anak itu bagaimana? Aku akan dipermalukannya lagi aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Cukup satu kali anak itu berhasil mempermalukanku di depan semua orang tidak untuk yang kedua kalinya lagi." Kata Juliando dengan sorot mata yang tajam dan tangan yang mengepal erat.
Perbuatan Gloria beberapa hari yang lalu yang membuat dirinya malu di hadapan para petinggi dan pemegang saham perusahaan benar-benar membekas di ingatkan pria itu. Juliando tidak akan pernah melupakan penghinaan yang diberikan oleh Gloria kepadanya.
Untuk bergerak menguasai perusahaan Juliando harus menyusun rencana sematang-matangnya agar kelak tidak terjadi kegagalan. Juliando paham jika sosok yang berada di belakang Gloria adalah pria tua yang merupakan orang kepercayaan mantan Ayah mertuanya dulu yaitu Tuan Anthony yang merupakan orang kepercayaan dari Tuan Gerald.
Juliando tidak bisa bergerak bebas jika sosok itu yang berada di belakang Gloria. Jalan satu-satunya yang harus Juliando lakukan jika ingin menguasai perusahaan itu kembali maka harus menyusun rencana yang benar-benar matang. Saking matangnya mereka harus menjalankan rencana itu dengan halus dan penuh kehati-hatian agar tidak dicurigai oleh Tuan Anthony.
__ADS_1
"Orang yang berada di belakang anak itu bukanlah orang yang mudah kita singgung. Untuk menguasai semuanya kembali kita harus menyusun rencana dengan baik dan menjalankannya pula dengan halus agar tidak terhendus oleh pria tua itu." Kata Juliando dengan tenang.
"Pria tua yang mana, dad?" Tanya Juana yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Pria buah yang dulu menjadi orang kepercayaan dari tua bangka Gerald."
"Lho pria tua itu belum mati?" Kaget Juana yang mendengar ucapan sang suami yang mengatakan jika pria tua itu berada di belakang Gloria.
"Belum, bahkan pria itu berada di pihak Gloria Bahkan dia yang membuat aku diusir dari perusahaan dengan sangat memalukan." Balas Juliando yang terdengar menahan amarah dan kekesalan di dalam hati.
"Sial, Kenapa pria tua itu juga harus ikut campur dengan urusan kita segala? Dari Dulu mereka semua hanyalah penghalang kita untuk menguasai semua ini." Kata Juana dengan sorot mata penuh kebencian.
"Kamu benar mereka semua memang menghalang untuk kita semua."
Juliando yang mendengar usulan dari Juana langsung terdiam dengan dahi yang mengkerut mempertimbangkan usulan dari sang istri. Beberapa menit kemudian sebuah seringaian terbit di wajah pria paruh baya itu.
"Akan lebih baik jika dia juga ikut menyusul Tuannya bukan?" Senyum sinis Juliando yang terlihat menyeramkan.
Tak
Tak
__ADS_1
Tak
Juana dan Juliando menatap ke arah asal suara yang ternyata Fenia yang berjalan ke arah mereka dengan pakaian yang lengkap sepertinya wanita itu akan keluar.
"Mau gimana kamu, Fenia?" Tanya Juliando kepada putri sambungnya.
"Mau keluar dad, hari ini manager aku menemukan seorang produser sebuah film yang katanya sedang mencari pemeran utama." Jawab Fenia dengan senyum yang merekah di bibirnya yang telah di hiasi lipstik berwarna merah itu.
"Lalu apa hubungannya sama kamu?"
"Yah jelas ada dong, dad. Tadi dengar sendiri kan? Katanya produser film itu sedang mencari pemeran utama. Jadi, Fenia pati akan menjadi pemeran utamanya.." Ucap Juana dengan percaya diri jika putrinya akan menjadi seorang artis yang terkenal.
"Apa kalian bodoh atau otak kalian yang bermasalah? Karir Fenia berada di ujung tanduk, kebenaran dirinya yang lahir sebagai seorang anak haram telah terbuka di muka publik. Lalu, ada produser yang ingin menjadikannya film peran utama? Apa kalian tidak berpikir jika itu bisa saja sebuah film dewasa? Lagipula untuk saat ini akan sangat bahaya bila Fenia keluar dari mension atau keluyuran di siang hari seperti ini. Kamu lupa jika dulu Fenia adalah seorang model papan atas?Dan sekarang para awak media sedang mencari dan memburu dirinya. Jika ingin keluar maka keluarlah, tapi aku tidak bertanggung jawab bila sesuatu terjadi pada putrimu itu." Kata Juliando yang menjelaskan situasi di luar sana yang tidak aman untuk Fenia.
Setelah berkata seperti itu Juliando segera beranjak berdiri berbalik lalu pergi meninggalkan Juana dan Fenia yang masih berdiri mematung di tempat.
"Feni, apa yang dikatakan oleh daddy mu itu benar, kamu harus lebih berhati-hati dan selektif memilih job yang akan kamu ambil. Karena bisa saja itu berupa sebuah jebakan untuk menjerumuskan kamu di lembah kehancuran." Timpal Juana yang membenarkan apa yang di katakan Juliando tadi.
"Aduuuuh mom, Plisss deh. Aku sudah lama menggeluti bidang ini tidak mungkin aku mendapatkan peran seperti itu." Balas Fenia yang menatap jenis Juana karena tidak menyukai apa yang baru saja dikatakan oleh wanita paruh baya itu.
"Tapi apa yang dikatakan oleh daddy kamu itu juga benar Fenia. Saat ini para wartawan dan awak media lainnya sedang mencari-cari dan memburu dirimu. Jika kamu keluar dalam keadaan yang ramai seperti ini itu bisa bisa membahayakan diri kamu sendiri."
__ADS_1
"Sudah? Sudah kan, ngocehnya? Aku tuh udah besar sudah dewasa, aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk karirku ke depannya. Mommy tidak perlu terlalu ikut campur dalam segala hal urusanku oke? Aku pergi dulu."