
"SELESAI...!"
Deg
Louis yang menutup mata langsung membuka matanya secara sempurna menatap lukisan di depannya. Jantungnya berpacu dengan kencang dengan mata yang membulat sempurna Melihat lukisan di depannya yang benar-benar menyerupai wanita yang sangat di rindukannya itu.
Bukan hanya Louis yang terpaku namun Javier dan Luisa pun ikut terpaku melihat rupa dari lukisan itu.
Luisa menatap rupa yang berhasil dilukisnya itu namun Gadis itu untuk sesaat merasa gagal karena menurutnya gadis yang di bayangkan kakaknya tidak akan secantik dan sesempurna yang di lukisnya itu.
"I......ini...." Luis berdiri mendekati lukisan itu menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam dan juga penuh kerinduan.
"A.....apa ini tidak berlebihan atau mungkin tidak serupa dengan rupa yang kakak bayangkan. Maaf sepertinya aku gagal." Ucap Luisa yang menundukkan kepala.
Baik Javier maupun Luisa sama-sama yakin jika perupa yang ada di dalam lukisan itu terlalu sempurna hanya untuk menggambarkan seorang wanita yang di cintai oleh Luis.
"Tidak..... Kamu tidak gagal Princess, ini benar-benar mirip sama seperti dirinya tidak ada kekurangan apapun." Ucap Louis yang mengangkat lukisan itu.
Deg
Javier dan Luisa sa yang mendengar penuturan dari Louis langsung tertegun. Sekali lagi Luisa langsung mengangkat pandangannya menatap lukisan hasil dari goresan tangannya. Namun lagi-lagi Luisa menolak untuk percaya baginya merupakan di lukisan itu terlalu cantik untuk seukuran wanita bahkan dirinya pun merasa minder akan hal itu.
"Tidak mungkin.... Bagaimana bisa dia mempunyai rupa sesempurna ini?" Guman Luisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.
"Nyatanya dia memang cantik aku seperti peri namun akan brutal jika sudah berhadapan dengan hewan buas." Balas Luis yang benar-benar serius dengan ucapannya.
"Tapi bro ini terlalu mustahil...."
"Aku bahkan dapat mengingat setiap bentuk dan setiap garis wajahnya di saat aku menutup mata. Bagaimana bisa aku tidak mengenalnya?" Tanya Louis balik yang membuat Javier maupun Luisa terdiam.
"Sudahlah.... Intinya terima kasih dan lukisannya kakak bawah." Ucap Luis melempar senyum tipis ke arah sang adik.
Louis berjalan keluar dari ruang kerjanya langsung menuju ke kamarnya meninggalkan Luisa dan Javier yang masih terdiam di tempat.
Sedangkan di tempat lain Gloria berlatih mati-matian untuk mencapai tujuannya dan membuktikan Jika dia mampu untuk menjadi ketua dari Scorpio. Sudah 2 jam Gloria terus memukul samsak di ruangan latihan itu.
Beberapa anggota dari Scorpio termasuk Anthony juga berada di ruangan yang sama menyaksikan Bagaimana Gloria memukul samsak dengan keras hingga suaranya begitu nyaring.
__ADS_1
Anthony dan beberapa anggota Scorpio yang lain hanya bisa berdiri kaku menyaksikan apa yang Gloria lakukan. Mereka tidak ada yang berani maju Untuk menghentikan Apa yang di lakukan oleh Gloria.
Sudah 3 hari Gloria melatih dirinya dengan keras bahkan di saat melatih anggotanya pun latihannya bukan main-main. Tak tanggung-tanggung Gloria bahkan menyuruh anggotanya untuk saling bertarung satu sama lain untuk mengaduk kekuatan mereka.
"Tuan..... Apa tidak baiknya Tuan mencoba menghentikan ketua? Ini sudah 2 jam full ketua terus memukul samsak itu tanpa istirahat bahkan untuk meminum setetes air sedikitpun." Terang salah satu anggota Scorpio yang berada di samping Anthony.
Pria yang memberi usul kepada Anthony itu bernama Toni orang yang ditunjuk Gloria sebagai wakil kedua atau tangan kirinya selain Gading.
"Jika aku berani maka sudah aku lakukan sedari tadi. Namun melihat saja bagaimana kerasnya pukulan itu membuat aku yang sudah tua ini takut. Bagaimana jika kamu saja yang menghentikannya?" Usul Anthony balik yang justru menyuruh Toni untuk menghentikan latihan Gloria.
Glek
Toni yang mendengar usulan dari Anthony langsung menelan ludah. Apalagi saat matanya menoleh ke arah Gloria gadis kecil yang menjadi ketua mereka. Walaupun Gloria terlihat kecil namun kekuatan Gadis itu tidak main-main melihat bagaimana beberapa jam yang lalu Gloria bertarung dengan anggota yang Bahkan bisa dikatakan petarung nomor 1 di kelompok mereka. Namun hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit Gloria sudah bisa menjatuhkan 10 orang anggota petarung tingkat A.
Bugh
Passsh
Samsak yang di gunakan Gloria tiba-tiba robek setelah menerima pukulan terakhir dari gadis kecil itu.
Glek
"Ke....ketua...."
"Ada apa dengan mulutmu Toni? Apa sudah tidak berfungsi dengan baik?" Ucap Gloria yang terdengar santai namun tetap saja membuat Toni takut.
"Saya baik-baik saja ketua."
"Ambilkan aku samsak yang baru dan pastikan yang berkualitas dan tahan lama tidak seperti ini!" Ucap Gloria.
"Baik...."
"KETUA......"
"KETUA....."
Toni yang baru saja berbicara langsung menghentikan kalimatnya saat mendengar suara dari luar.
__ADS_1
"Ada apa Gading?" Tanya Gloria yang menatap heran Gading yang baru masuk ke dalam ruangan latihan.
"Itu ketua.... Singa ketua sudah mau sampai di pelabuhan dan siap untuk di kirim." Lapor Gading tentang Lion yang sudah sampai di pelabuhan.
"Namanya Lion jangan menyebutnya dengan kata singa" ucap Gloria sinis.
"Ba...baik ketua" balas Gading dengan nada gugup.
"Jika aku tahu namanya aku tidak akan menyebutnya singa. Lagipula dia memang seekor singa kan? Tapi kenapa ketua melarangnya aku menyebut singa?" Kata Gading dalam hati.
"Persiapkan semuanya 5 menit lagi kita akan menuju pelabuhan untuk menjemput Lion!" Ucap Gloria dengan datar berlalu pergi.
Gading yang mendengar perintah dari Gloria langsung berbalik keluar untuk mempersiapkan semua yang diperlukan oleh Gloria untuk menjemput Lion sang singa hutan milik Gloria.
"Tuan.... Bukan kalian itu singa?" Tanya Toni yang menatap Antony.
"Dia memang seekor singa" jawab antonim ketus.
"Lalu Kenapa ketua melarang Tuan Gading untuk menyebutnya singa?" Tanya Toni lagi.
Anthony yang mendengar pertanyaan dari Toni itu hanya bisa memutar mata malas. "Jika kamu penasaran maka tanya saja ada ketua Jangan tanya padaku!" Kesal Anthony yang berlalu pergi meninggalkan Toni yang bingung sendiri.
"Jika aku berani maka aku akan bertanya kepada ketua namun melihat saja tatapannya sudah membuat nyaliku menciut. Bagaimana bisa aku bertanya?" Guman Toni yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Ketua...." Gading segera membungkukkan badan saat melihat Gloria.
"Berangkat." Gloria langsung masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Gading yang berlalu masuk di jok kemudi.
Gading menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata karena markas mereka berada di hutan dan butuh waktu hampir satu jam untuk sampai di pelabuhan. Gading tidak ingin membuat ketuanya mengamuk dengan hanya karena mobil yang berjalan lambat.
Gading tahu ketuanya itu pasti sangat merindukan peliharaannya itu terbukti dengan tatapan matanya yang begitu berbinar-binar.
Setelah berkendara hampir satu jam akhirnya ke Gloria dan Gading sampai di pelabuhan yang menjadi tempat sandarnya Lion.
Gloria dengan tidak sabaran langsung turun dari mobil mengedarkan pandangannya mencari hewan yang menjadi temannya itu. Hingga matanya menemukan objek yang di carinya.
Grrrrrr
__ADS_1
"LION.....!"