
“Tapi mom….”
“Berhenti protes dan dengarkan apa yang dikatakan oleh daddy kamu.” Potong Juana dengan suara rendah.
Mendengar itu mau tidak mau akhirnya Fenia pasrah tak bisa melakukan apa-apa lagi.
“Syukur uang daddy Diki belum aku belanjakan jadi ada baiknya aku segera mencairkannya tetapi sepertinya akan lebih aman aku gunakan cash saja. Kalau lewat kartu takutnya nanti anak sialan itu malah ambil lagi. Kan sayang tuh uang 200 juta hasil aku ngeh.” Ungkap Fenia dalam hati.
“Sedang menunggu ku ya….”
Ketiga orang yang sedari tadi berdebat langsung menoleh ke arah asal suara saat suara orang yang mereka tunggu itu telah tiba di meja makan. Gloria hanya tersenyum sinis melihat ketiga orang di depannya itu yang sangat patuh hanya karna tidak ingin di usir dari rumah yang menandakan mereka tidak ingin meninggalkan kemewahan yang ada di mension itu.
Seperti biasa Gloria langsung berjalan menuju kursi utama duduk dengan tenang disana tanpa memperdulikan tatapan tajam Juliando yang berjarak beberapa kursi darinya.
"Dia sudah ada bukan? Jadi, kami bisa makan." Ucap Fenia yang langsung membalik piringnya bersiap untuk mengambil makanan.
Namun baru saja tangannya terulur untuk memegang sendok nasi ucapan Gloria menghentikan tangan Fenia di udara.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk makan? Jangan ada yang mengambil makanan sebelum aku yang mengambil atau menyuruh kalian makan…!” Tekan ko
Gloria yang menatap tajam Fenia.
“Gloria tidak bisakah kita makan sekarang, dad…. maksudnya aku sudah lapar.” Kata Juliando yang menatap memelas ke arah Gloria.
__ADS_1
Gloria yang melihat itu bukannya merasa kasihan justru hanya membuang muka. menatap pintu masuk.
“Masih ada tamu yang aku tunggu.” Balas Gloria dengan enteng.
Fenia yang melihat itu tentu merasa kesal sehingga berniat membuka mulutnya untuk membalas Gloria akan tetapi, sang mommy menghentikan apa yang akan dilakukannya. Fenia menoleh ke arah Juana yang menggelengkan kepala agar dirinya tidak melawan apa yang dikatakan oleh Gloria.
“Nona….”
“Ah kamu sudah datang rupanya, silahkan duduk kita makan bersama.” Ujar Gloria yang mempersilahkan Gading untuk duduk di meja makan bersama mereka semua.
Gading yang memang belum sarapan langsung duduk di samping Gloria. Gloria yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Baginya Gading adalah orang yang selalu berlaku apa adanya. Pria itu tahu kapan akan serius dan kapan akan rileks. Oleh karena itu Gloria menyukainya membiarkan dia menjadi orang kepercayaannya mengurus semua itu.
Melihat jika Gloria sudah menyendok nasi Fenia dan Juana yang merasa kelaparan sedari tadi langsung mengambil makanan dengan terburu-buru memakan sarapan mereka walaupun hanya roti karena kedua wanita itu selalu menjaga tubuh mereka agar terlihat cantik. Alhasil mereka berdua tidak pernah makan makanan berat di pagi hari.
Semuanya makan dengan tenang tidak ada suara di meja makan itu selain suara sendok dan garpu yang terdengar. Setelah selesai makan mereka beranjak berdiri dan pergi begitu saja. Gloria yang melihat itu hanya tersenyum miris.
“Gading ikut saya…!” Ujar Gloria yang berdiri berjalan menaiki tangga. Namun, karena ruang tamu dengan tangga lantai 2 berdekatan membuat fenia yang sedang duduk di ruang tamu melihat mereka.
“Lihat dad, Gloria bahkan sampai mau memasukan pria di kamarnya.” Ucap Fenia lantang.
Juliando yang belum jauh dari sana langsung membalik menatap tajam Gloria yang ingin naik di tangga bersama seorang pria di belakangnya. Mata Juliando langsung melotot saat melihat jika Gloria bahkan tak meminta izin padanya untuk membawa pria itu naik ke lantai 2.
“Gloria…! Apa kamu ingin menjadi j4l*ng dengan mengundang seorang pria masuk ke dalam kamarmu…?” Bentak Juliando yang membuat langkah kaki Gloria berhenti di anak tangga kedua.
__ADS_1
“Apa perlu saya menembak mulutnya nona…?” Tanya Gading yang sudah terlanjur dongkol pada pria di depannya.
“Tidak perlu,” Balas Gloria yang menatap Juliando sinis.
“Daripada mengatai saya lebih baik anda perhatikan putri kesayangan anda itu. Anda mengatakan saya j*lang..? Anda lupa jika istri anda saat ini juga adalah seorang j*lang profesional pada masanya?” Sarkas Gloria yang langsung membungkam mulut Juliando.
“Apa maksud dari perkataanmu itu? Aku keluar juga, karna aku lagi banyak job seperti pemotretan atau iklan yang harus aku isi. Kamu lupa jika aku ini seorang model sekaligus artis terkenal di negara ini? Aku mempunyai pekerjaan tidak seperti kamu yang hanya bisa mengandalkan harta orang tua saja.” Ucap Fenia dengan sombong.
“Pemotretan..? Iklan…? Anda sedang membohongi siapa nona..? Jelas-jelas karir anda saat ini sedang berada di ujung tanduk kehancuran. Apa anda tidak melihat berita di ponsel anda? Saya lebih pantas merasakan dan menikmati semua kekayaan milik orang tua saya daripada anda semua yang hanya tahunya meminta seperti benalu dalam hidup mommy dan saya juga tentunya.” Balas Gloria yang mengeluarkan racun dari mulutnya membuat Fenia tidak tahu harus seperti apa lagi.
“Gloria…”
“Dan anda Tuan Juliando yang terhormat, apa anda sangat bodoh hingga anda percaya begitu daja pada apa yang dikatakan oleh putri tersayang anda ini? Saking bodohnya kamu mempercayai jika dia melakukan pemotretan sehingga anda tidak melihat tanda-tanda merah di leher juga dada dan bahu putri tercinta mu itu.”
Juliando yang mendengar apa yang di katakan oleh Gloria langsung berjalan menghampiri Fenia yang sudah berkeringat dingin. Juliando memperhatikan leher dan bahu serta dada Fenia yang memang terdapat tanda merah walau pun sudah ditutupi dengan bedak.
“Dad, ini hanya karna aku alergi kok.” Kata Fenia dengan cepat sambil berusaha menutupi leher dan dadanya.
“Sejak kapan kamu alergi?” Tanya Juliando yang sepertinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fenia.
“Dasar bodoh, mana ada alergi seperti itu.” Sarkas Gloria dari belakang membuat Juliando menoleh ke arahnya.
“Ada apa? Bukankah memang benar anda bodoh Tuan Juliando yang terhormat? J*lang kok teriak j*lang? Lagipula kata siapa jika aku akan memasukkannya ke dalam kamarku? Anda benar-benar bodoh atau tidak punya otak sama sekali? Anda lupa jika di lantai 2 tidak hanya kamarku tapi ada ruangan lain? Jadi orang jangan terlalu bodoh.” Ucap Gloria pedas yang menatap remeh Juliando.
__ADS_1
Setelah mengeluarkan ucapan pedas yang begitu beracun Gloria langsung berbalik melanjutkan kembali langkah kakinya menaiki lantai 2 dengan Gading yang mengekorinya.
PLAK