
"Kita mau kemana sayang?" tanya Javier dengan terus menggenggam tangan Luisa sedangkan tangan yang satunya sedang mengendalikan kemudi agar tidak oleng.
"Aku lapar jadi kita cari makan duulu," kata Luisa dengan tenang.
"Apapun untuk kekasihku," Javier dengan cepat membelokkan mobilnya menuju tempat restoran biasa tempat ia makan bersama sang Bos yaitu Luis kakak dari wanita yang dia cintai itu.
"Silahkan turun Tuan Putri," Javier membuka pintu mobil Luisa lalu menggenggam tangan gadis itu.
Javier menggenggam tangan Luisa membawanya masuk ke dalam restoran mewah itu. Sampai di dalam Javier langsung di sambut oleh para pelayan yang sedang berjejer rapi di tempat itui.
"Selamat datang Tuan,"
"Aku mau ruangan VIP," ucap Javier dengan datar.
"Silahkan ikuti saya Tuan," seorang pelayan mengantar Javier menuju ke ruangan Vip.
Ceklek
"Silahkan masuk Tuan Nona,"
Javier tanpa kata langsung mengenggam tangan Luisa lalu masuk ke dalam ruangan Vip itu. Sampai di dalam Javier langsung mendudukkan Luisa di sofa. Javier duduk manis di samping Luisa dengan memberi kode kepada pelayan untuk memberinya buka menu. Pelayan yang mengerti itu segera mendekat dan memberikan buku menunya kepada Javier.
"Sayang ayo pilih yang kamu mau," javier memberikan buku menu itu kepada Luisa di sampingnya.
"Apapun itu pilihkan saja aku sedang tidak mood," balas Luisa yang sepertinya memang tidak sedang badmood.
__ADS_1
Javier yang melihat jika sang wanita memang sedang tidak mood akhirnya hanya memesan saja toh Javier tahu Luisa akan menyukainya karena sebenarnya pria itu mengetahui apapun yang di sukai oleh Luisa atau apapaun yang tidak disukai oleh Luisa.
"Bawakan ini ini ini dan ini semuanya harus dua porsi," ucap Javier dengan menunjuk menu yang di inginkannya.
"Baik Tuan tunggu sebenatar," Pelayan itu segera keluar.
Javier yang melihat wajah cemberut sang kekasih hanya bisa menghela napas sebelum mendekat ke arah Luisa yang berwajah masam.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat cemberut seperti itu?" tanya Javier dengan lembut kepada Luisa.
"Kamu masigh bertanya kenapa aku cemberut? Aku tidak mau tahui besok besok jika kamu menjemputku kamu harus menggunakan masker jika perlu topeng sekalian." Kesal Luisa.
Javier yang mendengar hal itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu benar-benar bingung kenapa Luisa terlihat kesal padanya lalu apa hubungannya dengan memakai topeng atau masker menjemputnya. Walaupun bingung namun Javier tidak berani bertanya lagi karena marahnya wanita itu menakutkan.
Tok
Tok
Dua orang pelayan masuk ke dalam lalu mulai meletakan pesanan Javier di atas meja dengan baik. Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka para pelayan itu segera berbalik keluar.
"Sayang ma...," Javier menganga melihat Luisa yang dengan rakusnya melahap majanan di atas meja itu dengan wajah yang masih kesal.
"Dasar pria kaku, kanebo kering, otak udang, aku sedang marah tapi bukannya di bujukan malah diam kek patung. Benar-benar sial aku dapat kekasih seperti pria Javier," Luisa terus mengomel di dalam hati karena Javier yang tidak membujuknya.
"Sayang makannya pelan-pelan lihat kamu belepotan seperti bayi,"
__ADS_1
"Apanya yang seperti bayi, aku juga gini gara-gara kamu tahu."
"Kok gara-gara aku sih, aku nggal lakukan apapun sayang. Aku juga tidak terlambat menjemputmu. Lalu salahku apa sayang?" Tanya Javier dengan ekspresi bingung.
"Pikir sendiri!"
"Grrrrr dasar wanita, kenapa makhluk yang namanya wanita itu sangat sulit untuk di tebak. Apa salahnya cuma bilang apa salahnya kan masalah beres eh ini juga masih terus bikin emosi. Syukur sayang dan cinta kalau nggak sudah aku buang kamu ke lauat Luisa." Javier ingin sekali mencekik wanita di depannya itu yang sangat membuatnya frutasinya hanya gara-gara masalah sepele yang bahkan dia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya.
"Aku selesai, ayo pulang!"
Tanpa mendengar jawaban Javier apa Luisa langsung berdiri lalu pergi begitu saja bahkan wanita itu tidak menoleh ke arah Javier sedikitpun. Javier yang melihat sifat acuh dari sang kekasih tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah kaki Luisa. Sebelum pergi seperti kebiasaan mereka jika sedang buru-buru mereka segera meletakan uang di atas meja.
Brak
"Ya Tuhan bisakah aku menggelamkan wanita ini?" batin Javier yang sedang menahan kesal di luar mobil.
"Aku setuju ayo tenggelamkan dia," sahut sisi jahat Javier.
"Tidak jangan lakukan itu dia...," ucapan sisi baik Javier langsung di potong oleh sisi jahat Javier.
"Jangan dengarkan dia, lihat wanita itu hanya makhluk lemah tidak sekuat dirimu beraninya dia meremehkan kamu. Bukan hanya meremehkan wanita itu juga bahkan merendahkan kamu secara terang-terangan." hasut sisi jahat Javier yang semakin menjadi.
"JAVIER...!"
Javier yang sedang melamun langsung tersadar saat duara cempreng Luisa masuk ke dalam telinganya yang hampir meledakan gendang telinganya.
__ADS_1
"CEPAT MASUK ATAU AKU TINGGALKAN!"
"Astaga maaf sayang," Javier segera masuk ke dalam mobil lalu pergi dari tempat itu.