
"Gloria maafkan aku.." ucap Fenia pelan.
"Apa..? Aku tidak dengar. Kamu bicara atau kumur-kumur?"
Fenia yang mendengar perkataan Gloria hanya bisa diam dan mengepalkan tangan. Andaikan dirinya tidak disuruh oleh Juliando mana sudi dirinya meminta maaf kepada Gloria yang jelas-jelas sangat dia benci.
Huhhhhhh
Fenia menarik nafas dalam-dalam mengeluarkannya secara perlahan mengangkat pandangannya hingga menatap wajah Gloria. Matanya menatap penuh kebencian ke arah Gloria yang hanya merapatnya datar.
"Aku minta maaf..!" Ucap Fenia dengan lantang.
"Nah gitu donk. Malam ini kalian bisa aman dan beristirahat di mension mewahku ini. Namun, jika nanti salah satu dari kalian membuatku marah maka aku tak segan-segan mengusir kalian dari sini." Ucap Gloria dengan penuh penekanan setiap katanya.
Ketiga orang di depannya itu hanya bisa diam dan menutup mulut mereka rapat-rapat agar tidak membalas ucapan pedas dari Gloria. Sedangkan Gloria setelah mengeluarkan ucapan pedas itu dirinya langsung berbalik menaiki tangga menuju lantai 2.
Sampai di kamar Gloria langsung masuk di kamar di ikuti Lion di belakangnya. Gloria langsung mencari ponselnya menghubungi Gading orang kepercayaannya.
"Hallo Nona…" suara Gading terdengar di seberang sana.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan apa sudah dapatkan?" Tanya Gloria langsung pada intinya tanpa ada basa basi.
"Sudah Nona.."
"Atur semuanya, pindahkan isinya ke kartu milikku. Pastikan besok siang semuanya telah selesai."
"Baik Nona." Jawab Gading yang menyanggupi apa yang di inginkan oleh Nona mudanya tanpa peduli jika sudah malam hari.
"Kamu mau kemana Gading..?" Tanya Antony yang melihat Gading lewat di depannya.
__ADS_1
"Saya ingin pergi mengerjakan sesuatu yang Nona muda butuhkan." Jawab Gading yang menoleh ke arah Antony.
"Malam-malam begini?" Tanya Antony yang mengerutkan dahi menatap bingung ke arah Gading.
"Sepertinya Nona muda benar-benar membutuhkan itu soalnya Nona mudah mengatakan jika besok siang semuanya harus selesai." Balas Gading seadanya.
"Memang apa yang kamu ingin kerjakan?" Tanya Antony yang ikut penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Gading.
"Nona muda meminta aku untuk memindahkan semua uang yang berada di bank dan juga mentransfer beberapa uang yang hasil dari restoran yang di kelola oleh wanita tua itu ke rekening Nona muda." Terus terang Gading.
Mendengar itu Antony langsung membulatkan mata pria paruh baya itu lupa jika restoran yang dikelola oleh istri kedua dari mantan suami nonanya itu merupakan restoran milik Nona mudanya. Antony yang mengetahui itu langsung berdiri dengan tampang wajah datar dan aura dingin.
"Ayo kita pergi sama-sama." Ucap Antony yang langsung berjalan cepat mendahului Gading.
"Tuan ini sudah…."
"Aku tahu ini sudah malam, tapi jika hanya kamu yang pergi maka apa yang di suruhkan oleh Nona muda tidak akan selesai pada siang hari besok. Oleh karena itu, aku akan ikut denganmu agar mempermudah proses pemindahan itu," Potong Antony yang berjalan di depan Gading menuju salah satu kamar yang menjadi kamarnya.
Tak berselang beberapa lama Antony keluar dari kamar itu dengan memegang beberapa map coklat di tangannya. Gading yang melihat itu hanya mengerutkan dahi tanpa bertanya. Gading tentu tahu jika map map itu berisikan informasi penting oleh karena itu, Gading memilih diam.
"Ayo kita pergi..!" Antony langsung berjalan di depan Gading.
Sedangkan gading yang mendengar ucapan dari pria tua itu hanya bisa menurut. Jadi yang berjalan dengan santai mengikuti langkah pria paruh baya itu yang menuju salah satu mobil yang biasa mereka gunakan untuk berpergian.
Antony masuk dalam mobil di jok samping kemudi sedangkan Gading masuk dan duduk di jok kemudi. Menstater mobil dan meninggalkan mension menuju salah satu bank yang di duga tempat di mana Juliando menyimpan uang.
Sedangkan di tempat lain Luis baru selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Pria itu berdiri merentangkan kedua tangannya lebar-lebar hingga terdengar suara retakan seperti retakan tulang yang patah. Louis melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan jam 10.00 malam.
Huhhhhhh
__ADS_1
Terdengar suara helaan nafas dari Louis yang menandakan jika ia lelah dan capek. Pria itu mulai membereskan mejanya dan menyusun berkas-berkas yang telah dikerjakannya dengan rapi. Setelah semua selesai Louis langsung mengambil tas kerjanya bersamaan dengan pintu yang di buka dari luar.
"Tuan…."
Luis yang menunduk melihat ponselnya langsung mengangkat pandangan yang saat mendengar suara Javier berada di ruangan yang sama dengannya. Louis menatap heran ke arah Javier karena beberapa jam yang lalu Louis memerintahkan untuk menemani dan menjemput Lukisan di kampus. Namun, sekarang pria itu justru berada di depannya lalu di mana adiknya pikir Luis.
"Untuk apa kamu kesini? Lalu dimana Luisa?" Tanya Luis yang menatap datar dan dingin Javier.
"Tenang saja, Luisa aman. Saat ini dia berada di apartemenku jadi, sebelum pulang ke Mension kamu harus ke apartemenku dulu." Ujar Javier dengan wajah tenang.
Mendengar itu Louis bernafas lega karena adiknya baik-baik saja. Louis tidak marah kepada jahir karena membawa Luisa di apartemennya karena Louis paham di kondisi seperti ini hanya Apartemen Javier yang aman. Walaupun pelayan dan penjaga di mension mereka telah diganti dengan orang yang baru. Namun, tetap saja Louis tidak bisa mempercayai mereka seutuhnya.
Orang yang sudah bekerja bahkan puluhan tahun dengan mereka saja bisa berkhianat apalagi orang baru yang bekerja baru beberapa hari karena dengan bayaran yang tinggi.
"Ya sudah jika begitu ayo kita pulang!" Louis segera berjalan cepat mendahului Javier.
Saat pintu terbuka dan Louis beserta Javier keluar bersamaan dengan Galang yang juga keluar dari ruangannya. Louis dan Javier menoleh ke arah pria itu yang tanpa menoleh sedikitpun ke arah mereka membuat keduanya hanya bisa menghela nafas. Bersyukur saja Luis merupakan bukan orang yang gila hormat jadi dia tidak mempersalahkan apa yang dilakukan oleh Galang.
"Selamat malam Tuan…"
Luis dan Javier tersentak kaget saat Galang berada di samping mereka. Mereka berdua berpikir jika Galang hanya akan berlalu pergi tanpa mempedulikan mereka nyatanya pria berwajah datar itu datang menyapa mereka.
"Malam." Jawab Luis yang tak kalah dingin dan datar.
Javier yang mendengar balasan datar dari Louis hanya bisa menghela nafas. Ketiganya berjalan menuju lift yang sama karena Galang yang merupakan sekretaris dari lurus maka dia juga bisa menggunakan lift khusus yang biasa di gunakan oleh Javier dan Louis. Ketiganya masuk ke dalam lift dengan Javier yang berada di tengah-tengah antara Galang
dan Louis.
Javier melirik Galang dan Louis secara bergantian kedua pria itu hanya memasang tampang datar dan dingin membuat Javier yang berada di tengah-tengah mereka ikut tertekan dengan aura dingin mereka.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Kenapa aku harus terjebak di antara dua pria kulkas ini."