
"Ada apa?" Juana masih bisa bertanya dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"Dasar menjijikan....!"
Blasshhhh
Tiba-tiba layar di belakang Juana menyala memperlihatkan adegan kedua orang pria dan wanita yang tidak pantas untuk di tonton.
Sedangkan di depan pintu berdiri seorang wanita dewasa yang begitu cantik. Wajah wanita itu terkejut sebelum wanita cantik itu menjatuhkan air matanya.
Tanpa di jelaskan semua orang pun tahu jika wanita yang menangis itu adalah istri dari pria yang sedang bercinta itu sedangkan wanita lawan mainnya itu adalah selingkuhannya atau nama yang terkenal sekarang adalah seorang pelakor.
"Mereka benar-benar menjijikan."
"Dasar tidak tahu malu....!"
"Pelakor murahan...."
"Dasar ****** pel4cur suami orang tetap saja di ember."
"Dasar pel4cur tidak tahu...! Apa urat malunya sudah putus berani sekali seorang pelakor bercinta di ranjang yang bukan miliknya."
"Itu juga prianya sudah bodoh buta lagi. Masa istri secantik itu di selingkuhi? Apa matanya benar-benar buta?"
"Dasar pasangan bejat bajingan dan pel4cur memang pantas bersanding benar-benar murahan."
Wajah Juliando dan Juana jangan di tanya lagi. Kedua orang itu benar-benar malu sekarang saat video itu di ekspos di depan semua orang.
__ADS_1
"Ini juga putri yang mereka bangga-banggakan ternyata hanya anak haram."
"Dasar anak haram...!"
"Anak haram saja bangga..."
Fenia yang biasa menerima pujian dan sanjungan kini harus menerima ejekan dan hinaan yang begitu memalukan membuat wajahnya memutih dan tangan yang mengepal kuat.
Tidak terima?
Jelas...! Dari kecil dia hanya menerima pujian bukan hinaan seperti ini. Dari kecil dia hanya akan menjadi pusat perhatian bukan tempat buangan seperti ini.
Fenia menatap tajam Daddy dan Mami nya yang menyebabkan semua ini padanya. karna kedua orang ini dia harus menanggung rasa malu yang begitu cepat.
"Dad bagaimana ini...? Kenapa seperti ini? Siapa gadis itu? Harusnya tadi kamu menahannya!" Bisik Juana kepada Juliando dengan wajah yang memerah menahan amarah dan malu secara bersamaan.
"Aku tidak tahu.... Kemana gadis sialan itu kenapa datang membawa kekacauan seperti ini." Juliando mengeram marah mencari keberadaan Gloria yang sudah tak terlihat di dalam ruangan itu.
"Apa yang kalian lakukan....? Matikan kameranya.....! Kalian tidak boleh merekam ini...." Teriak Fenia yang emantap tajam para Wartawan yang hadir di ruangan itu.
Namun para wartawan itu tidak ada satu orang pun yang mendengarkan perintah dari Fenia. Mereka semua sibuk pada tugas mereka masing-masing yaitu mengambil gambar dan informasi lainnya.
"DAD LAKUKAN SESUATU MEREKA MEREKAM SEMUANYA...! KARIR AKU AKAN HANCUR.... JIKA SEMUA INI TEREKSPOSSS...!"
Teriakan Fenia membuat kedua orang itu langsung tersadar dari keterpakuan mereka. Juliando menoleh menatap Fenia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Mata Juliando langsung membulat saat melihat puluhan kamera sejak tadi aktif dan mengabadikan semuanya.
__ADS_1
Juliando langsung mengambil pengeras suara menatap tajam semua orang. Juliando tidak peduli lagi pada etika yang penting saat ini adalah mencegah semua informasi yang terjadi malam ini tidak sampai bocor ke media.
"MATIKAN KAMERANYA...! JANGAN ADA YANG BERANI MENGAMBIL GAMBAR LAGI...!" Bentak Juliando membuat semua orang semakin kaget.
"Dasar bajingan tidak tahu malu... Benar-benar menjijikan."
"Ternyata selain bajingan dia juga seorang tidak tahu malu."
"Dasar sombong....!"
"DIAM.....! BERITA MALAM INI JANGAN SAMPAI BOCOR JIKA TIDAK KALIAN AKAN TAHU AKIBATNYA....." Ancam Juliando yang menatap tajam para wartawan.
"Dasar sombong..... Ayo kita tinggalkan saja pesta ini...!"
"Yah benar.... tidak sudi aku melihat wajah para manusia-manusia hina ini."
Para tamu undangan saling bersahutan memberi mereka hujatan dan hinaan. Satu persatu tamu undangan pergi dari acara itu bahkan mereka seperti berebutan ingin cepat keluar dari ruangan yang benar-benar membuat mereka muak.
"Dad ini gimana....?" Fenia mendekat dan berkata dengan panik kepada Juliando dan Juana.
"Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." Balas Juliando yang mengelus lembut kepala Sang Putri.
"Ku harap begitu..." Guman Fenia yang mencoba untuk tenang.
"Kata siapa akan baik-baik saja?" Gloria yang mendengar ucapan Juliando tersenyum sinis.
Gading dan Toni yang berada di dalam mobil yang sama dengan Gloria langsung merinding mendengar ucapan Gloria yang begitu menyeramkan dengan senyum sinis yang muncul di bibirnya.
__ADS_1
"Paman, saatnya giliran Paman." Ucap Gloria yang lewat Earphone yang di gunakannya.
"Siap Nona..."