
"Kau rindu padaku, boy?" Gloria mengelus bulu-bulu halus milik Lion yang semakin hari semakin lebat.
Gloria segera naik di lantai dua di ikuti Lion di belakangnya. Sedangkan Juana dan Juliando terdiam seribu bahasa saat mendengar nada bicara Gloria yang kali ini benar-benar sepertinya tak ada kata ampun lagi untuk mereka. Juana dan Juliando saling melirik satu sama lain dengan wajat pucat pasi. Bahkan saking paniknya mereka sampai melupakan keadaaan Fenia yang sudah sekarat
"Tuan Nyonya...,"
"APA...?" Juana dan Juliando secara bersamaan membentak pelayan itu.
"Itu Nona Fenia berdarah, Tuan Nyonya."
Juana dan Juliando yang sadar langsung menoleh ke arah Fenia yang terbaring tak berdaya dengan darah yang membasahi lantai. Sontak saja hal itu membuat Juana berteriak histeris karena melihat anak semata wayangnya bersimpah darah.
"FENIA....!" Juana langsung menghampiri Fenia yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Julian cepat angkat Fenia bawah di mobil! Kita harus ke rumah sakit," teriak Juana histeris meminta sang suami untuk memngangkat tuibuh lemah Fenia.
"Jangan ngacoh kamu! Kamu mau bawah Fen? Biaya rumah sakit itu mahal, kita tidak punya banyak uang untuk membayar akan itu." Bentak Juliando kepada Juana sang istri.
__ADS_1
"Tapi Juliand...,"
"Tidak ada tapi-tapian." Potong Juliando yang berjongkik lalu menggendong Fenia yang tidak sadarkan diri.
"Pelayan panggilkan Dokter!" titah Juliando kepada sang pelayan.
"Baik Tuan,"
Juliando segera membawa Fenia ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Sedangkan Juana kini berdiri kaku menatap ke pergian sang suami berserta putrinya. Tangan wanita paruh baya itu mengepal dengan erat dengan tatapan mata yang berkilat penuh akan kebencian terhadap Gloria.
"Semua ini gara-gara anak pembawa sial itu, karena kehadirannya di rumah ini semuanya menjadi berantakan. Bahkan..., bahkan hanya untuk membawa putriku di rumah sakit [un hartus tidak bisa karena ulahnya." Juana sangat ingin membunuh anak tirinya itu.
Yups ternyata Gloria tidak langsung ke kamarnya melainkan bersembunyi menyaksikan drama sepasang suami istri itu. Setelah melihat jika mereka semua sudah selesai Gloria langsung berbalik menuju ke kamarnya karena hari ini dia benar-benar lelah.
Di tempat lain terlihat seorang gadis cantik baru saja keluar dari kampusnya. Gadis itu tak lain dak tak bukan adalah Luisa adik dari Luis. Luisa mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ingin menjemputnya itu. HIngga matanya melihat sosok pria tampan yang sedang berandar di body mobil.
"Itu dia!" guman Luisa yang berjalan menghampiri pria itu.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti dan senyum di wajahnya langsung pudar saat melihat jika pria pujaannya itu telah menjadi objek para mata wanita. Dengan wajah masam Luisa berjalan mendekati Javier yang dengan tanpa dosa memasang senyum indah di wajahnya.
"Sayang,"
"Berhenti memasang senyum menyebalkan kamu itu sebelum aku menjahit mulutmu!" ketus Luisa terhadap Javier.
Kicep
Javier yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang kekasioh angsung mendatarkan wajahnya tak lupa senyum yang tadi begitu mengembang kini hilang di ganti dengan attapan tajam bak seekor elang yang sedang mengintai musuh.
"Silahkan masuk Tuan Putri," Javier membukakan pintu mobil Luisa dengan wajah datar namun siapapun itu tahu jika tatapan Javier begitu lembut kepada Luisa sang kekasih.
Setelah memasangkan pengaman kepada Luisa tak berlama-;lama Javier langsung berlari kecil menuju ke pintu mobil yang berada di satunya.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Javier dengan terus menggenggam tangan Luisa sedangkan tangan yang satunya sedang mengendalikan kemudi agar tidak oleng.
"Aku lapar jadi kita cari makan duulu," kata Luisa dengan tenang.
__ADS_1
"Apapun untuk kekasihku," Javier dengan cepat membelokkan mobilnya menuju tempat restoran biasa tempat ia makan bersama sang Bos yaitu Luis kakak dari wanita yang dia cintai itu