Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Kenyataan


__ADS_3

Terlihat seorang gadis muda yang menatap sendu pria yang terbujur kaku di atas brankar rumah sakit. Gadis itu adalah Gloria yang senantiasa menunggu Gading untuk sadar walau sudah 2 jam berlalu tapi pria itu juga belum membuka matanya.


Di ruangan itu bukan hanya ada Gloria namun ada juga Toni dan Luis sedangkan Javier dan Luisa telah pulang untuk menuntaskan kasus yang di alami Luisa yaitu melaporkan Regis ke polisi sedangkan Fabian pria itu sudah di bawah ke rumah sakit lebih tepatnya di kamar mayat


"Nona makanlah dulu." Entah sudah ke berapa kalinya Toni meminta Gloria untuk makan tapi gadis itu selalu menolak sama seperti sekarang.


"Sebentar lagi, tunggu Gading sadar dulu nanti aku makan bersamanya." Balas Gloria dengan suara lemah.


"Nona, Gading tidak akan senang jika melihat Nona seperti ini. Bukankah Gading sudah mengatakan jika dia akan melindungi anda sampai batas kemampuannya?"


"Bagaimana jika dia tidak bangun?"


"Tidak mungkin Nona, Gading akan bangun. Tugasnya masih panjang."


Gloria yang mendengar itu hanya terdiam dengan sorot mata sedih. Walau di awal pertemuan dan perkenalan dirinya bersama Gading kurang menyenangkan tapi setelah beberapa bulan bersamanya Gloria merasakan kenyamanan bagaimana Gading yang memperlakukannya sebagai adik kecilnya.


"Nona makanlah lebih dulu, jangan membuat Gading cemas nanti saat sadar justru melihat wajah pucat dari Nona." Kata Toni yang lagi lagi menyodorkan bungkusan makanan yang di beli anggotanya.


Gloria menatap kosong bungkusan yang di sodorkan oleh Toni sebelum tangannya dengan ragu terulur mengambil makanan itu. Gloria dengan pelan membuka bungkusan maka busanan makanan lalu mulai makan. Apa yang di katakan Toni benar adanya, dia juga butuh energi agar bisa selalu ada di dekat Gading.


"Syukurlah nona mau makan, jika tidak maka habislah aku di amuk Tuan Antony." Guman Toni yang masih di dengar oleh Luis yang berada di sampingnya.


Tanpa mereka sadari ternyata Gloria tertidur setelah menyelesaikan acara makannya. Gadis itu tertidur dengan tangan Gading sebagai bantalnya.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa pria itu?" Taya Luis tiba-tiba dengan suara datar dan dingin menatap taja Gading yang terbujur kaku.


"Dia Gading, orang kepercayaan Nona Gloria. Pria yang pernah di tolong oleh almarhum ibu Nona Gloria." Jawab Toni datar.


"Apa hubungannya dengan Gloria?"


"Nanti Nona Gloria sendiri saja yang mengatakannya. Saya tidak mempunyai hak untuk menjawab pertanyaan Tuan yang itu."


Luis yang mendengar itu hanya bisa menarik napas dan membuangnya dengan kasar. Tak bisa di bohongi perasaannya mulai berkecamuk. Luis takut jika Gloria tidak memiliki perasaan yang sama dengannya justru mencintai pria lain atau mungkin mencintai pria yang bernama Gading itu.


"Saya tidak tahu kenapa Nona Gloria menyuruh saya untuk melindungi anda. Namun, satu hal yang pasti Nona Gloria peduli dengan anda." Ucap Toni datar.


Luis tidak bersuara lagi, pikirannya kosong entah terbang kemana. Luis hanya takut jika Gloria melindungi dan menyuruh Toni untuk melindungi mereka hanya karena kepedulian semata tanpa adanya perasaan yang sama sepertinya.


Di tempat lain Javier dan Luisa duduk tenang di dalam kantor polisi memberi keterangan dan Javier sebagai saksi tak lupa memberi barang bukti pesan yang di kirim Fabian kepada Luis lewat Ponsel.


"Baik pak, akan kami lakukan semua dengan sesuai prosedur." Balas sang polisi.


"Bisakah saya bertemu dengan tersangka?" Tanya Luisa tiba-tiba membuat Javier menatap kaget ke arahnya.


"Untuk apa kamu menemuinya Luisa? Dia hampir membunuhmu." Sentak Javier yang menatap kesal wanita di sampingnya itu.


"Aku hanya ingin berbicara sedikit saja, sekalian memberitahunya jika paman Fabian telah meninggal." Ucap Luisa dengan nada serius.

__ADS_1


Yups... Regis tidak mengetahui jika sang ayah telah meninggal karena saat kejadian penembakan itu Regis telah pingsan tidak sadarkan diri akibat pukulan dari anggota Gloria. Pria itu tidak mengetahui apa yang terjadi setelah dia pingsan.


Sedangkan Javier yang mendengar penuturan dari Luisa hanya bisa menghela nafas. Bukankah bagus jika pria itu mengetahui jika ayahnya telah mati, dengan begitu maka dia akan semakin menderita karena tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Regis akan mengerti Bagaimana rasanya hidup sendirian dan ditinggalkan di dunia yang kejam ini.


"Baiklah, tapi aku ikut denganmu. Aku takut pria b******* itu menyakiti kamu lagi." Kata Javier yang dibalas angkutan kepala oleh Luisa.


"Jika begitu mari saya angkat kan kalian menemui saudara tersangka." Ucap pak polisi.


Luisa dan Javier segera beranjak berdiri mengikuti langkah polisi di depan mereka itu. Hingga membawa mereka berdua di sebuah penjara memperlihatkan Regis sedang duduk termenung di dalam sel.


Tak


Tak


Regis yang mendengar suara langkah kaki langsung mengangkat pandangannya. Hingga pandangan matanya bertetapan dengan tetapan mata Luisa yang menatapnya dengan benci.


"Untuk apa kalian datang kesini? Untuk menertawakan ku? Kalian semua pasti bahagia karena telah berhasil memenjarakan ku? Tapi aku yakin jika aku akan segera bebas dan kembali menyusun rencana untuk membalas kalian." Ucap Regis yang nyata benci ke arah mereka berdua.


Javier yang mendengar perkataan hadis yang begitu percaya diri jika akan segera keluar dari penjara itu hanya bisa menyunggingkan senyum sinis.


"Siapa yang akan membebaskan kamu dari sel tahanan ini?" Ucap Javier dengan sinis.


"Tentu saja Daddy ku siapa lagi? Di saat aku keluar nanti, kalian semua akan habis." Ucap Regis dengan sorot mata bengis.

__ADS_1


"Cih, Daddy yang kamu banggakan itu tidak akan pernah bangun dari kematian. Pria tua itu sudah berada di dalam tanah.'' Sarkas Javier.


Deg


__ADS_2