Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Kehilangan Job


__ADS_3

"APA-APAAN INI…..?” Teriak Juana yang menggelegar.


Juana dan Juliando baru saja pulang ke mension setelah membawa Juliando ke rumah sakit. Namun baru saja masuk ke dalam mension bermaksud untuk duduk santai Juana dan Juliando langsung di suguhkan pemandangan tumpukan koper dan barang lainnya di ruang tamu.


Mata Juliando menjepit tatkala melihat barang yang tidak asing berada di depannya. Dengan menahan lengannya Juliando berjongkok mengecek isi dari cover yang tidak asing di matanya itu.


Mata pria paruh baya itu langsung melotot saat melihat isi dalam koper itu yang tak lain dan tak bukan adalah barang-barang miliknya.


"I….ini ba…bagaimana bisa … semua ini ada disini." Guman Juliando dengan suara tercekat di tenggorokan.


Tak


Tak


Tak


Suara langkah kaki mendekat ke arah ruangan tamu. Sosok itu tak lain adalah Gloria yang berjalan dengan anggun menuju asal suara.


"Ah rupanya kalian sudah datang, baguslah…"


Juliando dan Juana langsung menoleh ke arah asal suara. Mata kedua orang itu langsung membulat sempurna saat melihat jika gadis yang mereka anggap biang rusuh ternyata masih berada di mension itu.


"Apa apaan semua ini..? Kenapa barang-barang ini ada di sini….?" Tanya Juana yang belum sadar jika barang-barang di depannya itu adalah barang-barang miliknya.


"Mulai saat ini lantai 2 adalah milikku…! Kalian hanya akan berkeliaran bebas di lantai ini. Sedangkan untuk lantai 2 dan 3 itu adalah milikku dan kalian dilarang menginjakkan kaki di sana…!" Ucap Gloria yang penuh penekanan setiap katanya.


"APA LAGI INI GLORIA KAMU BENAR-BENAR SUDAH KELEWATAN BATAS…! BAGAIMANA BISA KAMU MENYURUH ORANG TUA MU UNTUK TINGGAL DI LANTAI BAWAH SEDANGKAN KAMU ENAK-ENAKAN TINGGAL DI LANTAI ATAS…!" Bentak Juliando yang benar-benar tidak bisa menahan lagi amarahnya.


Juliando menatap tajam Gloria seperti seekor elang yang siap memangsa Gloria sebagai mangsanya. Jika bisa mungkin matanya sudah akan keluar dari tempatnya. Pria paruh baya itu menggerakkan gigi menghadapi kelakuan dari Putri kandungnya itu.


"Orang tua..? Hehehe dengar Tuan Juliando yang terhormat, bagiku Anda bukanlah orang tua saya akan tetapi target dari balas dendam saya. Jadi, jangan pernah berlindung di belakang status antara saya dan Anda yang adalah seorang anak dan ayah karena sampai kapanpun saya tidak akan menganggap anda sebagai ayah saya. Bagi saya ayah saya telah mati berpuluh-puluh tahun yang lalu bersamaan dengan beliau yang telah membuang dan menelantarkan saya hidup di luar sana seorang diri.".


Deg

__ADS_1


Ucapan panjang kali lebar Gloria barusan bagaikan sebuah belati yang menghujam dada Juliando berulang kali. Tubuh pria paruh baya itu sampai mundur ke belakang mendengar penuturan dari Gloria yang benar-benar menganggapnya sebagai musuh target balas dendam. Entah kenapa juliando merasakan perasaan sesak dan perasaan yang tak bisa Juliando jelaskan dengan kata-kata.


Julianda menatap dalam bola mata sang putri berharap di dalam sana menemukan sebuah kebenaran kerinduan terhadapnya. Akan tetapi, Juliando tertegun saat melihat tidak ada tatapan hangat di dalam tatapan putrinya yang ada di dalam tatapan itu hanya tatapan penuh kebencian dan api dendam yang begitu besar terhadapnya dan mungkin juga terhadap istri dan anaknya.


"Gloria kamu tidak bisa seenaknya berlaku seperti ini nak.." ucap Juana yang berucap lembut dengan memaksakan sebuah senyum tipis timbul di bibirnya.


Juara tidak mempunyai pilihan lain selain bersikap lunak dan berpura-pura menerima kehadiran Gloria di depan Juliando sang suami. Juana berfikir jika dengan bersikap seperti itu akan akan mengurangi rasa waspada Gloria dan Juliando akan semakin mempercayainya bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu antara Gloria dan dirinya.


"Kenapa tidak bisa…? Mension ini adalah mension-ku jadi terserah padaku seperti apa aku mengaturnya. Jika kalian tidak setuju maka silahkan angkat kaki dari sini…!" Balas Gloria yang begitu sampai seperti tanpa beban.


"Kau…."


"Sudah biarkan saja Gloria melakukan seperti apa yang dia inginkan. Apa yang di katakan Gloria benar jika manusia ini adalah miliknya." Juliando segera memotong ucapan Juana.


Juliando berharap dengan begini Gloria akan menatap ke arahnya sebagai seorang putri bukan sebagai seorang musuh.


"Tapi dad…"


"Cih…. Sadar diri suami kamu itu hanya parasit yang menumpang di hidup mami-ku begitu pula dengan kamu." Sarkas Gloria yang benar-benar membungkam mulut kedua orang di depannya itu.


"Sudah mom turuti saja… Mom tinggal manggil saja pelayan untuk mengangkat semua barang-barang ini ke kamar yang berada di lantai bawa ini." Ucap Juliando yang benar-benar ingin berbaring dan istirahat sejenak.


"Eh kata Siapa kalian bisa memeriksa pelayan…" ucapan Gloria menghentikan niat Juana untuk memanggil pelayan.


"Apalagi ma…"


"Mulai saat ini pelayan di rumah ini tidak akan menurun dan mengikuti apa kemauan istri Anda Tuan Juliando yang terhormat." Sarkas Gloria yang tersenyum miring.


"DASAR ANAK SIALAN RASAKAN INI…..!"


GOARRRR


SRET

__ADS_1


AAAAAAAA


Juana berteriak histeris dan kesakitan saat melihat seekor singa yang melompatinya. Tak sampai di sana ternyata sianga itu juga mencakar betirnya hingga kini kaki wanita paruh baya itu telah berlumuran darah.


Juana terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi melihat hewan berbulu besar di depannya itu. Hewan itu benar-benar menakutkan dan mengerikan untuk di lihat rasa sakit di lukanya tak di rasakan Juana karna ketakutannya lebih besar dari segala rasa sakit itu.


"Very good Lion…" ucap Gloria yang justru tersenyum senang melambaikan tangannya ke arah hewan buas itu.


Sedangkan juliando yang berada tidak jauh dari Juana hanya bisa berdiri diam seperti patung dengan wajah yang pucat seperti tak mempunyai darah. Matanya melotot hampir keluar melihat hewan itu berjalan mendekati Gloria. Namun, Juliando menyipitkan mata saat melihat singa itu mendekati Gloria bukannya menyerangnya justru Singa itu menggesek-gesekan kepalanya di kaki sang putri.


"Dia….."


"Ada apa Tuan…? Kenapa melihatku seperti melihat malaikat maut saja.." Ucap Gloria yang terkekeh lucu.


"Walau nyatanya aku akan benar-benar menjadi malaikat maut untuk kalian berdua." Smirk Gloria yang menatap sinis kedua orang yang terdiam kaku di depannya.


Di tempat lain seorang wanita muda berjalan dengan cepat menuju lift dan masuk ke dalamnya. Wanita muda itu tak lain tak bukan adalah Fenia yang dengan terburu-buru masuk ke dalam lift dengan menyembunyikan setengah wajahnya.


Fenia tidak mengerti kenapa peristiwa dan kebenaran yang terjadi di pesta malam ulang tahunnya itu sampai bocor ke media. Padahal Fenia yakin jika Juliando sang Daddy telah menutup rapat-rapat mulut orang di dalam pesta itu. Namun Kenapa masih saja ada bocoran di luar.


Lebih parahnya Fenia yang biasa terima pujian dan sanjungan kini Fenia harus menerima di hujat sebagai anak haram dari seorang pelacur dan Juliando pria parasit yang memanfaatkan kekayaan mendiang istrinya.


Tak hanya itu Fenia bahkan harus menerima kenyataan pahit di mana semua job dan pemotretan dirinya tiba-tiba di batalkan atau di berhentikan membuat Fenia benar-benar panik karna tidak menemukan job.


Hanya ada satu produser yang mempertahankannya untuk menjadi bintang filmnya dengan catatan Fenia menemuinya di sebuah hotel yang sudah di siapkan untuknya. Tak hanya itu Fenia harus menemuinya seorang diri tanpa di temani siapa pun termaksud asistennya.


Alhasil di sinilah Fenia berada di sebuah hotel mencari kamar yang telah dikirimkan oleh sang produser padanya. Fenia berjalan dengan menutupi setengah wajahnya mencari nomor kamar dari sang produser hingga setelah beberapa menit mencari akhirnya Fenia menemukannya.


Ceklek


Cup


Sret

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan….?"


__ADS_2