Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Membersihkan


__ADS_3

"Sekarang naik di arena lawan mu sekarang adalah Gading!"


"A......APA...?" Teriak Gading spontan saat mendengar Antony menyebut namanya untuk menjadi lawan Gloria.


"Ada apa? Apa telinga kamu tuli tidak mendengar apa yang saya takan?" Tanya Antony yang menatap tajam Gading.


"Itu....... Saya....."


"Saya apa Gading? Kamu tak perlu takut menyakitinya. Sekarang bukan saatnya kamu memikirkan dia calon ketua kamu. Untuk menjadi ketua maka harus kuat dan tidak takut terluka." Ucap Antony yang terdengar tegas.


"Majulah Kak!" Kata Gloria yang sudah ada di atas ring.


Gading yang melihat Gloria tegak di arena langsung membulatkan mata. Gading tidak ingin berakhir sama seperti kejadian beberapa hari yang lalu lantaran menghadapi Gloria.


"Tidak nona muda saya mengaku kalah." Kata Gading yang langsung mengaku kalah pada Gloria.


Sedangkan Antony yang mendengar perkataan Gading langsung mengernyitkan alis. Bagaimana bisa belum bertarung saja Gading sudah mengaku kalah duluan pikir Antony.


"ada apa? Kenapa belum apa-apa kamu sudah mengalah seperti itu?" Tanya Antony dengan heran.


"Aku sudah bertarung dengannya beberapa hari lalu di hutan dan saya kalah Tuan." Terus terang Gading kepada Antony.


"Bagaimana bisa?" Teriak Antony kaget.


"Oh itu..... Mereka membuat singa terluka jadi aku balas dengan melukai mereka juga." Kata Gloria enteng.


"Apa yang anda gunakan nona muda?"

__ADS_1


"Tidak banyak hanya seperti mematahkan tangan dan kaki mereka misalnya."


"jadi anda mematahkan kakinya atau lengannya?"


"Kakinya tapi aku perbaiki ulang."


"Kaki patah perbaiki ulang? Kaki patah di perbaiki ulang? Bagaimana bisa?"


"bisa!"


"Bagaimana caranya?"


"Itu..... Aku patahin lagi lalu aku kembalikan pada peraturan baru."


Antony yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala . Menurutnya apa yang di katakan oleh Gloria cukup ekstrem seperti ini. Antony merasa kurang percaya pada apa yang di katakan oleh Gloria.


"Tapi itu kenyataannya Paman jika merasa tidak percaya coba tanyakan saja pada Kak Gading." Ucap Gloria dengan tenang.


Mendengar itu Antony langsung menoleh ke arah Gading yang langsung menganggukkan kepala.


"Kamu benar-benar tidak mau bertarung dengannya?" Tanya Antony sekali lagi yang di balas gelengan keras oleh Gading.


"Baiklah jika begitu kita langsung ke markas disana kamu akan belajar sekaligus mengenal anggota kamu." Terang Antony.


Sedangkan di tempat lain di negara yang jauh disana Luis bersama Javier dan beberapa anggota lain mengobrak abrik mension milik Luis. Mereka tidak mengobrak_abrik mension itu sembarang. Luis dan Javier bersama beberapa orang tengah membersihkan kamera CCTV yang tersebar di dalam mension itu.


"Pastikan semuanya bersih, jangan tinggalkan satu barang pun!" Teriak Luis dengan napas dan wajah memerah karna menahan amarah.

__ADS_1


Luis benar-benar di buat marah oleh orang yang sudah berani mengusiknya hingga sejauh ini. Mension yang dulunya adalah tempat aman untuk mereke kini justru berganti menjadi tempat yang paling membahayakan untuk di tinggali.


Bukan hanya satu atau dua kamera yang terpasang tapi puluhan kamera CCTV tersembunyi dalam mension itu dari segala yang terpasang di setiap sudut.


Setelah beberapa menit akhirnya orang-orang Luis berkumpul di depannya. Orang-orang itu sekitar 15 orang dengan Javier.


"Semua sudah bersih Bos." Lapor Javier kepada Luis.


"Kamu yakin semua telah bersih?" Kata Luis yang menatap Javier dengan tajam.


"Yakin Bos." Jawab Javier dengan yakin.


Mendengar itu Luis hanya menganggukkan kepala samar. Kini tatapan mata Luis menoleh dan tertuju pada para pelayan dan penjaga yang tengah berlutut di depannya. Oran-orang itu berjumlah 20 lebih yang terdiri dari pelayan, satpam, dan bodyguard.


Dulu orang-orang ini adalah orang yang bekerja pada perintahnya. Namun, sekarang Luis tidak yakin jika mereka masih murni bekerja padanya. Apalagi saat mendengar cerita dari Luisa yang merasa di awasi. Maka, semakin yakinlah Luis jika bisa saja mereka bukan lagi bekerja untuknya.


"Tidak ada yang ingin di sampaikan?" Suara datar dan aura dingin yang di keluarkan oleh Luis membuat orang-orang yang berlutut itu bergetar takut. Namun, sejauh ini belum ada yang mengaku membuat Luis menggetarkan gigi menahan amarah.


Sebenarnya Luis tahu siapa saja yang mengkhianatinya tapi Luis memilih menyuruh mereka sendiri yang mengakuinya.


"Bicaralah selagi aku meminta baik-baik karna jika aku marah kalian tidak akan tahu apa yang bisa aku lakukan!" Kata Luis yang penuh penekanan.


Cukup...! Kesabaran Luis benar-benar habis sekarang. Pria itu sudah meminta baik-baik tapi tidak ada yang mendengarkan.


Dor


Ah.....!

__ADS_1


__ADS_2