Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
minta maaf


__ADS_3

AAAAAAAA


Juana yang baru saja ingin membaringkan badannya di kasur langsung terperanjat kaget saat mendengar suara teriakan yang sangat di kenalinya siapa lagi jika bukan suara dari sang anak.


Begitu pula Juliando yang langsung terbangun mendengar suara itu. Juliando dan Juana saling melirik satu sama lain saat teriakan itu terdengar lagi. Pasangan itu berlari keluar dari kamar menuju asal suara.


Baru saja sampai di ruang tamu Juana dab Juliando membulatkan mata melihat Fenia yang di tarik-tarik rambutnya oleh Gloria dari atas tangga.


"GLORIA LEPASKAN RAMBUT KAKAKMU…!" Teriak Juliando menatap Nyalang Gloria.


Brukk


Tak tanggung-tanggung Gloria bahkan sampai mendorong Fenia hingga tersungkur dan kepalanya membentur sudut meja.


"Fenia…!"


"Gloria apa…."


"DIAM B*NGSAT!"


Gloria menatap tajam Fenia dan Juliando secara bergantian. Napasnya memburu dengan dada yang naik turun menandakan jika kali ini Gloria benar-benar marah. Matanya memerah dengan rahan yang mengeras membuat yang melihatnya tertegun bahkan gemetar termaksud Juliando yang menyaksikan itu kakinya seperti bergetar.


"Di rumah ini kalian hanya menumpang..! Jika tidak ingin tinggal lagi disini silahkan angkat kaki," Ucap Gloria yang penuh penekanan.


"Dan kamu…. Ajar putri haram-mu itu agar sadar posisinya di mension ini. Tuan Juliando ajari putri tersayangmu untuk bertutur kata yang benar jika tidak maka jangan salahkan aku jika mulutnya aku robek." Lanjut Gloria yang menatap sinis Fenia dan Juliando.


"Kau beraninya kamu menghina….."


"Apa…? Marah..? Itu kenyataannya putri anda itu hanya anak haram yang dengan baik hatinya Tuan Juliando merawatnya dengan penuh kasih sayang bahkan sampai membuang anak kandungnya sendiri." Sarkasme Gloria.


"Lebih baik kalian angkat kaki dari rumahku…!" Usir Gloria dengan melipat tangan di dada.


Juliando yang mendengar itu tentu saja langsung gelagapan di buatnya. Juliando segera mendekat ke arah Gloria. Jika dia keluar dari mension mewah ini maka akan sangat sulit mendekati Gloria dan tentu semuanya tidak akan pernah jatuh ke tangannya lagi. Juliando tentu tidak akan ikhlas semua yang ada di mension ini menjadi milik Gloria.

__ADS_1


"Gloria dad…."


"Jangan sebut diri anda sebagai Daddy saya!." Sentak Gloria yang menatap tajam Juliando.


"Huhhh anak ini benar-benar keras, aku harus memikirkan cara agar dia menjadi luluh." Kata Juliando dalam hati yang mengepalkan tangannya.


"Gloria kasihanilah kami, ini sudah malam sayang jika kamu keluar sekarang tidak ada tempat yang terbuka malam-malam seperti ini, ucap Juliando dengan memasang wajah masam.


"Ck…. Dia pikir setelah memasang ekspresi menjijikan itu aku akan luluh? Dasar bodoh." Umpat Gloria yang menatap kebodohan pria paruh baya di depannya itu.


"Cih…. Anda pikir aku akan diam saja setelah putri kesayangan anda itu menghina mendiang mommy-ku? Tidak akan! Aku tidak peduli kalian mau tinggal di mana bahkan jika sampai di kolong jembatan sekalipun."


Juliando yang mendengar itu langsung mengepalkan tangan matanya melirik Fenia yang berada di pelukan sang istri dengan kening yang berdarah tapi Juliando tidak peduli itu.


"Kamu tenang saja, Daddy akan suruh dia minta maaf tapi kamu jangan usir Daddy oke..?" Ucap Juliando dengan nada memelas.


Gloria yang mendengar itu tentu saja tersenyum jahat di dalam hati. Bukankah wanita itu sudah cukup banyak merebut apa yang menjadi hak nya. Jadi, bukankah sudah waktunya dia juga harus merasakan penderitaan? Pikir Gloria.


Melihat kebungkaman Gloria Juliando segera berjalan ke arah Fenia. Menarik tangan wanita itu membawanya di depan Gloria yang sedang berdiri dengan angkuh.


Tak tanggung-tanggung Juliando membuat Fenia berlutut di hadapan Gloria. Fenia dan Juana tentu saja membulatkan mata melihat apa yang di lakukan oleh Juliando. Juana yang melihat Fenia yang di lakukan seperti itu tentu tidak terima dengan langkah terseok-seok dirinya berjalan menghampiri sang suami.


"Apa yang kamu lakukan Dad..? Kenapa membuat putri kita berlutut di hadapan anak sialan ini..!"


Plak


Suara tamparan nyaring terdengar di ruangan itu membuat beberapa pelayan yang belum tidur dapat mendengarnya tapi mereka memilih acuh. Sedangkan Gloria wanita muda itu tersenyum sinis ke arah Juana yang menerima tamparan dari suaminya sendiri.


Bagi Gloria tidak peduli mau Juliando membunuh mereka atau tidak. Jika di pikir-pikir itu ide bagus membuat Juliando menjadi perantara penderitaan kedua wanita di depannya mereka itu. Bukankah Juliando yang membawa mereka di kehidupan mewah ini hingga mereka lupa diri siapa diri mereka sesungguhnya. Jadi, akan sangat menyenangkan jika orang yang mereka anggap sebagai penyelamat itu menjadi awal penderitaan mereka pikir Gloria yang tersenyum miring.


"Ka…kamu menampar…ku dad..? Kamu.."


"Diam..! Kenapa kalau aku tampar? Kamu juga berani menghina dirinya. Kamu lupa dia juga putriku, putri kandungmu dan putri kesayangan muninu sudah berani menghina ibunya." Kata Juliando dengan setengah berteriak.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mencintai wanita itu Dad..! Kenapa harus membelanya..?" Teriak Juana yang mengamuk.


"Tapi dia adalah mommy kandung dari Gloria. Apa hak putri kamu ini untuk menghina mendiang Vanessa ha…? Aku tidak mau tahu pokoknya Fenia harus meminta maaf kepada Gloria." Tekan Juliando yang menatap Nyalang Juana dan Fenia dengab mata elangnya.


"Apa….?"


"Cepat minta maaf..!" Sentak Juliando membuat Fenia tersentak kaget.


"Dad…"


"Minta maaf sekarang…!" Bentak Juliando yang menatap tajam Fenia seperti ingin menelan hidup-hidup.


"Juliando apa yang kamu lakukan..? Kamu membuat putri kita ketakutan." Juana berucap dengan panik. Melihat wajah marah sang suami Juana takut jika kemarahan sang suami di lampiaskan ke putrinya.


"Diam…! Apa kamu ingin tinggal di kolong jembatan? Jika kita keluar dari mension ini malam ini juga kita akan tinggal dimana?" Bisik Juliando dengan suara tertahan takut Gloria mendengarnya.


"Tapi tidak seperti ini juga. Kita juga masih punya tabungan di bank dan beberapa penghasilan dari restoran itu." Bisik Juana balik yang tetap tidak akan rela jika putri kesayangannya harus minta maaf pada wanita muda yang sangat dia benci itu.


"Kita belum bisa memastikan jika tabungan itu masih aman. Tunggu besok kita akan mengeceknya jika masih aman kita tidak perlu seperti ini. Tapi malam ini kita harus mengalah dulu." Bisik Juliando yang telah menyusun rencana.


Juana yang mendengar itu hanya bisa terdiam dengan mengepalkan tangan apa yang di katakan oleh Juliando benar adanya. Tidak menutup kemungkinan tabungan itu juga pada hangus. Dengan terpaksa Juana diam membiarkan sang putri untuk meminta maaf kepada Gloria.


Sedangkan Gloria hanya diam namun telinganya mendengar sangat jelas apa yang di katakan oleh Juana dan Juliando. Terbiasa hidup di hutan membuat Gloria memiliki pendengaran yang sangat tajam hingga sangat mudah mendengar apa yang di katakan oleh orang di sekitarnya.


"Fenia, sekarang minta maaf!" Ucap Juliando penuh penekanan.


"Dad…."


"Cepatlah…! Jika tidak segera keluar dari sini." Sentak Gloria yang memasang wajah pura-pura capek dengan terus menggerak-gerakkan kakinya seperti lelah berdiri.


Juliando yang melihat itu langsung melototi Fenia untuk segera meminta maaf. Fenia yang melihat tatapan tajam sang Daddy dan sangat terpaksa meminta maaf kepada Gloria.


"Gloria maafkan aku.." ucap Fenia pelan.

__ADS_1


"Apa..?


__ADS_2