
Juliando menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi membela jalanan beraspal itu. Umpatan dan teriakan dari mengemudi lain karena dirinya ngebut-ngebut Juliando tidak pedulikan hal itu. Untuk saat Juliando benar-benar sedang marah sampai level tertinggi.
Penghinaan yang dia dapatkan di perusahaan tadi melekat dan tak akan pernah Juliando lupakan. Penghinaan yang di lakukan oleh Gading dan Gloria akan pastikan jika Juliando akan membalasnya berkali lipat dari ini. Dirinya tidak pernah terima di perlakukan sedemikian rupa oleh kedua anak ingusan itu.
Setelah mengemudi beberapa menit akhirnya Juliando sampai di mension. Juliando turun dari mobil membanting pintu mobil dengan kuat sebagai bukti kekesalannya.
Dengan langkah lebar Juliando masuk ke dalam mension itu. Baru saja masuk samar-samar Juliando mendengar suara istrinya dan anaknya seperti sedang membahas sesuatu. Dengan rasa penasaran yang kuat Juliando melangkahkan kakinya menuju asal suara yang berada di ruan tamu.
Baru saja sampai sebelum mengeluarkan sesuatu telinga Juliando mendengar sebuah fakta yang benar-benar mengejutkan dan membuat darahnya mendidih.
"Terus mommy tidak mengerti entah bagaimana bisa semua saldo di card mommy tidak ada isinya. Lebih parahnya lagi adalah bahkan kartu hasil dari restoran yang mommy kelola dan mammy simpan ke restoran itu. Namun mommy tidak mengerti kenap kartu itu kosong tanpa sedikitpun saldonya."
"APAAA?" Teriak Juliando dari belakang.
Juana dan Fenia yang mendengar suara yang mereka kenali langsung menoleh ke arah asal suara. Kedua mata wanita itu langsung terbelalak saat melihat jika di depan mereka itu telah berdiri Juliando yang menatap mereka nyalang.
Baik Juana maupun Fenia kedua wanita itu hanya bisa bergetar ketakutan. Sepertinya pria paruh baya itu benar-benar dalam kondisi yang tidak baik dan tentu hal itu membuat kedua wanita di depannya itu merasa panik dan cemas bersamaan. Keduanya salang memandang satu sama lain yang hanya bisa diam tanpa berani mengeluarkan satu kata pun.
__ADS_1
"BAGAIMANA BISA UANG ITU HABIS? APA KAMU MENGHABISKANNYA UNTUK SHOPING LAGI HA...?" Bentak Juliando yang menggelegar dalam mension itu.
Bahkan para pelayan sudah berkumpul di sekitar ruang tamu menyaksikan bagaiman pria paru baya yang mereka ketahui merupakan daddy dari sang majikan itu mengamuk.
"Apa tidak bisa satu hari itu saja kamu tidak belanja? Atau bisakah kalian berdua sedikit berguna jangan tahunya hanya menghabiskan uang saja?" Kata Juliando yang terdengar pedas.
"Lho kok gitu dad..? Mommy juga shoping biar mommy cantik dan terawat agar dad tidak keluyuran dan cari selingkuhan di luar sana..!" Balas Juana yang membalas tatapan tajam sang suami.
"Saat ini bukan waktunya untuk memikirkan itu semua termaksud shoping dan kegiatan menghabiskan uang lainnya."
"Nggak bisa gitu dong dad."
"Kamu tahu, uang yang ada di kartu itu adalah harapan kita satu-satunya. Namun, jika uang itu habis kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Semua tabungan dan aset-aset yang kita sembunyikan menghilang begitu saja tanpa sisa."
"APAAA?" Juana dan Fenia langsung berteriak kaget. Kedua wanita itu dengan serentak berdiri dari sofa menatap Juliando meminta penjelasan.
"Apalagi aku juga tidak tahu itu menghilang entah kemana. Semuanya habis tanpa sisa dan sekarang kartu harapan kita satu-satunya juga tidak ada. Maka, saat ini kita tidak bisa apa-apa selain memikirkan rencana matang-matang di rumah ini." Ungkap Juliando yang mendudukan dirinya kasar di ats sofa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa seperti ini?" Batin JUana dan Fenia yang keduanya tidak percaya hal ini akan terjadi secepat ini.
"Mulai besok cobalah mendekat dan ambil kepercayaan Gloria." Ucap JUliando tiba-tiba.
"DAD......."
"Fenia, diam. Daddy nggak mau tahu pokoknya kalian harus bisa mengambil kepercayaan Gloria jika tidak kita akan di usir dari sini dan aku tidak mau akan hal itu." Kata Juliando yang tidak bisa di ganggu gugat.
Setelah atas seperti itu Juliando segera berdiri beranjak pergi meninggalkan Fenia dan Juana yang masih terpaku tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Juliando.
D tempat lain terlihat seorang pria dengan wajah datarnya sedang terfokus pada berkas yang ada di tangannya. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Louis hingga tiba-tiba disadarkan dengan bunyi ponsel yang berada di sampingnya.
Dengan rasa malas Louis mengulurkan tangannya mengambil benda persegi panjang itu. Terlihat kening pria itu yang mengkerut saat melihat jika ada nomor asing yang mengirimnya pesan. Awalnya Louis tidak ingin membuka pesan itu akan tetapi, entah kenapa rasa penasaran itu muncul.
Dengan rasa penasaran yang besar Louis membuka pesan dari nomor asing itu. Namun, di detik berikutnya terlihat mata pria itu yang melotot dan mengkilap tajam dengan tangan yang mencengkram keras benda persegi panjang di tangannya.
BRAKKKK
__ADS_1
"FABIAN.....!