Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
DI RENDAHKAN


__ADS_3

"Tuan Juliando mohon berdiri dari kursi itu, karena kursi itu merupakan kursi pemimpin perusahaan yang seharusnya diduduki oleh Nona Gloria."


Deg


Juliando yang mendengar itu langsung tertegun saat Gading dengan terang-terangan menyuruhnya untuk berdiri dari kursi yang biasa dia duduki di ruangan itu.


"Anda harus ingat Tuan Juliando jika anda hanya menumpang di perusahaan ini." Kata Gading lagi yang terdengar lebih pedas dari yang tadi.


Dengan menahan rasa malu Juliando berdiri dari kursi itu. Juliando menatap tajam Gading dan Gloria yang hanya tersenyum ke arahnya. Lebih tepatnya senyum remeh yang di berikan kepadanya membuat Juliando semakin membenci kedua manusia di depannya itu. Namun, Juliando tidak bisa melakukan apapun selain mengalah dan menuruti apa yang di inginkan oleh Gloria maupun Gading.


Sedangkan Gading pria itu dengan tanpa perasannya sedikitpun langsung berjalan ke arah kursi yang baru saja di tinggalkan oleh Juliando. Gading dengan ekspresi jijik mengeluarkan sapu tangan miliknya kaku di sapukan pada kursi itu seakan-akan sedang menghapus kotoran saja.


Juliando yang melihat apa yang di lakukan oleh Gading langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Dirinya benar-benar emosi dengan apa yang di lakukan oleh Gading yang seakan-akan menganggapnya adalah kotoran yang sangat menjijikan.


"Silahkan duduk Nona! Saya sudah membersihkannya dan saya pastikan sudah bersih." Kata Gading kepada Gloria.


Gloria hanya diam melangkah mendekat ke arah Gading tak lupa tangannya menyentuh kursi itu lalu menatap dengan teliti tangan yang di gunakan memegang kursi itu.


Juliando yang melihat apa yang di lakukan oleh Gloria hanya bisa bisa diam menahan amarah tanpa bisa melakukan apapun.

__ADS_1


"Masih ada yang ketinggalan Tuan Juliando?" Tanya Gading yang mengagetkan Juliando.


"Apa?" Tanya Juliando linglung.


"Ada yang ketinggalan? Kalau sudah tidak ada lagi yang ketinggalan silahkan keluar dari ruangan ini. Karna kami akan meeting dan tentunya hanya orang-orang penting perusahaan ini yang harus ada di ruangan ini." Ujar Gading dengan senyum sinis pada Juliando.


"Saya akan keluar." Kata Juliando dengan memasang senyum terpaksa di bibirnya..


Dengan menahan kekesalan dan amarah kebencian kepada Gloria, Juliando berjalan cepat keluar dari ruang rapat itu. Dengan langkah lebar Juliando berjalan cepat keluar dari perusahaan. Sampai di parkiran Juliando langsung masuk ke alam mobilnya.


BRAKKK


"Sialan, hanya aak ingusan berani sekali mempermalukan aku seperti ini. Lihat saja akan aku beri dia pelajaran yang setimpal nanti sampai di rumah." Ucap Juliando yang benar-benar membenci Gloria karena telah berani merendahkannya sampai segitunya di depan para pemegang saham perusahaan.


Sedangkan di sisi lain Juana yang baru sampai di mension langsung turun dari mobil berjalan masuk ke dalam mension dengan membanting pintu mobil dengan keras. Dengan wajah memerah menahan kesal dan marah menjadi satu di rasakan oleh Juana. Wanita paruh baya itu benar-benar malu dengan apa yang terjadi di mall tadi.


Seumur-umur Juana tidak pernah di perlakukan seperti ini. Namun, baru kali ini Jana di permalukan seperti ini dan tentunya Juana tidak terima akan hal itu tapi mau gimana lagi. Juana tidak punya pilihan lain selain lari dari kejadian yang memalukan itu.


Juana berjalan masuk ke dalam mension dengan wajah marah dan napas yang memburu menandakan wanita paruh baya itu sedang emosi saat ini.

__ADS_1


Sedangkan di dalam. Fenia yang sedang bersantai di ruang tamu kaget saat mendengar suara langkah kaki yang di hentakkan membuat Fenia mengangkat pandanganya dan langsung bisa melihat Juana sang Mommy yang sedang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


Feni semakin heran saat melihat wajah sang mommy yang rupanya sedang tidak bersahabat entah apa yang terjadi dengan wanita paruh baya itu pikir Fenia.


"Sialan, lihat saja akan aku balas kalian semua." Umpat Juana yang mendudukan dirinya di sofa yang berada di depan Fenia.


"Ada apa sih Mom? Ini bukan lagi ulah dari anak sialan itu?" Ucap Fenia dengan menatap bingung ke arah sang Mommy.


"Ini memang bukan ulang dari anak sialan itu tapi ulah dari wanita-wanita gila yang sudah berani menghina dan merendahkan mommy di tempat umum." Sahu Juana yang masih dengan napas yang memburu karena menahan amarah.


"Di permalukan gimana mom?"


"Tadi itu mommy pergi ke mall rencana mau shoping karna kamu tahu sendiri barang-barang branded milik kita semuanya di raup oleh anak sialan itu."


"Lalu?"


"Sampai di mall mommy langsung menuju tempat tokoh perhiasan. Mommy melihat perhiasan yang begitu cantik dan indah jadi mommy jadi mommy membungkus beberapa perhiasan itu."


"Terus?"

__ADS_1


"Terus mommy tidak mengerti entah bagaimana bisa semua saldo di card mommy tidak ada isinya. Lebih parahnya lagi adalah bahkan kartu hasil dari restoran yang mommy kelola dan mammy simpan ke restoran itu. Namun mommy tidak mengerti kenap kartu itu kosong tanpa sedikitpun saldonya."


"APAAA?"


__ADS_2