
"Aku harap kamu tidak pernah berubah Vier." Ucap Luis tiba-tiba membuat Javier tertegun.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? Kamu meragukan kesetiaan aku begitu?" Tuding Javier yang tidak menyukai perkataan Luis.
"Aku hanya takut..." Guman Luis yang menatap ke arah lain.
"Ck.... Sejak kapan Luis yang aku kenal menjadi optimis seperti ini." Sindir Javier yang menatap sinis Luis yang hanya bisa terdiam kaku.
"Dengar Bro walaupun di dunia ini semua orang menghina atau membuang kalian, aku akan tetap menerima kalian dengan ikhlas. Jadi yakinlah sahabat mu ini tidak akan pernah mengkhianati kamu." Ucap Javier yang menepuk pelan bahu sang sahabat.
"Terima kasih." Ucap Luis di iringi dengan senyum kecil.
"Semua akan baik-baik saja. Ada aku bersama kamu."
Kedua sahabat itu saling memberi dan membalas senyum. Bagi Javier sangat mustahil baginya untuk mengkhianati orang yang begitu berjasa dalam hidupnya.
__ADS_1
"Lalu apa rencana kita selanjutnya? Aku yakin berita kembalinya kamu pasti sudah sampai di telinga tua bangka itu." Tanya Javier.
"Pertama-tama kita serang pendapatan utama mereka namun tidak sekarang. Besok kita akan bereaksi sekarang biarkan tua bangka itu bersama putranya kepanasan mendengar aku kembali dalam keadaan hidup-hidup." Balas Luis yang menyeringai dingin engan mata yang mengkilat tajam penuh aura dingin.
Sedangkan di tempat lain seorang pria paruh baya tengah mengamuk di dalam ruang kerja miliknya. Seorang pria paruh baya itu tak lain dan tak bukan adalah Fabian paman dari Luis.
Fabian baru saja mendapat kabar jika Luis sang keponakan yang berusaha keras dia singkirkan kini telah kembali. Namun, bukan itu permasalahannya. Berharap yang kembali hanya jasadnya atau abunya kini justru mendapat kabar yang menampar angan-angannya. Bagaimana tidak pria itu keponakan yang dia mati-matian singkirkan justru kembali baik-baik saja tanpa cacat sedikitpun membuat Fabian benar-benar marah.
Belum sampai disitu lagi lagi Fabian harus mendapat kabar yang langsung membuatnya kaget sekaligus amarahnya berada di puncak ubun-ubunnya. Fabian tidak menyangka jika orang-orang yang dia utus untuk memata-matai mension Luis justru semuanya di bunuh oleh Luis. Hal ini juga membuat Fabian kaget pasalnya selama ini keponakannya itu walau kejam dan sadis di dunia bisnis tapi tidak pernah satu kalipun dia berani membunuh orang yang mengusiknya.
Fabian hanya bisa gigit jari memikirkan Luis akan menuntut balas dendam membuat Fabian cemas dan panik secara bersamaan.
Dengan menahan amarah Fabian segera menelfon Regis yang merupakan putra semata wayangnya. Namun, sudah 3 kali Fabian menghubungi Regis tapi tak pernah di angkat oleh Regis.
"Sial, kemana anak itu? Jangan sampai di jam begini dia sedang main ******." Geram Fabian yang sepertinya kesal akan ulah dari putranya itu.
__ADS_1
Dengan kekesalan dan amarah yang sudah berada pada puncaknya Fabian berjalan keluar dari ruangannya menuju ruangan sang putra yang merupakan seorang wakil Ceo di perusahaan cabang Albarack itu.
Ah.....
Darah Fabian semakin mendidih saat masih jauh-jauh tapi dia sudah bisa mendengar suara ******* dari seorang wanita. Tanpa di kasih tahu pun Fabian sudah tahu akan hal itu. Fabian bukan orang bodoh yang tidak bisa mengetahui akan hal itu.
"Anak Sialan...."
BRAKKK
"ANAK SIALAN..!"
"Daddy..?"
PRANG....
__ADS_1