Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Cemas


__ADS_3

BRAKKK


"ANAK SIALAN..!"


"Daddy..?"


PRANG....


Tanpa perasaan Fabian melempar vas sebuah bunga ke arah wanita yang menjadi lawan main sang putra yang merupakan sekretaris dari Regis.


"Keluar *****!" Fabian langsung mengusir wanita itu tanpa peduli jika kepalanya berdarah karna terluka akibat dari lemparan vas tadi.


Plak


Dengan penuh amarah Fabian langsung memberi tamparan pada wajah kiri dari sang putra. Fabian benar-benar muak dengan kebiasaan putranya itu yang sangat hobby meniduri wanita.


"Apa di kepala kamu itu hanya ada wanita dan **** ha...?" Teriak Fabian yang benar-benar murka.


"Daddy bukankah itu adalah hal wajar aku juga butuh pelampiasan." Jawab Regis dengan santai.


Plak

__ADS_1


"SETIAP SAAT KAMU HANYA MAIN ITU TERUS. KAMU TAHU KEADAAN KITA SEDANG TERANCAM TAPI KAMU JUSTRU SIBUK DENGAN PARA ****** KAMU ITU." Bentak Fabian benar-benar murka bagaimana bisa di keadaan genting seperti ini putranya itu justru terlihat santai.


"Keadaan genting apa Dad?" Tanya Regis yang mengelus-elus wajahnya yang masih terasa sakit dan perih karna tamparan dari sang Ayah.


"Anak sialan itu! Telah kembali. Luis telah kembali." Ucap Fabian dengan napas yang memburu.


"Bagus dong kalau dia sudah kembali dengan begitu kita akan semakin bisa merebut dan memiliki semua harta dari Alejandro."


PLAK..


Lagi lagi Fabian melayangkan tamparan pada wajah Regis yang menurutnya sangat bodoh. Bagaimana bisa dia memiliki seorang putra yang idiot seperti itu.


"Harusnya kamu tanya apa yang terjadi bukan justru berucap dengan santai seperti itu."


Cukup...! Fabian sudah tidak tahan lagi. Fabian ingin sekali membenturkan kepalanya di tembok menghadapi putranya itu yang semakin bodoh.


"ANAK SUNDAL! ANAK SIALAN ITU TIDAK MATI DIA KEMBALI DALAM KEADAAN HIDUP-HIDUP TANPA CACAT SEDIKITPUN."


"WHAT..! BAGAIMANA BISA? BUKANKAH ORANG-ORANG ITU BILANG JIKA LUIS TELAH MATI.?"


"TAPI KENYATAANNYA SEPERTI ITU BAHKAN MATA-MATA KITA DI MENSION ITU DI BUNUH SEMUA OLEH ANAK SIALAN ITU."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin.... Luis itu tidak akan melakukan hal itu. Membunuh itu mustahil dad, Luis tidak pernah bisa membunuh."


"Tapi anak buah daddy melihat itu secara langsung."


"Dad itu artinya Luis akan menuntut balas dendam pada kita." Teriak Regis yang panik.


"Karna itu dari tadi daddy cemas tapi kamu hanya asik dengan ****** kamu itu." Ucap Fabian sinis.


"Sekarang bantu daddy untuk berfikir membuat rencana untuk segera menyingkirkan anak sialan itu sebelum dia datang membalas dendam kepada kita." Ujar Fabian yang memijit pelipisnya pusing.


Kedua orang yang sepasang ayah dan itu langsung memikirkan cara untuk menyingkirkan Luis dari dunia ini. Mereka harus segera menemukan rencana yang matang untuk membunuh Luis. Sangat bahaya untuk mereka berdua jika Luis duluan yang menyerang mereka.


Dengan kekuasaan yang di miliki Luis akan sangat mudah bagi pria itu menggulingkan mereka. Jadi, sebelum rencana itu berhasil atau sebelum Luis bergerak maka mereka duluan yang harus menyerang dan memastikan jika Luis akan mati.


Hanya dengan Luis mati maka mereka akan aman dari ancaman Luis. Baik Fabian maupun Regis kedua orang itu berpikir Keras bagaimana caranya untuk menyingkirkan Luis.


Di sisi lain seorang pria telah menyeringai dingin melihat musuhnya cemas dan ketar ketir sendirian padahal dia belum memunculkan dirinya. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Luis yang sedang melihat Fabian dan Regis yang sedang menyusun rencana untuk menyingkirkannya.


"Teruslah berusaha karna sebentar lagi kalian akan menerima balasan yang setimpal dariku. " Guman Luis yang menatap Fabian dan Regis dengan dingin lewat leptopnya.


"Apa kita tidak akan mengagalkan rencana mereka bos?" tanya suara yang berada di belakang Luis yang berasal dari Javier.

__ADS_1


"Kita biarkan saja terkadang mempermainkan mental lawan itu lebih menyenangkan di banding langsung membuat mereka tumbang." Sahut Luis yang tersenyum licik.


"Pastikan semua data-data itu bocor ke publik! Karna itu seperti boom waktu yang akan meledak kapan saja."


__ADS_2