
"Javier Gustaro bersediakah kamu menjadi kekasihku?"
Deg
Javier yang mendengar apa yang baru saja Luisa ucapkan hanya bisa melotot dengan mulut yang menganga. Bagaimana bisa perannya justru di ambil oleh Luisa? Harusnya yang berkata seperti itu adalah dirinya bukan Luisa yang notabenenya adalah Wanita.
Javier masih terdiam kaku yang entah harus berekspresi seperti apa. Apa yang di katakan Luisa barusan sangat membuat otaknya buntung.
"Ih... Kok nggak di jawab." Gerutu Luisa yang menatap kesal Javier.
Javier yang sudah tidak bisa menahan lagi rasa menarik Luisa berdiri memeluk pinggang ramping Luisa dengan satu tangannya berada di tengkuk wanita itu menariknya hingga kedua bibir itu bertemu.
"Kamu mengganti peranku baby, harusnya aku yang mengatakan hal itu bukan kamu. Harusnya aku yang berlutut di kamu bukan justru sebaliknya." Bisik Javier di depan wajah Luisa dengan kening yang masih saling menyatu.
"Kamu kelamaan, cuma ngoceh mulu kayak rel kereta api." Gerutu Luisa.
Javier hany tersenyum kembali mengecup singkat bibir tipis Luisa.
__ADS_1
"Lebih baik kita segera pulang, kakak ipar kmu ada di rumah sakit. Kamu tidak ingin menjenguknya?" Tanya Javier setelah menjauhkan wajahnya dari Luisa.
"Astaga aku melupakan kakak ipar!" Seru Luisa yang membekap mulutnya dengan tangannya.
"Ayo cepat...!" Luisa menarik tangan Javier agar mengikutinya tapi langsung di tahan oleh pria itu.
"Apalagi sih?"
"Kamu tidak mau menjadi kekasihku?" Javier melemparkan pertanyaan konyol dengan menggaruk kepala belakangnya.
"Dasar bodoh! Jik aku tidak menjadi kekasihmu aku tidak akan mau di cium olehmu." Kesal Luisa.
"Ck..., Iya iya. Sudah ayo cepat." Luisa dengan kesal menarik Javier agar mengikutinya untuk pergi ke mobil mereka.
Sampai di mobil Luisa segera masuk di ikuti oleh Javier yang ikut masuk ke dalam mobil bagian jok depan kemudi. Javier menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi menuju rumah sakit. Keadaan jalan yang sepi membuat pria itu dengan leluasa menjalankan mobilnya dengan sedikit ugal-ugalan karena desakan dari sang kekasih yang meminta cepat sampai di Rumah Sakit.
Setelah beberapa menit akhirnya Javier dan Luisa sampai di rumah sakit tempat salah satu teman Gloria di rawat. Luisa turun dari mobil begitu pula Javier yang langsung berjalan sejajar dengan sang kekasih.
__ADS_1
Ceklek
"Kakak ipar......" Luisa menutup mulutnya dengan tangan saat 3 pasang mata menatap tajam ke arahnya.
Pemilik mata tajam itu tak lain dan tak bukan adalah Luis beserta dua orang pria yang menurut Luisa mereka orang asing. Namun, mata gadis itu melotot saat melihat jika wanita yang dia panggil kakak ipar itu sedang tertidur nyenyak dengan posisi duduk.
"jangan berisik Nona ku sedang tertidur." Kata pria yang berada di samping Luis dengan nada datar dan dingin menatap tajam Luisa.
Luisa yang mendengar nada bicara pria itu hanya bisa bergidik ngeri melihat jika kedua orang asing itu menatapnya seperti ingin melahapnya saja.
Glek
Sedangkan di sisi lain Javier hanya bisa menelan ludah dengan susah payah saat merasakan tatapan tajam dan punggungnya terasa dingin. Tanpa menoleh pun Javier tahu dari mana asalnya tatapan intimidasi yang kuat itu.
Javier dengan perlahan berjalan mendekati Luis yang sedang melayangkan tatapan tajam seperti laser kepada seperti ingin mencincang tubuhnya saja. Dengan gerakan gugup Javier mendudukan dirinya di samping Luis setelah menyimpan keranjang buah yang ada di tangannya tadi.
"Ampun bos, jangan menatapku seperti itu. Kamu sudah seperti malaikat maut yang ingn mencabut nyawaku." Bisik Javier kepada Luis yang hanya berwajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Dimana kamu membawa adikku?" Tanya Luis dengan nada suara rendah namun sungguh terkesan sebagai kalimat yang penuh penekanan pada setiap katanya.
"Aku membawanya di pantai dan menembaknya hingga menjadi kekasihku."