Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Gading tertembak


__ADS_3

"Gloria awas.....!"


"MATI KAU SIALAN!"


Dor


Uhukk uhukk


Brukk


"GADING...!" Gloria memekik bersamaan dengan tubuh Gading yang terjatuh di lantai kotor itu.


"KAU.... "


Dor


Dor


Dor


Tanpa menahan lagi Gloria langsung melepas tiga tembakkan yang langsung di perut, jantung, dan terakhir keningnya. Hingga Fabian terbanting bujur kaku tanpa nyawa.


Gloria berlari menghampiri Gading yang sudah bersimpa darah di lantai. Di letakkannya kepala Gading di atas pangkuan Gloria. Tanpa di minta air mata gadis itu jatuh dari kelopak mata indahnya menghiasi pipi mulusnya.


"Ga...ading bangun..., kamu tidak boleh mati secepat ini. Dendam ibuku belum tuntas bagaimana kamu seperti ini?" Ucap loria dengan suara bergetar.


"Nona, kita harus cepat membawa Tuan Gading ke rumah sakit." Kata Toni yang menyadarkan Gloria.


"Cepat bawa!" Kata Gloria datar yang memerintahkan anggotanya untuk mengangkat tubuh kaku Gading. Beberapa anggota Gloria segera mengangkat Gading dan membawanya keluar dari gedung tua itu di ikuti dengan Gloria di belakang mereka.

__ADS_1


"Kalian bertiga ikut Saya." Ucap Toni yang tertuju kepada Javier dan lainnya.


Ketiga orang itu saling pandang sebelum mengikuti langkah kaki Toni alias Galang yang mereka tahu sebagai sekretaris dari Luis. Sampai di mobil ternyata Gloria sudah menunggu mereka di mobil Toni degan duduk tenang di jok depan bagian jok kemudi.


"Cepat masuk jika tidak akan aku tinggalkan kalian disini." Ucap Gloria datar dengan waja datar dan dingin.


Tak punya pilihan mereka semua masuk ke dalam mobil dengan Toni yang duduk di samping Gloria sedangkan untuk Luis beserta Javier dan Luisa sang adik duduk di jok belakang.


Brummm


Wusssh


"Sudah ku duga, ku harap aku mash bernapas sampai di rumah sakit atau aku yang akan menjadi pasien rumah sakit." Ucap Toni dalam hati yang langsung berpegangan di mobil.


"Nona pelan-pelan saya masih belum pernah jatuh cinta, saya tidak ingin mati semuda ini." Teriak Toni saat Gloria yang semakin menaikan kecepatan laju mobil di saat mereka masuk di jalan ramai.


AAAAAAAA


"DIAM..! Jika tidak bisa diam aku lempar kalian dari mobil." Ancam Gloria yang terdengar tidak main-main.


Mendengar ancaman Gloria yang tidak main-main membuat nyali Toni menciut membuat pria itu menutup matanya rapat-rapat dengan dengan tangannya yang menutup mulutnya. Sedangkan di jok belakang, Luisa yang takut hanya bisa memeluk lengan Luis sang kakak menyembunyikan wajahnya di dada sang kakak.


Suara teriakan dan makian serta umpatan yang di tujukan Gloria karena menyetir ugal-ugalan. Namun, Gloria tidak peduli yang ada di pikirannya saat ini adalah cepat sampai di rumah sakit.


Setelah beberapa menit berkendara menit akhirnya mobil yang di kendarai Gloria sampai di sebuah rumah sakit. Gloria segera turun dari mobil berlari masuk ke dalam rumah sakit menyelusuri lorong-lorong rumah sakit.


"Nona..."


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Gloria dengan napas yang tersengal-sengal karena berlari dari parkiran sampai di ruangan ICU.

__ADS_1


"Tuan masih di dalam Nona." Jawab anggota Gloria.


Gloria yang mendengar itu langsung lemas, kakinya terasa lemah seperti jelly membuat Gadis itu langsung lurus terduduk di lantai dengan wajah kemasan dan tatapan kosong.


"Nona...."


Toni yang baru sampai langsung tertegun melihat keadaan sang ketua yang begitu sok dan terlihat putus asa.


"Nona, -ayo bangun duduk di kursi saja." ucap Tony yang membantu Gloria berdiri dan mendudukkan Gadis itu di sebuah kursi tunggu di depan ruangan ICU.


Toni paham apa yang dirasakan oleh Gloria karena dibandingkan dirinya dan Gading sang ketua lebih dekat dengan Gading dibanding dengan dirinya. Gloria menganggap Gading sebagai orang terpenting dan terdekatnya yang selalu ada di dekatnya. Oleh karena itu, Toni paham bagaimana perasaan ketuanya saat ini.


"Toni, dia akan baik-baik saja bukan?" Tanya Gloria tiba-tiba kepada Tony.


"Pasti, Gading pasti akan baik-baik saja." Jawab Toni dengan yakin.


Tanpa Gloria sadari sedari tadi ada mata yang terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sosok itu adalah Luis sedari awal matanya terus menatap ke arah Gloria yang sepertinya tidak menganggapnya ada sama sekali.


Luis mengepalkan tangannya kuat-kuat menyaksikan Gloria yang sepertinya benar-benar khawatir dengan keadaan pria yang tertembak tadi. Luis ingin bertanya akan tetapi melihat situasi sekarang membuat pria itu menurunkan niatnya. Jauh di lubuk hati Luis pria itu merasakan perasaan cemburu akan sikap Gloria terhadap pria asing itu. Jika Gloria sudah mendapatkan pria idaman lain maka untuk apa lagi Gloria muncul di depannya pikir Louis.


Saat pikiran Louis berkelana entah ke mana tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka menampilkan seorang dokter yang keluar dari ruangan itu.


Ceklek


"Keluarga pasien?"


"Saya adiknya, Bagaimana keadaan kakak saya dok?" Tanya Gloria langsung kepada sang dokter.


"Keadaan pasien baik-baik saja, pasien hanya butuh istirahat saja."

__ADS_1


"Syukurlah"


__ADS_2