
"Selidiki tempat itu dan kirim anggota kita untuk berjaga-jaga." Perintah Gloria.
"Untuk apa Nona?"
"Kamu menolak perintahku?"
"Baik Nona."
Gading segera berbalik pergi setelah memberi hormat kepada Gloria. Sedangkan Gloria senang karena bisa menjali hubungan kerjasama dengan perusahaan besar di atas perusahaannya. Hanya saja Gloria merasakan firasat buruk tapi Gloria tidak tahu apa firasat buruk itu dari orang yang akan mereka temui nanti atau dari orang lain.
"Jangan sampa aku kedatangan musuh lagi, masalah Tua bangka Juliando saja belum selesai mau dapat musuh baru lagi." Guman Gloria yang mempersiapkan semuanya.
Tak mau ambil pusing Gloria kembali menjalankan pekerjaannya yang tertunda tadi. Gloria tak ingin membuang-buang waktu hingga waktu berlalu begitu saja dan pekerjaan menumpuk. Gloria dengan serius melakukan pekerjaannya hingga beberapa menit kemudian pintu ruangannya kembali di ketok dari luar.
Tok
Tok
"Masuk." Sahut Gloria tanpa mengangkat pandangannya dari berkas di depannya.
"Nona,"
"Bagaimana sudah selesai?"
"Sudah selesai nona, anggota kita sudah disana dan menyamar menjadi pelayan."
__ADS_1
Terang Gading dengan serius.
"Bagus, segera persiapkan berkas apa saja yang kita bawah nanti." Perintah Gloria dengan tegas.
"Baik Nona."
Sedangkan di belahan dunia lain terlihat Luis yang sedang menahan kekesalan. Bagaimana tidak wanita di depannya itu terus saja menatapnya seperti kelaparan.
"Ingin rasanya aku aku mencongkel matanya itu. Berani sekali dia menatapku dengan tatapan menjijikan seperti itu." Batin Luis yang sangat ingin mencongkel mata wanita yang menatap wajahnya dengn pandangan seperti itu.
"Tua Luis perkenalkan, dia adalah putri saya Namanya Melani. Untuk ke depannya putriku yang akan melanjutkan proyek ini." Kata seorang pria paruh baya itu.
"Tuan Aron, apa kemampuan putri mempuni? Jika bukan Tuan sendiri yang menjalankan proyek ini. Maka sangat di sayangkan saya tidak ingin melakukan kerjasama ini." Terang Luis dengan tegas.
Tuan Aron yang mendengar itu tentu merasa marah karena Luis dengan terang-terangan menghina putri tercintanya.Tuan Aron mengajukan sang putri bukan tanpa alasan. Tuan Aron dapat memahami jika putrinya itu menyukai Luis. Oleh karena itu, ia sengaja mendorong putrinya dengan alasan Proyek dengan seperti itu maka keduanya akan dekat satu sama lain.
"Tapi aku...," Melani yang baru buka suara kembali diam saat melihat tangan Luis terangkat.
"Jika Tuan Aron hanya datang untuk main-main lebih baik Tuan Arton segera keluar dari ruangan saya. Takutnya saya tidak mampu menahan kekesalan saya."
Tuan Aron yang mendengar itu langsung mengepalkan tangan menahan amarah. Ternyata menghadapi Luis sangat sulit dari dulu.
"Baiklah, saya akan menjalankan proyek ini bersama anda Tuan Luis. Tapi saya punya persyaratan untuk itu," kata Tuan Aron yang ingin melakukan sebuah kesepakatan.
"Katakan."
__ADS_1
"Saya akan menjalankan proyek ini bersama anda asal..., asalkan anda mau menjadikan putriku Melani menjadi istrimu."
"Jadi, maksud anda adalah ingin menjodohkan saya dengan putri anda, begitu?"
"Benar. Bayangin jika perusahaan nomor 1 di negara italia bersatu dengan perusahaan besar nomor 3 di Jerman. Kekayaan Tuan Luis akan semakin meluas dengan jaringan 2 negara yang terbuka luas."
Pffft
Di sisi lain Javier berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan tawa yang sebentar lagi kan pecah. Pria itu merasa miris dengan apa yang terjadi, mengapa pria itu membawa sebuah lelucon yang jelas-jelas tak akan mudah di setujui oleh Luis.
"Jika Tuan tidak ingin melanjutkan maka silahkan keluar dari ruangan saya. Javier antar mereka ke depan ruanganku." Titah Luis yang beranjak berdiri dari sofa.
Melani yang dari dulu tidak pernah menerima penolakan tentu merasa kesal dan juga marah secara bersamaan.
"Tinggu!" seru Melani yang langsung berdiri dari duduknya.
"Apa yang kurang dariku?" Tanya Melani demngan menatap lurus ke arah Luis.
"Tidak ada hanya saja, aku lebih mencintai kekasihku di banding dirimu."
"Apa lebihnya dia..? Aku cantik, aku seksi, aku kaya, semua ada pada diriku. Lalu apa yang kurang dariku sehingga kamu menolakku?" teriak Melani dengan keras.
Luis yang tadinya tenang kini mulai terpancing nyalinya. Sedari tadi pria itu telah menahan mulutnya untuk tidak berbicara kasar pada Melani karena dia merupakan seorang wanita. Hanya saja saat kekasihnya di bandingkan maka emosi Luis langsung naik ke ubun-ubun.
"Kamu memang cantik tapi cantik hanya karena make up mu yang tebal, Kamu seksi tapi tidak hanya di mataku namun, di semua orang. Sedangkan kekasihku, ia wanita terhormat yang tidak menunjukan lekuk dan bentuk tubuhnya pada pria lain. Ketiga kamu kaya? Perlu saya ingatkan posisi anda, anda hanya numpang hidup di bawah ketiak ayahmu bukan berdiri di bawah kakimu sendiri. Dengn kata lain, kamu itu tanpa apa-apa jika tidak ada ayahmu di belakang."
__ADS_1
"KAU..,"
"Jadi Tuan Aron, ajari sopan santun pada putrimu."