
"Ups nggak tahu ya? Maksud aku adalah...m, Video anak kesayangan kamu yang tersebar di internet itu adalah ulahku." Kata Gloria dengan tersenyum senang.
Deg
"Kamu...," Juliando tidak bisa lagi berkata apa-apa karena Gloria benar-benar nekat membalas dendam.
"Sudah yah aku lagi malas berdebat sama hama pengganggu itu," Gloria langsung berjalan meninggalkan Juliando yang berdiri mematung.
Gloria naik di lantai dua bersama Luis dan juga Javier di ikuti Gading. Sampai di lantai atas Gloria langsung menunjukan mereka kamar yang akan mereka tempati masing-masing.
"Kamarmu mana baby?" tanya Luis sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Javier yang masih mendengar pertanyaan Louis langsung mengeluarkan kepalanya menatap ke arah Louis dan Gloria.
"Jangan macam-macam kamu Luis," ucap Javier yang menatap tajam Louis.
Louis yang mendengar peringatan dari Javier langsung mendengus kesal matanya langsung menatap ke arah Javier dengan tatapan laser. sontak saja karena tatapan tajam Louis membuat Javier langsung menelan ludah.
__ADS_1
"Ampun Bos, silakan lanjutkan saja." Kata Javier yang dengan cepat menutup pintu kamarnya.
Gloria dan Louis yang melihat tingkah dari Javier hanya bisa terkekeh dan gelang-gelang kepala. dari banyaknya seorang asisten hanya Javier yang berani mengolok-olok bahwa sendiri.
"Kamarku berada pas di samping kamar tempatmu tidur," ucap Gloria tiba-tiba dengan menunjuk kamar yang berada di samping kamar Louis.
Luis yang mendengar penuturan dari Gloria langsung menoleh ke arah yang ditunjuk sang kekasih. Hingga Louis bisa melihat dengan jelas jika kamar Gloria berada di samping tempat ia akan tidur.
"Baiklah Ayo masuk Saatnya untuk beristirahat,"
Dengan lembut Louis berjalan di depan kamar Gloria lalu membukakan pintu kamar gadis itu. namun di saat pintu kamar terbuka Louis langsung membulatkan mata saat melihat di dalam kamar itu ada seekor singa yang sangat besar.
"Hm semenjak aku datang dia juga ikut, aku tidak mungkin meninggalkannya di dalam hutan itu," jawab Gloria dengan senyum tipis di bibirnya.
"Baiklah ayo masuk, ini sudah laruh," Luis segera mendorong Gloria masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa juga Luis mengecup singkat kening Gloria sebelum menutup kamar sang kekasih.
Cup
__ADS_1
Tanpa Gloria dan Luis sadari jika ada orang lain yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Fenia yang mengikuti langkah kaki Gloria dan Luis sejak tadi. Fenia mengepalkan tangannya dengan erat saat rasa iri itu muncul dan menganggap jika semua yang menjadi milik Gloria harusnya adalah miliknya.
"Wanita sialan itu...! Kenapa dia selalu beruntung dan mendapatkan apapun yang dia mau? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan semua yang aku mau sedangkan dia bisa tanpa harus berusaha keras. Benar harusnya semua ini milikku tapi karena kehadiran wanita sialan itu aku kehilangan semuanya. Andaikan saja dia tidak muncul dalam kehidupanku tak mungkin aku akan hidup dengan menderita seperti ini. Tak ada yang mau bertemu denganku setelah video sialan itu tersebar dan semuanya karena Gloria" Guman Fenia yang semakin membenci Gloria.
Dengan menahan amarah yang menggebu-gebu Fenia berbalik menuruni tangga dengan langkah pelan takut singa Gloria bisa mendengar langkah kakinya.
"Kamu dari mana Fenia?" tanya Juana yang sudah menunggu Fenia di lantai bawah.
"Dari atas," jawab Fenia dengan acuh tak acuh.
"Fenia dengarkan mommy jangan pernah naik di lantai 2 itu akan membahayakan kamu sendiri," kata Juana yang memberi peringatan kepada Fenia.
"MOmmy tidak perlu mencampuri urusan ku lagi. Aku tahu akan melakukan apa yang baik dan yang buruk untukku." Kata Fenia yang langsung pergi begitu saja.
"FENIA... FENIA...!" Juana memanggil-manggil nama sang putri dengan suara keras namun Fenia tidak lagi berbalik kepadanya.
"Anak itu, kenapa sekarang dia menjadi pembangkang seperti ini. Apa dia tidak tahu jika naik di lantai 2 adalah menyerahkan nuyawa sendiri pada poeliharaan anak sialan itu." Juana mendengus kesal karena Fenia yang biasa penurut selalu menuruti apa yang dia katakan kini terlihat acuh tak acuh.
__ADS_1
Bahkan Fenia seperti tidak memperdulikn lagi apa yang dikatakan oleh Juana padanya. Mereka sudah seperti orang asing yang tak ingin mendengarkan satu sama lain.
"Aku harus mencari cara membuat Fenia bisa menjadi penurut lagi," guman Juana yang berbalik pergi menuju kamarnya bersama Juliando.