Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Usul Fenia


__ADS_3

Sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar melalui sela gorden mengusik tidur nyenyak seorang gadis muda yang masih asyik menggulung dirinya dengan selimut tebal. Di samping gadis itu ada seekor singa yang sangat besar tertidur di attas ranjang yang sama dengan memasukan gadis sepertti dalam pelukannya.


Sosok gadis muda itu tak lain dan tak bukan adalah Gloria yang sedang tertidur tapi terusik karena sinar matahari pagi. Sedangkan Lion yang melihat jika Gloria merasa terganggu dengan sinar matahari itu langsung berdiri menghalau sinar matahari agar tidak mengenai Gloria.


Sedangkan di lantai bawah Juliando beserta Juana dan Fenia duduk tenang di meja makan untuk sarapan. Namun, lagi lagi mereka harus merenggut kesal saat para pelayan tidak mengizinkan mereka makan tanpa Gloria alhasil ketiga orang itu hanya bisa duduk dengan menahan kesal


"Mom sebenarnya kemana anak sialan itu? kenapa jam segini belum juga turun sarapan....? Dia mau bunuh kita apa gimana sih?" Gerutu Fenia yang sudah benar-benar kesal pada Gloria yang sangat sok berkuasa di mension itu.


"Mommy juga tidak tahu anak ittu kemana Fenia. Anak itu benar-benar minta di..."


"Diam...! Kalian selalu mencari perkara. Dan kamu Fenia jaga sikap kamu pada Gloria karna di rumah ini kamu memang hanya menumpang." Ucap Juliando dengan tegas. Namun, menyentil ulu hati Fenia yang kini matanya memerah.


Selama hidup dengan Juliando tak pernah sekalipun pria aruh baya itu berucap seperti itu. Baru hari ini Juliando mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu dan semua ittu karna Gloria.


Jelas Gloria karna semenjak anak itu masuk baru 2 hari dia masuk ke dalam kehidupan mereka. Namun, anak itu telah membawa dampak buruk bagi Fenia dan Juana bahkan mungkin juga Juliando sendiri merasakan hal itu.


Dulu mereka tak perlu di susah-susah, dulu mereka tak perlu di atur sana sini, kini harus di atur-atur oleh pelayan yang dulunya hanya pesuruh mereka.


"Dad, kok ngomongnya kek gitu ke Fenia?" Protes Juana yang tak rela anaknya di pojokan oleh sang suami.


"Lalu aku harus apa? Kalian berdua membuat kepalaku pusing. Kalian lupa jika kita belum mencapai satu persen pun apa yang kita kejar selama ini?" Sentak Juliando dengan suara tertahan takut di dengar oleh orang lain salah satunya adalah pelayang yang selalu berlalu lalang.

__ADS_1


“Kalau begitu kita pergi saja dari mension ini. Dengan kita pergi dari mension ini kitta bisa menyusun rencana dengan bebas tanpa takut akan ketahuan.” Usul Fenia yang mengusulkan untuk pergi dari mension.


Fenia memang ingin memiliki semua apa yang ada di dalam mension itu beserta aset-aset lainnya. Namun, dirinya juga tidak sudi jika harus terus berada di bawah perintah dan selalu tunduk pada Gloria yang jelas-jelas wanita yang dia benci.


Apalagi saat mengetahui jika semua barang-barang branded miliknya semuanya hilang entah kemana. Namun Fenia tahu jika itu ulah dari Gloria tapi Fenia hanya bisa diam pasalnya sang daddy dang sang mommy telah memberi ultimatum kepada Fenia untuk tidak protes kepada Gloria ttakut di usir dari rumah.


Bertambah sudah kebencian Fenia meningkat berkali lipat pada Gloria. Oleh karena ittu, Fenia mengusulkan ide ittu pada sang daddy agar mereka segera keluar dari mension itu.


Toh Fenia yakin jika sang daddy dan sang mommy pasti punya tabungan selama ini.


Juana yang mendengar apa yang di katakan oleh sang putri langsung menyetujui ide itu. Baginya apa yang di katakan oleh Fenia adalah sesuatu yang sangat masuk akal dan itu sangat bagus agar mereka menyusun rencana lebih matang lagi.


“Dad, apa yang di katakan oleh Fenia itu ada benarnya. Lebih baik kita segera pindah dari mension ini dan mencari tempat lain saja.” Kata Juana dengan senyum lebar di bibirnya.


Jika mereka keluar dari mension ini ottomatis mereka akan meninggalkan semua kemewahan itu. Tentunya Juliando ttidak rela akan hal itu. Selain itu, saat ini Juliando belum bisa menganggap kondisi ekonomi mereka stabil jika sampai keluar dari mension itu.


“Kok malah diam sih dad, jawab dong gimana…?” Desak Juana yang menatap kesal ke arah sang suami yang tidak menggubris ucapannya dan ucapan sang putri


“Diamlah Juana…! Jika di tanya aku ingin keluar dari mension ini maka jawabannya adalah iya. Aku ingin sekali keluar dari mension ini tapi kamu lupa jika saat ini kita perlu mengecek semuanya termasuk dengan tabungan yang ada di bank dan juga kartu-kartu kita lainnya. Jika aman baru kita ikirkan bagaimana nanttinya. Inttinya mulai sekarang hemat uang kalian apalagi yang cash.” Ujar Juliando yang meminta Juana dan Fenia untuk berhemat.


Sontak hal itu membuat Fenia langsung berwajah masam dan tak sedap di pandang.

__ADS_1


“Kok berhemat sih Dad..?” Ucap Fenia dengan kesal karna dirinya di suruh untuk berhemat padahal selama ini dirinya tidak pernah berhemat.


“Fenia mendengarlah…! Kita tidak tahu entah sampai kapan kita akan bertahan di mension ini apalagi dengan sifat kalian.” Ucap Juliando yang setengah kesal menatap wanita beda usia di depannya dengan tatapan kesal.


“Emang ada apa dengan sifat kami dad…? Kok daddy malah nyalahin aku dan mommy sih?” Tanya Fenia balik dengan ekspresi kesal.


“Juana lihat…! Karena sikap kamu yang selalu menuruti apa yang dia mau, sekarang lihat….! Dia bahkan tidak bisa mengerti jika otrang tuanya sedang menghadapi masalah.” Kata Juliando yang menatap tajam Juana.


“Dad…..”


“Dengar Juana keadaan sekarang belum tentu aman. Jika aku sampai di usir dari mension ini cuma gara-gara kelakuan putri mu ini. Lihat, apa yang akan aku lakukan pada kalian berdua.” Desis Juliando yang menatap Juana dengan tajam.


Juana yang mendapatkan tatapan tajam dari Juliando langsung meremas tangan Fenia. Juana tidak ingin sampai Juliando marah padanya. Jadi, Juana memilih untuk menenangkan Fenia.


“Fenia diamlah, jangan membuat masalah lagi.” Bisik Juana yang mencubit punggung tangan Fenia membuat wanita muda itu meringis kesakitan.


“Tapi mom….”


“Berhenti protes dan dengarkan apa yang dikatakan oleh daddy kamu.” Potong Juana dengan suara rendah.


Mendengar itu mau tidak mau akhitrnya Fenia pasrah tak bisa melakukan apa-apa lagi.

__ADS_1


“Syukur uang daddy Diki belum aku belanjakan jadi ada baiknya aku segera mencairkannya tetapi sepertinya akan lebih aman aku gunakan cash saja. Kalau lewat kartu takutnya nanti anak sialan itu malah ambil lagi. Kan sayang tuh uang 200 jutta hasil aku ngeh.” Ungkap Fenia dalam hati.


“Sedang menunggu ku ya….”


__ADS_2