Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
CCTV Tersembunyi


__ADS_3

"Menjatuhkan?"


"Benar, pria bajingan itu dan selingkuhannya menjatuhkan Nona Vanessa dari lantai dua."


"Lalu Mommy ku?"


"Ibu anda meninggal di tempat karna kepalanya pecah menghantam batu."


Deg


Gloria berguling-guling di ranjang empuk miliknya yang di tempatinya di mension itu. Perkataan Antony berputar-putar di pikirannya dan terus terdengar di telinganya.


"Sial..!" Umpat Gloria yang turun dari ranjang berjalan menuju balkon kamarnya.


Sampai di balkon kamarnya yang terletak di lantai dua. Di pandangnya bulan di atas sana yang bersinar dengan terang. Ingatan Gloria berputar kembali pada masa-masa kecilnya. Saat di buang dia tidak mengingat apapun selain secuil ingatan Nama dan wajah Ayah beserta ibu dan kakak tirinya.


Gloria dulu ingin pulang tapi mengingat dirinya di buang. Gloria menurunkan niatnya mungkin dia di buang karna tidak di inginkan. Tapi saat mendengar dan mengetahui sebab dan akibat ibunya dan kakeknya meninggal membuat darah Gloria mendidih.


Api dendam di dalam hatinya berkobar-kobar meminta untuk di lampiaskan. Gloria tidak mengerti kenapa Ayahnya tega melakukan hal bejat seperti itu. Membunuh Kakeknya, menyelingkuhi ibunya, membunuh ibunya, bahkan membuangnya hanya karna sebuah harta.

__ADS_1


Kedua tangan Gloria mengepal membentuk sebuah tinju. Matanya menatap Nyalang ke depan sana.


"Aku tidak peduli jika kamu ayahku sekalipun. Namun, mulai saat ini kamu masuk daftar kartu hitam ku Tuan Juliando." Ucap Gloria dengan suara rendah menahan amarah.


"Tunggu aku datang menghancurkan hidupmu berkeping-keping. Siapapun yang terlibat dalam pembunuhan Kakek dan Ibuku harus membayarnya tuntas. Gigi di balas gigi maka nyawa di balas nyawa." Kata Gloria dengan senyum miring di bibirnya.


Setelah menyenangkan pikirannya Gloria langsung kembali masuk ke dalam kamar. Naik di atas kasur dan membaringkan diri menuju alam mimpi.


Di tempat lain Luis dan Luisa baru sampai di mension mereka saat pukul menunjukan pukul 10 malam.


"Kak aku takut." Ucap Luisa dengan pelan menatap takut-takut mension mereka.


"Tenanglah kan ada Kakak, Kakak akan melindungi kamu. Sekarang ayo turun!" Ucap Luis yang menyakinkan sang adik.


"Ternyata benar kata Javier. Mension ini sudah banyak penghianat dan tidak aman lagi tapi aku tidak akan pergi. Mension ini adalah peninggalan dari Daddy dan Mommy aku harus mempertahankannya." Kata Luis dalam hati.


Di tatapnya sang adik yang memancarkan ketakutan di matanya saat melihat mension itu. Luis mendekat menggenggam tangan sang adik menyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


"Percaya sama kakak, selama masih ada kakak tidak ada yang bisa menyentuh apalagi mencelakai kamu." Ucap Luis menyakinkan Luisa.

__ADS_1


"Aku percaya Kak." Ucap Luisa dengan membalas senyuman Luis.


Kedua kakak adik itu segera melangkah masuk ke dalam mension. Tatapan Luis semakin tajam saat masuk ke dalam mension di tambah dia menemukan beberapa kamera tersembunyi di dalam mension itu.


Luis dan Luisa langsung menuju lantai dua menuju kamar Luisa. Sampai di kamar Kuis pun ikut masuk matanya menatap tajam setiap sudut kamar milik sang adik.


Luis menggertakan gigi menahan amarah saat mendapatkan beberapa kamera CCTV tersembunyi di dalam kamar Luisa.


"Kamu tunggu disini oke."


Luis segera mendudukan Luisa di atas kasur lalu berbalik menuju kamar mandi. Sampai di kamar mandi amarah Luis semakin menggebu-gebu saat melihat bahkan di kamar mandi sang adik pun di pasangkan kamera CCTV.


"Sialan! Kalian benar-benar mencari mati." Luis benar-benar geram dengan perbuatan Paman dan sepupunya itu yang benar-benar di luar batas nalar manusia.


Bagaimana bisa mereka memasang kamera tersembunyi di dalam kamar mandi adiknya yang jelas-jelas di gunakan untuk mandi.


Dengan amarah yang menggebu-gebu Luis segera melepaskan bahkan menghancurkan CCTV tersembunyi tersebut. Sesudah di kamar mandi Luis segera keluar dan mulai membersihkan kamar sang adik dari Kamera CCTV di dalam kamar itu. Hingga beberapa menit kemudian kamar itu berantakan seperti kapal pecah akibat ulah dari Luis.


"Sekarang kamu tidur! Jika ada yang masuk segera klik tombol di atas kepalamu." Kata Luis berusaha lembut menunjuk sebuah tombol yang berada di kepala ranjang.

__ADS_1


"Baik Kak."


Setelah memastikan jika Luisa sudah tertidur Luis segera keluar dari kamar sang adik. Tak lupa menguncinya dari luar agar tak ada yang bisa masuk.


__ADS_2