Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Luapan emosi


__ADS_3

"Sejak kapan kursi utama Leticia menjadi miliknya? Dia memang suami Mommy ku tapi saat ini statusnya hanyalah suami Mommy kamu. Dan lagi…. Rumah ini adalah milik Mommy ku yang artinya milikku. Jadi, wajar dong kalau aku duduk di kursi utama?" Ucap Gloria dengan senyum kemenangan.


Deg


Ketiga orang yang mendengar perkataan tanam Gloria langsung tertegun. Juliando dan Juana diam dengan menahan amarah dalam diri.


Juliando yang merasa harga dirinya di injak-injak oleh Gloria dan juga dirinya tidak di anggap oleh anak itu membuat Juliando ingin menampar mulut pedas dari Gloria. Sedangkan Juana wanita paruh baya itu diam dengan amarah dan kebencian yang semakin memuncak kepada Gloria. Bagi Juana kedatangan Gloria benar-benar batu penghalang sekaligus penghancur dirinya untuk mendapatkan semuanya.


Jika Juana dan Juliando diam maka tidak dengan Fenia yang kini berdiri dari kursinya menatap tajam Gloria. Fenia tidak tahu menahu soal harta yang di miliki pria yang di panggilnya Daddy itu ternyata adalah harta dari istri pertamanya.


"Apa-apaan kamu itu..? Kamu memang anak kandung Daddy tapi bukan berarti kamu harus menguasai semua yang ada di dalam mension ini. Daddy sudah berjanji akan memberikan aku semua ini jika pun kamu ada maka kita harus bagi dua..?" Teriak Fenia murka.


HAHAHAHAHAHA


Gloria yang mendengar ucapan Fenia langsung tertawa terbahak-bahak hingga matanya memerah karna terlalu lama tertawa.


"Berhenti tertawa anak sialan…!" Bentak Fenia yang sangat marah karna di tertawakan oleh Gloria.


"Tampar dia…!" Perintah Gloria dengan suara datar pada salah satu pelayan yang ada di dekat Fenia.


"A….. apa ka…kamu, hei apa yang mau kamu lakukan aku nona muda kalian bukan gadis sialan itu..!" Teriak Fenia panik.


"Tampar 2 kali cepat…! Jika tidak jangan salahkan Lion ku yang mencincang tubuhmu." Teriak Gloria yang juga sepertinya sedang emosi.

__ADS_1


Plak


Plak


"FENIA…!"


Suara tamparan yang cukup keras terdengar jelas di ruangan makan itu. Tak lupa bekas tamparan itu mencap di pipi kiri dan kanan Fenia membuat mata Fenia memerah karna amarah. Bagaimana bisa orang yang berstatus sebagai pelayan berani menamparnya.


"Beraninya kau…."


GOARRRR


AAAAAA


Fenia yang tadinya melayangkan tangannya untuk menampar pelayan yang menamparnya langsung menurunkan tangannya. Fenia berteriak histeris saat melihat seekor singa yang menatapnya tajam. Sedari awal wanita muda itu tidak menyadari jika ada sosok yang menakutkan itu di dalam ruangan itu.


"Pria itu," menunjuk Juliando yang terdiam. "Menjanjikan akan memberikan kamu semua di mension ini dan perusahaan begitu?" Ucap Gloria dengan nada sinis.


"Y….ya Daddy sudah berjanji akan hal itu. Jadi, mau tidak mau kamu harus berbagi denganku." Ucap Fenia dengan percaya diri walau saat ini kakinya bergetar ketakutan melihat singa yang berada di samping Gloria.


"Ck…ck…ck… sejak kapan pria itu kaya? Semua yang ada di mension ini beserta aset-aset lainnya itu milik mendiang Vanessa istri pertama dari pria itu yang tak lain adalah mammy kandungku. Sedangkan pria yang kau panggil Daddy itu, Cih apa yang dia punya? Dia itu hanya benalu yang hidup terus menggerogoti harta istrinya. Bahkan istrinya sudah sebaik itu tapi masih saja berselingkuh dengan wanita yang tidak ada apa-apanya di banding Mammy-ku." Sarkas Gloria yang tersenyum sinis ke arah Juliando yang menundukan kepala.


"A….apa?"

__ADS_1


"Bukankah sudah aku katakan jika pria yang kau panggil daddy itu tidak memiliki apa-apa sama seperti wanita di sampingmu itu. Tapi memang serasi sih sama-sama benalu!"


"GLORIA…!" Bentak Juliando yang benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan sikap semena-mena Gloria terhadap mereka semua.


"Apa kamu benar-benar tidak di ajarkan sopan santun…."


"ANDA LUPA JIKA ANDA SENDIRI YANG MEMBUANG SAYA…? LALU BAGAIMANA SAYA BISA DI AJARKAN SOPAN SANTUN JIKA YANG MERAWAT SAYA ADALAH SEEKOR HEWAN SEPERTINYA..?" Teriak Gloria yang berdiri dari duduknya yang langsung menunjuk Lion di sampingnya.


Matanya menatap Nyalang Juliando yang ikut juga terdiam kaku. Matanya memerah dengan tangan yang mengepal erat menandakan jika saat ini Gloria tidak baik-baik saja. Walaupun ada kakeknya yang merawatnya tapi selama 10 tahun hari-hari mereka habiskan untuk berburu di dalam hutan guna untuk mencari bahan dagangan agar mereka bisa bertahan hidup esok harinya.


Selama 10 tahun Gloria hanya tahu berburu dan bermain bersama para hewan di hutan itu. Bahkan untuk menulis dan membaca kakeknya hanya bisa membawakannya buku-buku usang yang seharusnya di buang tapi kakeknya membawanya pulang untuk Gloria belajar mengenal huruf dan belajar. Bersyukur karna Gloria memiliki otak yang terbilang genius dimana setiap buku yang di berikan kakeknya dengan cepat Gloria bisa hafal hingga dia bisa membaca dan menulis.


Saat anak seumurannya bersekolah dan bermain bersama teman lainnya maka berbeda dengan dirinya yang hanya bisa bermain bersama hewan-hewan di hutan. Saat anak seusianya menginjak raja dan mendapat teman baru maka Gloria hanya bisa berlatih bertarung. Siapa yang mengajarkannya tata Krama dan juga sopan santun Jika kesehariannya hanya bisa berburu dan berburu.


"Sekejam-kejamnya seekor harimau ia tetap tidak akan memakan atau pun membuang darah dagingnya sendiri. Tetapi anda…? Anda yang notabenenya adalah seorang manusia yang memiliki akal dan hati nurani bahkan tega menelantarkan anak, putri kandung anda sendiri demi kebahagiaan bersama keluarga baru anda." Desis Gloria yang menatap penuh kebencian terhadap pria paruh baya di depannya.


Rasa rindu yang dulu ia tahan kini menyeluap entah kemana, tergantikan dengan kebencian dan api dendam yang meluap-luap. Dirinya mungkin bisa terima jika dirinya di buang dan di telantarakan tetapi saat mengetahui alasan semua yang terjadi padanya beserta Mommy dan Kakeknya. Gloria membuang rasa kasih terhadap seorang anak kepada ayahnya.


Seorang Ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan tapi bagi Gloria pria di depannya adalah orang yang telah menorehkan luka yang begitu sakit dan perih walau tidak berdarah. Pria yang seharusnya ia panggil ayah, pria yang seharusnya melindunginya, pria yang seharusnya menjadi pahlawannya, justru menyamar sebaliknya.


Pria itu…..


Pria itu yang menumbuhkan kebencian dalam dirinya, pria itu adalah pria yang telah menyalakan api dendam dalam hatinya. Lantas pantaskan sekarang pria itu mempertanyakan dimana rasa hormatnya sebagai anak kepada ayahnya.

__ADS_1


"Anda ingin saya menghormati dan menghargai Anda? Bercerminlah, apa anda pantas akan menerima rasa hormat dari saya? Apa anda pantas di sebut sebagai seorang ayah, setelah apa yang telah anda lakukan pada saya? Apakah anda pantas di katakan sebagai suami setelah membunuh istri anda demi selingkuhan anda?"


Deg


__ADS_2