Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Tanda bahaya


__ADS_3

Ceklek


"JAVIER..!"


Luis membulatkan kedua matanya saat masuk dalam ruangannya. Hal pertama yang di lihatnya salah gadis kesayangannya tengah di peluk mesra oleh seorang pria yang merupakan asisten pribadinya. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Javier.


"LUIS....!"


Grep


"Akhirnya kakak pulang Luisa kangen kakak hiks" tangis Luisa pecah saat memeluk Luis yang merupakan kakak laki-lakinya.


"Ssst sudah jangan menangis lagi Princess. Bukankah aku sudah ada disini?" Ucap Kuis dengan lembut mengecup kepala sang adik.


Setelah saling berpelukan selama beberapa menit akhirnya Luisa dan Luis memutuskan untuk duduk di sofa dalam ruangan itu.


Luis menatap tajam Javier yang sedang menatap sang adik. Javier yang mendapat tatapan tajam dari Bos sekaligus Kakak laki-laki wanita yang di cintainya hanya bisa menggaruk tengkuknya.


"Jelaskan semua ini? Berani sekali kamu memeluk gadis kecil kesayanganku!" Kata Luis yang penuh penekanan.


"Itu.....itu aku lakukan untuk menghiburnya Tuan" balas Javier yang cengengesan sendiri.

__ADS_1


"Cih bilang saja kalau kamu modus iya'kan?" Tuding Luis.


"Tidak berani Tuan" elak Javier.


Padahal jauh dalam lubuk hatinya Javier membenarkan apa yang di katakan oleh Luis. Dirinya memang menyenangkan Luisa tapi terlepas dari itu semua ada rasa lain dia melakukan itu.


"Kak jangan memarahinya. Aku memang sering menangis jadi dia selalu menghiburku bahkan aku pernah tidur di pelukannya" ucap Luisa polos.


"APA.....? TIDUR DI PELUKANNYA" Teriak Luis yang kaget menoleh cepat ke arah sang adik.


"Iya" jawab Luisa yang dengan santai menganggukan kepalanya.


Glek


Sedangkan Luis sudah menatap Javier seperti elang yang siap menerkam sang ular.


"Aku lupa, sedewasa apapun dia. Dia tetap akan menjadi gadis kecil di mata Luis dan akan selalu begitu" kata Javier dalam hati yang Merutuki kebodohannya.


"Harusnya dari kemarin-kemarin aku memberi peringatan padanya agar tidak membicarakan semuanya. Aku akan benar-benar mati kalau dia bercerita aku pernah mencium dan tidur di ranjang bersama" kata Javier dalam hati yang sudah was-was dan cemas.


"Aku sama Kak Javier tidur satu ranjang. Kak Javier juga memelukku bahkan mencium ku juga" kata Luisa yang seakan mengadu kepada Ayahnya tentang perbuatan Javier.

__ADS_1


Uhuukkk uhukk


Javier langsung tersedak ludah sendiri karna pengaduan Luisa yang benar-benar membuka kartunya.


"Apalagi yang di lakukannya Princess?" Luis bertanya dengan nada lembut sambil memainkan anak rambut sang adik tapi Javier yang mendengar itu justru semakin merasakan tanda bahaya.


"Dia mencium aku disini, ini, ini, ini, ini," kata Luisa yang menunjuk kening, mata, hidung, pipi berakhir di bibirnya.


"Ah disini juga Kak Javier pernah bikin tanda merah di leher aku. Katanya aku hanya miliknya" lanjut Luisa yang menunjuk lehernya.


Luis yang mendengar penuturan dari sang adik hanya tersenyum tipis lebih tepatnya itu seringaian dingin membuat bulu kuduk Javier merinding di buatnya.


"Princess kamu ke kamar sana istrahat" kata Luis yang menyuruh Luisa untuk masuk dalam ruang rahasianya.


"Tapi kak....."


"Kakak ingin bicara sebentar sama Kak Javier mu ini. Sekarang pergilah" kata Luis yang penuh penekanan pada kata Kak Javier.


"Baiklah," pasrah Luisa


Glek

__ADS_1


Kali ini Javier tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya duduk diam kaku. Untuk menelan ludah saja rasanya susah aura yang di keluarkan orang di depannya itu terasa berbeda dengan sebelumnya.


"Beraninya kamu menodai adikku? Apa kamu bosan hidup sekarang?"


__ADS_2