Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Sandra


__ADS_3

Di sebuah bandara terlihat seorang wanita cantik keluar dari pesawat pribadi. Rambut panjangnya terurai indah membuat sosok wanita itu semakin mempesona bagi setiap mata yang menatap ke arahnya. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Gloria yang baru saja mendarat di negara Amerika utara lebih tepatnya meksiko.


Banyak pasang mata yang memperhatikan gadis cantik itu namun, sayang Gloria hanya bersikap acuh memasang ekspresi datar dan tatapan dingin pada setiap orang yang mendekatinya.


"Ketua..."


"Cari tempat aman, sekarang juga!" Perintah Gloria kepada Toni yang sudah lebih dulu berada di kota itu.


"Jika begitu silahkan kita ke apartemen saya dulu, kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari sini." Ungkap Toni.


Gloria tanpa banyak bicara langsung berjalan di ikuti oleh Gading di belakangnya. Sedangkan Toni pria itu langsung menuntun sang ketuanya untuk menuju mobilnya. Sampai disana Toni langsung membukakan pintu mobil untuk Gloria. Ternyata mereka di jemput dua mobil karena yang datang bukan hanya Gloria dan gading tapi ada beberapa anggota lainnya yang mengikuti mereka.


Gloria dan Gading masuk dalam mobil Toni sedangkan anak buah Gloria yang 3 orang langsung masuk di mobil yang ada di belakang mobil yang di naiki oleh Gloria dan Gading.


Toni dengan cepat meleset pergi meninggalkan bandara menuju apartemennya untuk membahas sesuatu hal yang cukup darurat. Satu hal yang dapat Gading dan Toni tangkap sepertinya pria yang bernama Luis itu cukup berarti untuk sang Nona muda mereka. Karena jika tidak penting akan sangat tidak mungkin Sang ketua mau turun tangan seperti ini.


Setelah mengemudi beberapa menit akhirnya Toni dan yang lain sampai di apartemen Toni. Tanpa basa basi lagi mereka semua masuk ke dalam apartemen pria itu. Gloria mulai menerangkan rencana mereka dengan matang agar nanti tidak ada korban dari pihaknya maupun Luis dan Luisa nanti.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain Luis hanya bisa mengeraskan rahangnya melihat kondisi sang adik yang sangat membuat darahnya mendidih. Bagaimana tidak adiknya itu kini di ikat di sebuah kursi dengan keadaan yang belum sadarkan diri. Walaupun begitu Luis cukup bersyukur karena adiknya tidak sampai mengalami kekerasan. Adiknya terlihat baik-baik saja tak ada luka atau memar di sekitar tubuhnya.


"Apa yang kamu inginkan?" Luis bertanya dengan suara datar dan tatapan tajam lurus ke arah pria paruh baya di depannya dengan pria yang seumurannya yang berada di samping pria paruh baya itu.


"Kamu bertanya apa yang kami inginkan? Bukankah sudah jelas kami menginginkan semua aset dari Alejandro tapi tidak pernah kamu berikan." Balas Fabian dengn senyum sinis di bibirnya.


Fabian kali ini rencananya pasti sangat mulus dan berjalan sesuai dengan rencananya yang telah ia susun dengan rapi. Lagi pula orang yang membantunya adalah bukan orang sembarangan. Jadi, tidak mungkin Luis menemukan sekutu untuk membantunya.


"Bukankah kakek sudah membagi paman dan ayahku dengan adil? Kenapa menuntut yang lebih lagi?" Ucap Luis datar yang menatap tajam Fabian.


"Apanya yang membagi? Pria tua itu hanya memberiku sedikit warisan saja. Sedangkan ayahmu, pria tua itu bahkan memberi lebih banyak ayahmu dibanding dengan diriku padahal aku juga ini anak kandungnya." Ucap Fabian dengan amarah yang menggebu-gebu karena merasa diperlakukan tidak adil oleh ayah mereka dulu.


Luis benar-benar muak dengan kedua pria di depannya itu yang sangat serakah. Bahkan, keduanya melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan termaksud dengan membunuhnya. Bukan sekali atau dua kali orang di depannya itu berusaha untuk membunuhnya namun selalu gagal.


Almarhum kakek mereka yaitu ayah dari pamannya dan ayahnya telah memberikan dan membagi harta bendanya dengan sama rata antara ayahnya dan pamannya. Akan tetapi, karena hobi pamannya yang semasa muda hanya tahu berfoya-foya menghabiskan uang dan bermalam dengan wanita-wanita lain membuat pamannya itu tidak bisa sukses seperti ayahnya.


Namun Louis tidak menduga jika pamannya itu akan menjadi tamak dan serakah. Sehingga berbalik menyerang ayahnya dan berusaha merebut apa yang menjadi milik ayahnya. Bahkan, ayahnya sudah tiada pun pamannya itu justru semakin merajalela dan berambisi untuk menguasai perusahaan itu.

__ADS_1


Sedangkan Fabian yang mendengar apa yang di katakan oleh Luis barusan membuatnya kesal karena lagi lagi dirinya di bandingkan dengan saudaranya yang sudah berada di bawah tanah.


"DIAM! JANGAN PERNAH KAMU SEBUT LAGI ORANG YANG SUDAH ADA DI DALAM TANAH ITU...!" Bentak Fabian yang menatap tajam Luis.


"Apa perlu aku melubangi kepala adik kesayangan kamu ini?" Ancam Fabian yang menunjuk Luisa yang tidak sadarkan diri.


"Turunkan senjata mu dari adikku sialan!" Teriak Luis yang bergerak untuk berdiri.


"Diam disana! Atau aku benar-benar akan melubangi kepala adik kamu ini." Teriak Fabian.


Luis yang mendengar ancaman dari Fabian hanya bisa kembali mendudukkan diri di kursi yang berjarak 5 meter dari Luisa sang adik.


"Bangunkan dia..!" Perintah Fabian pada anak buahnya.


"Baik Bos." Jawab sang anak buah yang langsung mengambil ember.


"Hey...."

__ADS_1


Byurrrr


__ADS_2