
Drettt
Gloria yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melirik ponselnya yang bergetar di atas nakas. Dengan langkah ringan Gloria berjalan mengambil ponselnya.
"Bagaimana?" Ucap Gloria langsung tanpa basa basi.
"Bagus, pastikan jangan sampai ketahuan."
Tut
Gloria mematikan sambungan ponselnya setelah mengatakan dua kalimat. Gloria meletakan ponselnya di atas nakas lalu menuju walk on close mencari pakaian yang di gunakannya. Setelah beberapa menit terlihat Gloria yang sudah rapi dan menuju pintu.
Ceklek
Grrrr
Baru saja membuka pintu Gloria langsung di sambut seekor singa yang memiliki bulu lebat. Siapa lagi jika bukan si Lion, hewan itu sedari tadi menunggu Gloria di depan pintu sang Tuan.
"Eh kamu disini..?" Gloria mengelus lembut bulu-bulu Lion halus.
"Kamu laparnya….? Ya sudah ayo kita turun." Ucap Gloria yang mengajak Lion untuk turun di lantai bawah untuk makan malam.
Sedangkan di lantai bawah Juana dan Juliando duduk dengan gelisah. Bagaimana tidak di saat perut mereka sudah keroncongan tapi mereka tidak bisa makan karna 0ara pelayan di rumah itu tidak ada lagi yang mau menuruti perintah mereka. Tak hanya itu bahkan mereka di larang untuk menyentuh semua hidangan di atas meja jika Gloria belum duduk di meja makan.
__ADS_1
"Lho dad mom… kok belum makan?" Tiba-tiba suara Fenia terdengar dari arah belakang hingga pasangan paruh baya itu menoleh ke arah asal suara.
"Darimana saja kamu Fenia? Jam segini baru pulang? Kamu bahkan tidak menunggu dan mengantar Daddy pulang tadi siang." Ucap Juliando datar membuat Fenia tertegun.
Selama ini Juliando tidak pernah berucap kasar ataupun dingin kepadanya. Selama ini pria paruh baya itu hanya akan berbicara padanya dengan lembut tidak seperti malam ini. Juana yang mendengar pertanyaan sang suami yang terdengar tidak suka pada Fenia langsung mengepalkan tangan.
"Dad kok ngomongnya gitu..? Fenia kan pasti sibuk pemotretan." Bela Juana kepada sang putri.
Namun sepertinya kali ini ucapan Juana tidak berdampak pada Juliando. Terbukti dengan tatapan Juliandi yang semakin menajam seperti ingin menelan Fenia hidup-hidup.
"Jawab Fenia…! Apa mulutmu sudah tidak bisa berbicara sehingga kamu hanya diam seperti patung…?" Kata Juliando dengan suara yang sedikit tinggi membuat Juana dan Fenia tertegun di buatnya.
"Aku sibuk pemotretan dad…"
"Jangan berbohong…! Apa kamu pikir Daddy bodoh hingga bisa kamu bodohi..?" Sarkas Juliando yang menatap sinis Fenia.
Fenia tidak tahu harus menjawab seperti apa apalagi melihat tatapan tajam yang belum pernah Fenia lihat dari tatapan sang ayah. Fenia yakin pasti Juliando sudah mengetahui sesuatu tapi dia belum bisa untuk jujur apalagi Fenia yakin jika nanti karirnya akan kembali ke puncaknya lagi berkat bantuan sugar Daddynya yang bernama Diki itu.
"Kamu apa-apaan sih Dad…? Harusnya anaknya habis kerja di luar tuh yah puji-puji minimal di tanya ke capek atau tidak." Omel Juana yang ikut menatap kesal ke arah sang suami.
"Capek apa..? Asal kamu tahu semua job Fenia di cancel karna tersebarnya kejadian tadi malam." Sentak Juliando yang menatap sinis Fenia.
"KOK BISA…? BUKANNYA DADDY SUDAH MENUTUP MULUT ORANG-ORANG DALAM PESTA..!" Teriak Juana yang membuat pelayan tak jauh dari mereka langsung menatap ke arah mereka semua.
__ADS_1
"DIAM…! Apa kamu tidak malu di lihat oleh mereka semua?" Bentak Juliando dengan suara tertahan menunjuk beberapa pelayan yang berada tak jauh dari mereka semua.
Juana yang di bentak oleh Juliando hanya bisa menunduk mengepalkan tangan menahan kecewa dan kemarahan secara bersamaan. Selama menikah tak pernah sekalipun Juliando membentaknya apalagi di depan para pelayan. Namun, malam ini suaminya itu telah berani membentaknya hanya kesalahan yang hanya sekedar bertanya itu.
Fenia yang melihat sang ibu menunduk dan meremas tangannya segera berjalan mendekati Juana. Fenia langsung duduk di kursi samping Juana mengelus tangan sang Mommy untuk meredakan amarah wanita paruh baya itu.
Sedangkan di sisi lain tak jauh dari mereka terlihat seorang wanita muda yang menyunggingkan senyum sinis melihat drama keluarga bahagian di depannya.
"Kehidupan yang kalian banggakan dulu, kehidupan keluarga harmonis, mulai saat ini perlahan namun pasti semuanya akan lenyap berganti dengan derita yang akan segera menyonggoroti kalian bertiga." Kata Gloria dalam hati dengan senyum sinis menatap mereka bertiga dengan penuh kebencian.
Dengan memasang wajah datar Gloria langsung berjalan menuju meja maka tak lupa dengan Lion yang selalu mengikuti kemana pun Gloria pergi.
Srekkk
Gloria menarik kursi utama lalu langsung duduk di kursi itu membuat ketiga orang yang sedari tadi diam dan menunduk kini mendongak hingga mata mereka melebar melihat Gloria duduk di kursi utama.
"Apa yang kamu lakukan sialan..! Pindah dari sana, itu tempat duduk Dad…."
Wushhh
Fenia menegang di tempat saat merasakan sesuatu lewat di samping telinganya. Matanya melotot melihat Gloria yang kini menatapnya datar seperti siap untuk mencincang tubuhnya kecil-kecil.
"Diam atau garpu ini akan melayang dan menutup mulut busukmu itu..!" Ucap Gloria yang penuh penekanan pada setiap katanya.
__ADS_1
"Sejak kapan kursi utama Leticia menjadi miliknya? Dia memang suami Mommy ku tapi saat ini statusnya hanyalah suami Mommy kamu. Dan lagi…. Rumah ini adalah milik Mommy ku yang artinya milikku. Jadi, wajar dong kalau aku duduk di kursi utama?" Ucap Gloria dengan senyum kemenangan.
Deg