Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Iri


__ADS_3

“Ada apa? Bukankah memang benar anda bodoh Tuan Juliando yang terhormat? ****** kok teriak ******? Lagipula kata siapa jika aku akan memasukkannya ke dalam kamarku? Anda benar-benar bodoh atau tidak punya otak sama sekali? Anda lupa jika di lantai 2 tidak hanya kamarku tapi ada ruangan lain? Jadi orang jangan terlalu bodoh.” Ucap Gloria pedas yang menatap remeh Juliando.


Setelah mengeluarkan ucapan pedas yang begitu beracun Gloria langsung berbalik melanjutkan kembali langkah kakinya menaiki lantai 2 dengan Gading yang mengekorinya.


PLAK


Suara tamparan nyaring terdengar di ruang tamu itu. Fenia mengerjap beberapa kali saat rasa sakit dan perih ittu menjalar ke seluruh wajahnya.


Yups…. Entah bagaimana hingga Juliando menampar Fenia yang berada di sampinyanya.


“Daddy kenapa menamparku?” Fenia bertanya dengan bingun.


“Masih bertanya kenapa daddy menampar kamu? Apa kamu tidak sadar juga jika karna ulah murahan kamu itu anak itu menghina daddy.” Sentak Juliando yang menatap tajam Fenia.


“Julian kamu kenapa sampai membentak Fenia seperti itu? Kamu juga bahkan sampai menamparnya apa kamu…”


“Diam…! Semua ini juga salh mu yang selalu memanjalakannya sekarang lihat gara-gara kelakuan murahannya itu. Aku sampai di hina oleh Gloria.” Sentak Juliando yang menatap penuh permusuhan.


“Murahan apa maksud kamu Julian…?” Tanya Juana dengan emosi yang berada di ubun-ubun karna sang suami mengatai sang putri murahan.


“Apalagi coba kamu perhatikan tanda merah apa yang ada di leher, dada, dan juga bahu putri tercinta mu itu.” Sarkas Juliando yang membuang muka ke arah lain.


Sedangkan Juana yang mendengar apa yang di katakan oleh sang suami langsung berbalik menatap Fenia. Wanita paruh baya itu mendekat memperhatikan dengan teliti leher dan dada Fenia.


Sedangkan Fenia wanita itu langsung gelagapan sendiri saat sang mammy menatapnya intens seperti itu. Mata Juana membulat saat mendapati banyak tanda merah yang berada di leher sang putri.

__ADS_1


“Fenia kamu…..”


“Sudah lihat buka..? Karna ulah murahannya itu membuat ku di hina habis-habisan oleh Gloria. Apa yang akan aku banggakan darinya jika hanya menjaga diri saja dia tidak bisa. Entah pria mana yang meniduri putrimu itu.” Sarkas Juliando yang menatap sinis Fenia.


Dulu dia begitu menyayangi wanita muda itu, bahkan apapun yang di inginkannya akan Juliando berikan tanpa harus menolak atau berpikir dulu. Namun, saat Gloria muncul dalam kehidupan mereka membawa semuanya yang terasa menonjol membuat Juliando sadar apa yang harus ia banggakan kepada Fenia. Juliando tentu tahu jika Fenia tidak mempunyai keahlian apapun itu.


Wanita seperti Fenia tahunya hanya bisa berdandan dan berfoya-foya tanpa memikirkan yang lain. Juliando lupa jika apa yang terjadi pada Fenia merupakan salahnya juga yang selalu memanjakan Fenia dengan segala kemewahan hingga wanita itu tumbuh menjadi wanita penuh ambisi dan sombong.


“Mom ini hanya kesalahan tadi malam aku di ajak teman-temanku untuk menemui salah satu produser yang sedang mencari pemeran utama film yang akan di publishnya. Aku ikut kesana dan tak sengaja meminum minuman beralkohol hingga aku terbangun aku sudah seperti ini.” Terang Fenia yang terdengar sungguh-sungguh tak lupa wanita itu memasang ekspresi serius.


“Astaga kamu di jebak sayang…..” Pekik Juana sedangkan Juliando pria itu hanya diam.


Jika dulu, Juliando akan langsung percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh Fenia tanpa berpikir ulang. Namun, sekarang entah kenapa Juliando merasa berat untuk percaya apa yang dikatakan oleh Fenia barusan. Juliando merasa apa yang di katakan oleh Fenia hanya omong kosong yang tidak masuk akal.


Sebelumnya Juliando tak pernah memperlakukannya seperti ini. Tapi kehadiran Gloria yang bahkan masih beberapa hari tapi sudah membuat perubahan besar bagi Juliando. Sangnya perubahan itu bukan perubahan yang baik dan menguntungkan bagi Juana dan Fenia.


Sedangkan di ruang kerja Gloria terlihat Gading yang mengeluarkan beberapa map dan juga beberapa kartu dari tas kerjanya dan menyerahkannya pada Gloria.


“Semua sesuai dengan apa yang anda inginkan.” Kata Gading dengan tegas dan yakin.


Gloria hanya diam mengambil satu persatu map yang di sedorkan oleh Gading. Sudut bibir Gloria tertarik membentuk seringaian licik melihat dan membaca beberapa berkas itu.


“Harus ku akui mereka cukup pintar dan cerdik tapi sayangnya orang yang menghadapi mereka adalah aku. Jadi, semua ini akan sia-sia. Mereka menggut semuanya dari Kakek, mommy dan aku bukan.? akan aku renggut balik semua apa yang mereka punya hingga mereka akan hidup di bawah perintahku.” Desis Gloria penuh akan tatapan benci dan dendam secara bersamaan.


“Nona muda tenag saja aku akan selalu berada di pihak nona muda. Jika suatu saat nanti nyawa ini nona perlukan akan dengan senang hati saya berikan setidaknya itu akan membantu nona muda.” Ungkap Gading dalam hati yang berjanji dalam hati akan terus mengikuti dan setia kepada Gloria sampai nyawa lepas dari badannya.

__ADS_1


“Kamu tunggu saja aku di lantai bawah karna hari ini juga aku akan ke perusahaan.” Ucap Gloria dengan tegas.


“Baik Nona.” Gading segera menundukkan kepalanya sedikit lalu berbalik keluar dari ruangan Gloria.


Sedangkan Gloria langsung masuk ke dalam kamar mandi menekan sebuah tombol yang ada di belakang pintu kamar mandi itu. Hingga beberapa detik kemudian dinding kamar mandi terbuka terlihatlah sebuah lorong.


Tanpa ada keraguan sedikitpun Gloria langsung masuk ke dalam lorong itu hingga setelah berjalan hampir 2 menit akhirnya sampai di sebuah walk in close.


Ternyata lorong yang di masuki oleh Gloria tadi adalah lorong rahasia yang menghubungkan kamarnya dan ruang kerja milik ibunya dulu.


Kenapa Gloria tahu? Karena itu semua berkat dari Antony yang memberi tahunya dan juga memberikan gambar bangunan mension itu.


Gloria langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karna hari ini dia akan ke perusahaan Leticia Company. Beberapa saat kemudian Gloria keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Tanpa berlama-lama Gloria langsung menuju meja riasnya untuk membenahi dirinya. Setelah merasa pas Gloria langsung berjalan keluar dari kamarnya dengan sebuah tas hitam di tangannya.


Tak


Tak


Tak


“Ayo kita berangkat…!”


Gading yang sedari tadi duduk menunggu Gloria langsung bangun saat mendengar suara sang bos. Gloria berjalan dengan anggung dan Gading yang senantiasa berjalan di belakangnya.


Tanpa keduanya ketahui tak jauh dari mereka berdiri Fenia yang menatap Gloria penuh iri, benci, juga dendam semuanya bercampur aduk. Fenia iri kenapa Gloria bisa memiliki semuanya tanpa harus usaha keras.

__ADS_1


__ADS_2