
"Maaf Nyonya saldo kartu anda tidak mencukupi." Kata pelayan yang mengkagetkan mereka semua.
"APAA? BAGAIMANA BISA? COBA GESEK LAGI..!" Kata Juana yang setengah panik karna tidak mungkin kartunya itu kosong.
Pelayan itu tidak berani membantah ucapan Juana sehingga pelayan itu menuruti apa yang di katakan oleh Juana. Pelayan itu kembali menggesek kartu itu namun hasilnya tetap sama membuat pelayan itu kembali menggelengkan kepala ke arah Juana.
"Maaf Nyonya hasilnya memang seperti tadi, mungkin saldo anda tidak mencukupi karna belanjaan nyonya harga ratusan juta." Terang pelayan itu kepada Juana.
Juana yang mendengar itu mencoba untuk menenangkan diri. Lagipula mungkin memang benar jika saldonya tidak mencukupi karna bulan ini kartu itu belum Juliando isi. Jadi, mungkin uang di dalamnya tidak mencukupi.
"Ah mungkin saja, soalnya kartu itu belum suamiku isi." Ucap Juana kepada teman-teman sosialitanya.
"Gitu yah jeng." Ucap mereka semua sambil memberi senyum keada Juana.
"Jadi gimana, jadi beli nggak jeng? Sayang loh itu cantik banget."
"Iya benar, cantik dan mewah tapi sayang suamiku kan bukan pengusaha sukses seperti suami jeng Juana."
"Kamu benar, aku juga pengen banget tuh perhiasan tapi mau gimana lagi perusahaan suamiku hanya perusahaan kecil."
"Saya juga sama, andaikan perusahaan milik suami saya perusahaan besar beh saya beli tuh perhiasan."
Juana yang mendengarkan bisikan para teman-temannya langsung bersemangat untuk membeli perhiasan itu.
"Aku harus bisa membeli perhiasan-perhiasan ini dengan begitu merah semua akan iri denganku yang bisa membeli perhiasan secantik dan semahal ini." Kata Juana dalam hati yang bertekad untuk membeli perhiasan itu agar teman-teman arisannya pada iri. Selain itu, dirinya pasti akan di puji-puji.
"Yah jadi dong jeng, ini itu cantik semua masa di anggurin." Kata Juana dengan nada angkuh.
Ibu-ibu itu hanya saling pandang satu sama lain sebelum membalas hanya dengan tersenyum. Padahal dalam hati mereka terus mencela dan menatap sinis Juana. Mereka semua sengaja berbisik dengan sedikit keras agar Juana mendengar apa yang mereka katakan. Mereka ingin melihat apa Juana masih nyonya kaya seperti sebelumnya atau hanya menjual sombong saja.
Sedangkan Juana wanita paruh baya itu semakin bersemangat untuk menunjukan jika dirinyalah yang paling unggul di bandingkan yang lainnya. Dengan gerakan anggun Juana membuka tasnya lalu mengambil dan menyodorkan sebuah kartu lain ke arah Pelayan.
Pelayan itu dengan cepat langsung mengambil kartu itu lalu menggeseknya. Namun seperti sebelumnya kartu itu juga tidak bisa.
__ADS_1
"Maaf nyonya kartu ini juga tidak bisa." Kata Pelayan itu dengan suara rendah.
"A...APA" Juana membulatkan mata menatap tajam pelayan di depannya itu.
"Saya tidak berbohong Nyonya, kartu ini memang tidak bisa." Ucap pelayan itu lagi.
Mendengar itu Juana langsung panik seketika, bagaimana bisa kartu itu tidak bisa sedangkan kartu itu tidak pernah di gunakan sebelumnya. Bahkan semua penghasilan restoran yang dia kelola masuk semua di kartu itu.
"Aduh jeng, makanya kalau nggak punya uang jangan sombong."
"Mau beli perhiasan kok saldo kosong, kalau mau becanda jangan disini dong Jeng."
"Tahu tuh. Sok banget yah padahal nggak punya uang saja belagu."
"Pelakor kok sombong..!"
"Cih selain pelakor dia juga bahkan melahirkan seorang anak haram."
"Loh aku tidak tahu soal ini."
Juana yang tak tahan menanggung malu langsung berlari pergi dari tokoh perhiasan itu. Juana rasanya ingin mati saja saat ini, bagaimana tidak? Juana bisa di permalukan seperti ini.
Sampai di parkiran mobil Juana langsung masuk ke dalam mobilnya melajukan mobilnya pergi meninggalkan area mall.
Sedangkan di tempat lain Gloria Baru saja sampai di perusahaan almarhum milik mommy-nya. Gloria turun dari mobil menatap bangunan bertingkat di depannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sudut bibir Gloria tertarik ke atas membentuk sebuah seringaian licik saat tidak sengaja matanya menemukan mobil yang sangat dia kenali berada di salah satu jejeran mobil petinggi perusahaan.
"Nona itu...." Gading tidak lagi melanjutkan ucapannya hanya melirik mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Aku tahu, biarkan saja. Bukankah permainan akan semakin menyenangkan dengan adanya mangsa di kandang pemburu?" Ucap Gloria dengan senyum miring di bibirnya.
Gading yang mendengar ucapan Gloria dan melihat seringaian di bibir Gloria langsung menelan ludah. Jika sudah seperti ini sesuatu yang buruk namun menyenangkan menurut Gloria akan terjadi.
Gloria masuk ke dalam perusahaan itu dengan wajah datar dan aura dingin. di belakang Gloria terlihat Gading mengikuti Gloria dari belakang.
__ADS_1
Gloria dan Gading langsung menuju lift menekan angka 25 yang menjadi lantai paling atas gedung itu. Di dalam lift tidak ada yang membuka percakapan baik Gloria maupun Gading.
Ting
dengan langkah lebar Gloria berjalan keluar dari lift menuju salah satu ruangan yang diduga menjadi ruangan rapat.
Brak
"Bagaimana rapat kalian?" Suara wanita yang berada di belakang Juliando membuat beberapa petinggi perusahaan menatap ke arahnya dengan kesal karena mengacaukan rapat penting mereka.
"Siapa kau? Kenapa menerobos masuk ke dalam ruangan meeting tanpa permisi sedikit bahkan mengetuk pintu pun tidak?" tanya salah satu pria yang memiliki perut buncit menatap tajam Gloria.
"Anda bertanya siapa saya? Perkenalkan, saya Gloria Adela Leticia. Putri Vanessa Leticia sekaligus pewaris sah dari perusahaan ini." Ucap Gloria dengan nada lantang dan tegas mengangkat dagu dengan penuh percaya diri tanpa tatapan keraguan ataupun ketakutan sedikitpun di matanya.
Juliando yang kebetulan berada di ruang rapat itu langsung membulatkan mata. Juliando tidak menduga jika Gloria akan datang ke perusahaan secepat ini. Pria paruh baya itu baru saja menyusun rencana untuk menghasut beberapa petinggi agar tidak setuju dengan adanya Gloria yang memimpin perusahaan. Akan tetapi, sebelum niat itu disampaikan ternyata Gloria telah lebih sampai di perusahaan.
Sekarang Juliando tidak bisa berbicara dengan bebas karena akan sangat bahaya jika Gloria dapat membaca gerakan dalam rencananya.
Sedangkan para petinggi yang mendengar penuturan dari Gloria langsung saling melirik satu sama lain. Mereka semua tidak menyangka jika berita yang beredar di internet itu adalah kebenaran. Kebenaran tentang Tuan Juliando diam tak memiliki apa-apa, apa yang dimiliki Tuan Juliando sekarang adalah milik almarhum istri pertamanya.
"Dan mulai hari ini saya akan memimpin perusahaan ini. Semua yang berjalan ataupun yang akan dikerjakan oleh perusahaan ini harus melalui izin dari saya tanpa terkecuali. Selain izin dari saya, maka semuanya tidak sah dan saya akan menuntut akan hal itu." Ucap Gloria dengan suara yang lantang.
"Tidak kami tidak setuju Jika kamu yang akan memimpin perusahaan ini...!" Ucap salah satu petinggi perusahaan yang menatap tajam Gloria dan melemparkan tatapan tidak suka secara terang-terangan kepada Gloria.
"Bagaimana bisa perusahaan sebesar ini dipimpin oleh anak ingusan seperti kamu? Jika kamu ingin bermain maka pergilah ke taman atau ke tempat lain bersama teman-temanmu untuk berfoya-foya. Perusahaan bukan tempat anak ingusan seperti kamu datang bermain-main." Lanjut pria berperut buncit itu.
Juliando yang mendengar penuturan dari pria berperut buncit itu langsung menyunggingkan senyum puas. Jika seperti ini terus maka Gloria tidak akan bisa menduduki kursi kepemimpinan dalam kata lain posisinya tetap aman menjadi pemimpin perusahaan itu.
Sedangkan Gloria yang mendengar penolakan dari pria perut besar di depannya itu hanya menyuntingkan senyum sinis.
"Saya bukan Putri anda yang suka berfoya-foya dan keluar masuk di sebuah klub malam. Bahkan dengan bebasnya bermalam dengan pria manapun. Saya tahu perusahaan bukan tempat untuk bermain oleh karena itu saya datang ke sini. Saya tidak akan rela perusahaan milik Mommy saya dipimpin oleh orang yang tak bertanggung jawab. Lagipula dalam surat wasiat semua aset dan harta benda yang dimiliki almarhum milik Vanessa Leticia akan jatuh kepada putrinya yang bernama Gloria Adela Leticia yang tak lain dan tak bukan adalah saya."
"TETAP SAJA KAMI TIDAK SETUJU...!"
__ADS_1
"Jika begitu silahkan keluar dari perusahaan ini.."