
"Lapor polisi? Lalu kalian masuk penjara begitu…? Penjara adalah hukuman yang terlalu ringan untuk manusia kotor dan bejat seperti kalian."
"Lalu kamu mau apa..?"
"Tentu saja balas dendam!" Jawab Gloria dengan miring di bibirnya.
“Balas Dendam?” Beo Juliando dengan nada bergetar.
“Yah balas dendam, penjara dan kematian terlalu ringan untuk orang-orang seperti kalian. Oleh Karena Itu, aku sendiri yang akan membalaskan dendam ibuku pada dua manusia jahanan seperti kalian."
"Syukurlah…" Ucap Juliando pelan.
Gloria yang mendengar gumaman dari Juliando hanya tersenyum sinis. Mungkin saat ini pria paruh baya itu mengucapkan kata syukur. Namun, akan Gloria buat beberapa hari kemudian mereka semua menjerit meminta kematian.
"Bersyukurlah banyak-banyak karna walau kamu menyembah 100 tuhan pun tidak akan ada yang bisa menolong mu. Bahkan Tuhan pun akan murak pada manusia bejat dan serakah sepertimu." Kata Gloria dalam hati yang menatap jijik pria yang notabenenya adalah ayah kandungnya sendiri.
Tapi rasa hormat yang Gloria miliki langsung sirna saat mengetahui bagaimana pria di depannya itu menjadi dalang utama meninggalnya kakek dan ibunya.
"Dan aku lupa memberitahu anda Tuan Juliando, mulai saat ini anda tidak perlu lagi berdandan rapi. Emmm maksudku adalah anda tidak perlu lagi mengenakan pakaian formal itu karna itu semua tidak ada gunanya sekarang." Sarkas Gloria.
Juliando yang mendengar perkataan Gloria mengerutkan dahi. Dengan susah payah berdiri tegak menatap tajam Gloria yang sedang bersedekap dada dengan mata yang terus berkeliaran menatap seluruh sudut mension itu yang banyak berubah.
"Jelas suamiku akan memakai pakaian ini karna dia adalah pemimpin perusahaan…"
"Sejak kapan..? Sejak kapan perusahaan milik ibuku menjadi miliknya. Ingat dia hanya suami yang menjadi benalu dan parasit yang terus menggoroti ibuku hingga tiada. Apa perlu aku ingatkan laki jika dia bukan tanpa apa-apa tanpa nama Leticia di belakang nama suamimu yang tercinta ini." Potong Gloria yang menatap remeh Juana.
Bungkam….
Juana yang tadinya ingin berkoar-koar membela sang suami kini terdiam kaku dengan mulut yang tertutup rapat. Perkataan Gloria bagaikan belati yang menancap di ulu hati Juana membuat wanita paruh baya itu hanya bisa menelan bulat-bulat apa yang ingin dia katakan.
"Mulai saat ini dan seterusnya anda tidak perlu lagi ke perusahaan atau menginjakkan kaki di gedung besar itu. Karna mulai hari ini dan ke depannya aku sendiri yang akan memimpin perusahaan ibuku."
Dhuaarrrr
Ucapan Gloria barusan bagaikan sebuah petir yang menyambar Juliando siang hari. Matanya melotot dengan lutut yang lemas mendengar Gloria yang akan mengambil alih perusahaan yang selama ini dia pimpin.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu ha…? Kamu baru datang-datang sudah mau mengambil alih perusahaan milik…."
"Ibuku mendiang Vanessa Leticia bukan Juliando Leticia ah maksudku Juliando Nell."
Gloria langsung memotong ucapan Juana karena Gloria tahu jika wanita paruh baya itu akan mengatakan jika perusahaan itu milik suaminya Juliando.
"Kamu itu belum terbukti jika kamu benar-benar putri kandung daddyku." Sahut Fenia yang tidak mempercayai jika Gloria merupakan anak kandung dari Juliando.
Sraaak
Sebuah map coklat melayang dan menghantam wajah dunia membuat wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Apa yang…."
"Berhenti berteriak! Kamu meminta bukti bukan? Maka baca itu 99% Aku anak dari pria yang kau panggil daddy itu." Tunjuk Gloria pada Juliano yang terdiam shock.
Juana dan Fenia saling melirik satu sama lain sebelum Fenia menunduk berjongkok mengambil map itu. Fenia dengan terburu-buru membuka map itu lalu mengambil kertas di dalamnya membacanya bersama Juana. Hingga mata Fenia membulatkan mata saat melihat tulisan di atas kertas putih itu.
"Sudah percaya…? Sudah yakin? Jika sudah lebih baik anda membawa pria tua itu ke rumah sakit. Takutnya nanti dia mati kehabisan darah aku belum puas menyiksanya bahkan memulainya saja belum." Sarkas Gloria.
"Dad….!" Juana segera menahan tubuh suaminya saat Juliando terhuyung ke belakang.
"Fenia cepat siapkan mobil…! Kita harus ke rumah sakit." Teriak Juana panik.
"Baik Mom.." Fenia segera berlari keluar untuk mengeluarkan mobil.
"Dasar anak durhaka…! Lihat apa yang akan aku lakukan pada anak kurang ajar sepertimu.." bentak Juana yang menatap Nyalang Gloria.
"Silahkan….! Dan ini hanya awal." Balas Gloria yang duduk santai di sofa ruang tamu.
Juana sebenarnya belum puas melampiaskan amarahnya akan tetapi Juana juga takut jika suaminya kenapa-napa. Dengan membawa kekesalan yang berada di ubun-ubun Juana segera menarik Juliando keluar.
Tanpa mereka ketahui pertengkaran mereka itu di saksikan seluruh pelayan dan para tukang kebun di mension itu. Niat hati ingin menolong nyatanya mereka justru terpaku di tempat menyaksikan kebenaran yang di ungkapkan gadis asing di depan mereka itu.
Jika pelayan lama mungkin akan mengetahui kisah dan cerita masa lalu itu. Akan tetapi, setelah kejadian meninggalnya mendiang Vanessa yang jatuh dari lantai dua. Julianto dan Juana langsung memecat semua pelayan lama dan menggantinya dengan pelayan baru yang bekerja sampai saat ini.
__ADS_1
Sehingga orang yang mengetahui cerita masa kelam itu menghilang. Juana dan juliando berpikir jika kebenaran itu akan terkubur rapat dan tidak akan terekspos keluar. Namun, siapa yang menyangka jika anak kecil yang mereka telantarkan dan buang kini telah kembali menuntut balas dendam.
"Nona…."
"Ah Paman… Bagaimana? Apa mereka sudah pergi?" Tanya Gloria yang menatap hangat pria tua di depannya.
"Mereka sudah pergi Nona…" Jawab pria paruh baya itu yang tak lain adalah Antony di apungnya ada Gading.
GOARRRRR
AAAAAAAA
Para pelayan yang sedari tadi bersembunyi kini lari kontang kantong saat melihat singa besar masuk dan mengaung keras ke arah mereka.
"Lion… kemari!" Panggil Gloria yang menghentikan Lion yang terus mengaung.
Lion yang tadinya begitu sangat sangat langsung berubah seperti kucing imut berjalan mendekati Gloria. Gading dan Antony yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Singa itu hanya akan tunduk pada Gloria saja jika yang lainnya dia akan mengamuk dan menyerang siapa saja yang mendekatinya.
"Gading kamu ikut saya…!"
"Baik Nona…"
Gloria segera berdiri berjalan menaiki tangga di ikuti Gading dan Lion di sampingnya.
Gloria terus berjalan hingga berhenti di sebuah kamar yang memiliki pintu berwarna gold. Dalam ingatan Gloria kecil, Gloria sangat ingat jika kamar itu adalah kamarnya.
"Apa yang nona lakukan….? Itu kamar nona muda Fenia, jangan sembarang masuk…!" Teriak salah satu pelayan yang melihat kegiatan Gloria sedari tadi.
Gloria yang mendengar teriakan pelayan itu langsung menghentikan gerakan tangannya untuk membuka pintu kamar. Gloria berbalik berjalan ke arah pelayan itu yang telah bergetar karena melihat seekor singa menuju ke arahnya.
Plak
Sampai di depan pelayan itu Gloria langsung melayangkan tamparan super keras salah satu pelayan yang berdiri di depannya.
"Kamu hanya orang asing di rumah ini jadi lebih baik kamu diam sebelum aku merobek mulutmu. Kamu tidak mendengar apa yang aku katakan tadi di bawah? Rumah ini dan beserta isinya adalah milik Mommy ku Sedangkan yang lainnya hanya menimpa dan uang yang kamu terima selama ini adalah uang dari Mommy ku." Ucap Gloria yang penuh penekanan menatap tajam ketiga pelayan yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Buka kamar itu dan keluarkan semua isinya…!" Titah Gloria