
"Apa yang terjadi? Apa kamu menemukan harta karun? Apakah kamu menemukan sesuatu yang menarik disana?" Javier langsung bertanya dengan beruntutan.
"Lebih dar itu" Jawab Luis ambigu.
Javier yang mendengar jawaban ambigu Luis langsung mengernyitkan alis. Sejak kapan sahabatnya itu bisa tersenyum tapi alasannya bukan Luisa pikir Javier.
"Jangan memikirkan yang bukan urusan kamu. Lebih baik kamu pikirin gimana cara kamu mendekati adikku. Kamu tahu kan jika adikku itu polosnya bagaimana.........." Ujar Luis dengan senyum misterius di bibirnya.
"Itu bukan lagi polos tapi Luisa itu terlalu bodoh" Guman Javier.
"Apa katamu? Berani kamu mengatai princess ku dengan kata bodoh?" Sentak Luis yang menatap Javier dengan pandangan tajam siap untuk menerkam mangsanya.
Luis akui jika adiknya itu begitu polos dengan hal-hal seperti. Apa yang di katakan oleh Javier tadi adalah sebuah kebenaran. Namun sebagai kakak, Kakak mana yang akan diam saja saat adik kesayangan mereka di katakan bodoh walau hanya niat beranda.
"Sorry bro aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiran aku saat ini" Ucap Javier yang cengengesan.
"Sudahlah. Bagaimana dengan pergerakan kedua bajingan itu?" Tanya Luis tiba-tiba.
__ADS_1
"Apanya lagi, Para cecungguk itu semakin menjadi-jadi bahkan mereka menargetkan Luisa juga sebagai sasaran empuk mereka." Ucap Javier datar.
Luis yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan gigi yang bergemelutuk. Luis begitu emosi kepada kedua orang yang harusnya mereka hidup rukun tapi karna keserakahan orang-orang itu selalu mencari perkara.
Dulu Luis hanya mendiami mereka berpikir mereka akan diam dan sadar suatu saat nanti jika mereka keluarga. Namun, bukannya sadar kedua orang itu justru merencanakan untuk membunuhnya.
Tak cukup sampai disana, Bahkan sekarang berani menargetkan adiknya Luisa sebagai target. Kali ini Luis benar-benar muak. Kali ini Luis tidak akan diam lagi pria itu mengepalkan tangannya dengan erat. Kali ini pria itu berjanji dia akan berjuang dan melawan mereka sampai di titik darah penghabisan.
"Kamu tahu mereka menyuruh mata-mata untuk menyusup ke mension kalian!" Ucap Javier menggebu-gebu menahan amarah.
Pria mana yang akan santai dan diam saja saat wanita yang dia cintai di teror bahkan sampai di ancam.
"Selain itu sekali lagi sorry bro. Luisa sudah 3 hari tinggal di apartemen bersamaku. Tapi aku berani bersumpah aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Aku tidak tahu harus apa untuk menjaganya waktu itu. Aku juga tidak tahu mana orang-orang yang setia dan berpihak pada kami dan mana orang yang berpihak pada kedua si brengsek itu. Saat itu yang aku anggap aman hanya apartemenku saja. Bahkan sejak beberapa hari ini aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam apartemen" Terus terang Javier.
"Mereka benar-benar keterlaluan! Aku keponakannya tapi dia selalu berusaha melenyapkan aku." Umpat Luis yang mengepalkan tangan.
"Sekarang bagaimana bro? Masih bertahan dengan terus berdiam diri atau......."
__ADS_1
"Kita akan menyerang balik. Aku tak peduli mereka keluargaku atau bukan tapi mulai saat ini mereka hanya orang asing dan musuh untukku!" Potong Luis dengan nada datar dan penuh penekanan setiap katanya.
"Harusnya itu yang kamu lakukan dari dulu-dulu. Jika kamu dari awal sudah siaga mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi padamu." Ucap Javier tiba-tiba.
"Tapi aku justru bersyukur karna aku mengalami kecelakaan maut itu." Balas Luis dengan senyum yang lagi lagi terbit di bibirnya.
Hah.......
Javier yang mendengar penuturan dari Luis hanya bisa menjatuhkan rahang dengan mata melotot. Orang bodoh mana yang berucap syukur saat mengalami kecelakaan. Orang gila mana yang malah terlihat bahagia karna berada di jurang kematian. Javier benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa Luis berucap seperti itu. Apa karna otak pria itu terbentur hingga otak jeniusnya menjadi Zonk dan idiot pikir Javier.
Sedangkan Luis pria itu menjatuhkan dirinya di sofa menutup matanya. Wajah dari gadis penolongnya seketika menari-nari dalam pikiran Luis. Hingga bibir pria itu lagi-lagi terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Aku bersyukur mengalami kecelakaan itu walau ada duka tapi aku menemukan sebuah tujuan lain untuk aku hidup selain Luisa. Dia.... Gloria akan menjadi alasan aku selanjutnya untuk terus bertahan di dunia ini.". kata Luis dalam hati.
"Hah..... Aku jadi merindukannya!" Guman Luis Namun, Javier yang berada di dekat Luis bisa mendengar jelas gumanan dari pria itu.
"Haaaah... Merindukan? Merindukan siapa Tuan? Astaga setan apa yang memasuki Tuan hingga menjadi seperti ini. Tuan sadar kita....."
__ADS_1
"Ck.... Diamlah, Kamu membuat konsentrasi aku buyar!" ucap Luis ketus.