
"Untuk apa nona mengirim Tony ke negara itu…?" Tanya Gading yang sangat penasaran.
"Karena Tony aku tugaskan untuk memata-matai dan menjaga seseorang yang penting di negara itu." Ujar Gloria tegas.
"Orang penting..?" Beo Gading dan Toni yang saling melirik satu sama lain.
Tak
Gloria meletakan sebuah map kuning di atas meja membuat atensi kedua pria di depannya menoleh ke arahnya sebelum turun menatap map kuning di atas meja itu.
"Baca…! Disana tertera jelas siapa yang kamu akan awasi pastikan pergerakan kamu tidak di curigai. Dan ini, berkas-berkas yang akan kamu perlukan nantinya. Ingat…! Pastikan kamu mengawasinya lebih dekat, tentunya jangan sampai membuatnya curiga jika tidak maka…." Jeda Gloria yang isyaratkan tangannya yang di gorokkan di leher.
"Saya akan melakukannya dengan baik nona, nona tenang saja saya akan bekerja hati-hati." Ucap Toni dengan cepat.
Keringat dingin keluar dari dahi Toni saat melihat isyarat dari sang ketua. Walaupun ketua mereka belum membunuh tapi melihat pelatihan setan yang di berikan ya pada mereka berdua dan beserta seluruh anggota Scorpio yang lain. Toni sudah bisa menebak jika sang ketua adalah air yang tenang namun diam-diam menghanyutkan.
"Bagus sekarang kalian keluarlah…" usir Gloria kepada kedua bawahannya.
"Kami permisi Nona…" Gading dan Toni segera membungkuk lalu berbalik keluar dari ruang kerja Gloria.
Ceklek
"A hump….."
"Diamlah jika tidak ingin kita di terkam oleh hewan buas itu." Bisik Gading yang menutup mulut Toni yang hampir berteriak.
Sedangkan Toni pria itu hampir mati jantungan. Bagaimana tidak baru saja keluar dari ruangan Gloria mereka langsung di sambut Lion yang sedang tertidur di depan pintu ruangan Gloria. Sepertinya hewan itu merindukan sang Tuan hingga tidak mau diam diri di kamar.
Walau terkenal dan terlihat jinak namun Lion hanya akan jinak dan lucu pada Gloria saja. Jika pada anggota yang lain maka tetap saja Lion kembali ke habitatnya yaitu hewan buas.
"Ayo cepat…!" Bisik Gading yang menarik tangan Toni yang hanya bisa berdiri kaku seperti patung. Namun, badanya yang bergetar.
__ADS_1
"Dasar bodoh..! Kamu benar-benar akan menjadi santapan si Lion jika kamu berdiri disana." Ejek Gading terhadap Toni setelah jarak mereka jauh dari ruangan Gloria.
"Mau bagaimana lagi, aku sangat takut dengan hewan satu itu." Balas Toni yang terdengar kesal.
"Jika kamu takut kenapa tidak lari?" Tanya Gading yang terdengar sinis.
"Jika aku bisa, aku sudah lari dari awal tapi aku tidak bisa lari. Jangankan lari bergerak saja aku tidak bisa."
"Yah tinggal tembak saja."
"Apa kamu pikir aku bodoh? Aku tidak akan melakukan kebodohan anggota kamu yang melukai hewan itu. Aku tidak mau merasakan amukan dari ketua."
Hahaha
Gading yang mendengar balasan dari Toni hanya bisa tertawa lucu. Bukan cerita rahasia lagi tentang Gading yang mengalami patah tulang gara-gara anggotanya melukai hewan berbulu lebat itu.
"Dimana anak itu….?"
Baru saja Toni dan Gading sampai di lantai bawa mereka langsung di kejutkan dengan kehadiran orang yang mereka ingin sekali hindari.
"Turunkan tatapan jelekmu itu atau pistolku ini akan melubangi kepala mu Pak tua." Kata Gading yang penuh penekanan setiap katanya.
Juliando dan Juana tentu langsung menegang melihat moncong pistol itu mengarah ke mereka berdua.
Gading bisa menjadi pribadi yang hangat dan sedikit kocak bila bersama para anggota Scorpio atau dengan Gloria yang sudah dia anggap sebagai adik. Namun, pria itu akan berubah seperti singa yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusiknya atau mengusik orang yang dia sayangi.
Sedangkan Toni pria itu hanya tersenyum sinis melihat wajah panik dan pucat kedua orang di depannya. Nyali sebesar biji padi masih berani mencari masalah dengan ketua mereka. Apa dia orang itu mencari kematiannya sendiri pikir Toni yang tak habis pikir dengan pasangan paruh baya di depannya itu.
"Jangan mencari masalah lagi dengan nona muda jika tidak ingin menemui raja Yama dalam waktu dekat." Ujar Toni yang memberi peringatan kepada kedua orang di depannya.
"Tuan Juliando yang terhormat! Anda tahu? Saya ingin sekali membunuh anda saat ini juga mengingat apa yang telah anda lakukan dulu pada wanita yang penolongku. Tapi sayangnya Nona muda ku masih ingin bermain-main. Jadi, tunggu saja waktunya semakin kalian mencari masalah itu semakin dekat malaikat maut menjemput." Bisik Gading namun masih di dengar Juliando dan Juana.
__ADS_1
Gading segera memberi kode kepada Toni yang langsung di tanggap oleh Toni. Keduanya pergi meninggalkan pasangan paruh baya itu di depan tangga.
Terlihat jika tubuh Juliando dan Juana ikut bergetar mendengar ancaman Gading. Juliando hanya bisa menatap kosong ke depan pria paruh baya itu tahu ancaman pria muda itu tidak main-main.
Sedangkan Juana wanita paruh baya itu langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Juana tidak akan tinggal diam membiarkan semuanya di miliki Gloria. Semua yang ada di rumah ini beserta aset yang lainnya adalah miliknya dan Fenia buka milik Gloria.
"Lho dad, mau kemana?" Tanya Juana saat melihat Juliando beranjak pergi.
"Kembali ke kamar, mau kemana lagi?" Jawab Juliando ketus.
"Katanya tadi mau…."
"Kalau mau ketemu Gloria yah tunggu anak itu turun. Kalau mau samperin di atas aku nggak berani, kalau kamu mau samperin ya sudah samperin sendiri" potong Juliando yang langsung pergi begitu saja.
Juana yang mendengar jawaban dari sang suami hanya bisa mendengus kesal. Matanya menatap tajam di lantai 2 sana. Namun, untuk naik Juana juga tentu takut masih terekam jelas di ingatannya bagaimana singa itu mencakar ya hingga membuat kakinya kini sekarang tidak bisa bergerak bebas.
Yups Juana berjalan menggunakan tongkat akibat cakaran dari singa yang di ketahui hewan peliharaan Gloria.
"Anak itu benar-benar penghalang bagiku dan Fenia untuk mendapatkan semua harta warisan dari wanita sialan itu. Tidak anak, tidak ibu kenapa mereka berdua selalu menyusahkan. Bahkan wanita itu sudah membusuk di dalam tanah tapi masih saja mempersulit ku untuk menguasai seluruh hartanya. Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mungkin membunuhnya begitu cepat." Kata Juana kesal.
Tak punya pilihan lain wanita paruh baya itu pergi dengan membawa segudang kekesalan terhadap Gloria.
Sedangkan di kamar Juliando duduk termenung memikirkan untuk bagaimana jalan ke depannya nanti.
Apakah dia menyesal karena dulu telah mengkhianati istrinya Vanessa?
Maka jawabannya adalah tidak.
Pria paruh baya itu tak pernah merasa menyesal telah mengkhianati istri pertamanya. Sedari awal dia mendekati Vanessa hanya karna untuk memiliki semua ini. Semua milik Vanessa yang ingin di milikinya agar menjadi orang kaya raya dan di hormati.
Namun, sekarang anak dari wanita yang pernah menjadi istrinya sekaligus orang yang dia bunuh juga beberapa tahun lalu telah kembali. Juliando tentu tahu jika anak itu, putrinya pasti datang menuntut balas dendam tapi Juliando tidak takut.
__ADS_1
Juliando yakin jika bisa meruntuhkan api dendam Gloria. Dengan pelan-pelan Juliando akan mendekati Gloria dengan begitu Juliando pasti mendapatkan semua harta Vanessa dengan sah.
"Tapi siapa pria tadi…? Kenapa wajahnya tidak asing?"