
"ASTAGA, APA ITU?" Juliando berteriak dengan kaget menatap tajam Juana sedangkan kotak itu telah terlempar jauh dari Juliando dan Juana.
"Jawab Juana! Dari mana kamu mendapatkan kotak misteri itu?" Bentak Juliando yang menahan amarah kepada istrinya itu.
"Aku tidak tahu, tadi ada kurir yang mengantarnya dan mengatakan jika paket itu dikirim atas nama kita berdua. Bahkan para pelayan tidak boleh menerima paket itu selain kita, Aku mau bukanya dengan harapan kotak itu berisi benda berharga tidak tahunya hanya berisi seperti itu." Terang Juana yang mencoba untuk menjelaskan dirinya berusaha bangun dan berdiri tegak.
Juana dan Juliando berjalan menghampiri kotak itu menatap datar kotak persegi di depan mereka itu. Juliando menatap datar isi kotak itu yang berisikan bangkai tikus yang sudah di lumurin darah dan dengan kepalanya yang telah di pisahkan.
Mata Juliando memicing tajam saat melihat sesuatu yang berada di bawah bangkai tikus itu. Pria paruh baya itu menunduk mengambil sesuatu itu yang ternyata sebuah kertas yang berisikan tulisan.
"Sekali lagi kalian melukai orang-orang yang ku sayangi. Maka, akan aku buat kalian seperti bangkai tikus itu"
__ADS_1
Deg
Juliando yang membaca surat itu langsung tertegun dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan. Juana yang melihat suaminya bergetar langsung memberanikan diri untuk mengambil alih kertas itu. Namun, setelah membaca surat itu Juana pun ikut menggigil ketakutan.
"Dad, ini bagaimana?" Tanya Juana dengan meremas ujung pakaiannya sendiri.
"Aku tidak tahu, untuk saat ini lebih baik kita diam. Aku tidak mau mati konyol hanya dengan karena masalah ini." Jawab Juliando yang masih dengan wajah pucat.
Dengan menyingkirkan Tuan Antony maka akan mempermudah langkahnya untuk menguasai perusahaan. Akan tetapi, jika tetap pada rencana awalnya yaitu dengan menyingkirkan Tuan Antony maka bersamaan dengan itu maka nyawa mereka juga akan melayang dari tubuh.
Juliando tentu dapat menebak jika ancaman yang diberikan Gloria tidaklah bersifat main-main. Jika anak itu berani mempermalukannya maka akan berani juga menyingkirkannya. Lagipula Juliando tentu tahu kedatangan Gloria di tempat mereka yang tak lain dan tak bukan hanya untuk membalas dendam.
__ADS_1
"Dad, jika kita tidak melakukan rencana kita maka semua akan berakhir sia-sia. Kita tidak akan bisa memiliki semua ini, ayolah dad pikirkan cara lain untuk menyingkirkan pria tua itu." Juana memberi provokasi kepada Juliando agar mau menjalankan rencana awal mereka.
"APA KAMU GILA..! JIKA KITA TETAP MAJU YANG ADA NYAWA KITA MELAYANG SEMUA. JIKA KAMU INGIN MAJU MAKA MAJULAH TAPI TIDAK DENGANKU." Bentak Juliando dengan yang menatap tajam Juana.
Juana yang mendengar bentakan dari sang suami langsung terdiam. Mana berani wanita paruh baya itu bergerak sendiri jika tidak dengan Juliando. Juana tentu tidak mau mati konyol hanya saja jika mereka tidak bergerak sekarang maka akan sangat bahaya bila terus membiarkan pria tua itu berada di samping Gloria. Karena dengan adanya pria itu di samping Gloria maka akan mempersulit langkah mereka untuk menggulingkan Gloria dari kursi kepemimpinan. Dan otomatis semua harta benda dan aset Leticia tidak akan pernah menjadi milik mereka.
Juana tentu kesal dan marah dengan kondisi sekarang, bertahun-tahun mereka merencanakan semuanya hingga matang. Bertahun-tahun pola hidup mereka terasa damai dan tentram dengan tidak hadirnya Gloria di tengah-tengah mereka. Mereka bisa menikmati semua kekayaan yang ada tanpa harus perlu repot-repot memikirkan ini dan itu.
Namun, kehadiran dan kedatangan Gloria mengubah segalanya. Kehadiran gadis itu seperti boom waktu untuk mereka semua yang bisa saja meledak kapan saja hanya tinggal menunggu.
"Lebih baik kita diam, karena itu akan memperpanjang jangka waktu kita hidup menghirup udara segar." Kata Juliando yang beranjak pergi meninggalkan Juana yang masih degan wajah emosi .
__ADS_1