Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Insiden


__ADS_3

"CEPAT TANDA TANGAN ATAU ANAK BUAH KU AKAN MENEMBAK KEPALA ADIK MU ITU!"


Dor


"LUISA...."


"APA YANG KAMU LAKUKAN? AKU BELUM MENYURUHMU MENEMBAK!" Teriak Fabian yang ikut panik juga.


"Hey...,"


Bruk


Ucapan Fabian terhenti bersamaan dengan robohnya orang yang menodongkan pistol ke arah Luisa.


"Dad, dia mati." Kata Regis setelah memeriksa nadi orang itu.


"Bagaimana bisa siapa yang menembak?" Teriak Fabian yang menatap sekitar.


Sedangkan di sisi lain, Luisa yang tidak merasakan rasa sakit sedikitpun segera membuka matanya. Luisa membelalakkan mata melihat orang yang tadi ingin menembaknya kini terbujur kaku.


"Siapa yang menyelamatkanku?" Guman Luisa dalam hati yang bertanya-tanya.


"Siapa yang menembak!?" Teriak Fabian yang menatap tajam Luis yang hanya diam dengan wajah datar.


"Berhentilah berteriak Pak Tua..."


Luis yang mendengar suara itu menegang seketika. Walau berpisah sudah cukup lama tapi Luis masih menghafal pemilik suara indah dan merdu itu. Dengan ragu-ragu Luis menoleh ke arah asal suara hingga matanya tertegun melihat wanita yang dia rindukan ada di depannya.


Tapi ada yang aneh, kenapa Gloria bisa berada di tempat itu. Namun, tanda tanya di kepala Luis langsung terjawab saat melihat Galang berada di belakang Gloria.


"Kamu siapa?" Bentak Fabian yang menatap tajam Gloria yang berdiri angkuh di depannya.


"Aku...? Aku dewi kematian mu." Jawab Gloria dengan asal.


"Bedebah sialan, kalian semua keluar dan habisi mereka!" Teriak Fabian yang entah pada siapa.


Beberapa detik kemudian setelah Fabian berteriak seperti itu, keluar kumpulan orang-orang yang berbaju hitam membuat Gloria memicingkan mata ke arah mereka.


"Mereka...? Bukankah kelompok butterfly?" Tanya Gloria kepada Gading yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Benar Nona, Mereka memang dari kelompok itu." Jawab Gading yang menatap anak buah dari Fabian dengan tatapan ganas.


"Cih tahu seperti ini tadi aku bawah Lion." Kata Gloria yang mendengus kesal karena orang yang membantu Fabian adalah juga kelompok yang selalu mencari perkara dengan kelompoknya.


"TUNGGU APALAGI CEPAT SERANG MEREKA!" Teriak Regis kesal.


Bugh


Perkelahian tidak bisa di hindari lagi kedua kubu itu bertemu di tengah dengan saling hantam atau menembak. Anggota Gloria yang telah siaga tak kesusahan lagi saat menghadapi mereka dengan senjata. Apalagi saat mengetahui jika adalah anggota dari kelompok yang telah membuat rekan-rekan mereka meninggal membuat anggota Gloria semakin brutal menghajar mereka.


Luis yang melihat itu tak tinggal diam langsung membantu menghajar anak buang Fabian yang berjumlah hampir 30 orang. Sedangkan Gloria langsung menuju Luisa membebaskan gadis itu.


"Terima kasih kaka ipar." Kata Luisa tersenyum manis kepada Gloria.


Sedangkan Gloria yang mendengar apa yang di katakan oleh Luisa hanya bisa memasang ekspresi datar. Gloria tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat mendengar apa yang di katakan oleh Luisa.


"KAKAK IPAR AWAS...!" Luisa berteriak nyaring saat melihat seseorang di belakang Gloria sedang mengayunkan sebuah balok kayu ke arah Gloria.


Brak


Dengan gerakan cepat Luisa memutar tubuh Gloria lalu menendang keras tangan orang itu hingga balok kayu itu jatuh dan tidak menyukai Gloria.


Setiap pukulan yang datang Luisa akan menangkisnya dengan kakinya atau tangannya yang satu. Gadis itu bergerak dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi Gloria yang dia ketahui wanita yang di cintai sang kakak.


Bugh


Bugh


Krek


"Hosh hosh kenapa mereka semakin banyak?" Guman Luisa yang menatap orang-orang di depannya dengan napas yang naik turun.


"Luisa kamu tidak apa-apa?" Tiba-tiba Luis mendekat ke arah mereka berdua membuat senyum Luisa terbit karena ada yang akan menjaga dan melindungi Kakak iparnya.


"Aku baik-baik saja Kak, kakak ipar juga. Aku berusaha melindunginya." Ucap Luisa dengan napas yang masih tersengal-sengal.


Luis yang mendengar itu tersenyum kecil mengelus kepala sang adik. Mata pria itu menatap ke arah Gloria yang hanya diam saja dengan mata yang menatap di depan.


Sedangkan Gloria gadis itu tidak mendengar apa yang di katakan oleh kedua kakak adik itu. Karena matanya terus menatap keadaan sekitar hingga matanya menajam saat menemukan sesuatu yang janggal.

__ADS_1


"Sial, ini hanya akan memperlambat." Umpat Gloria yang langsung melepaskan pegangan tangan Luisa.


"Kakak Ipar.."


Dor


Tanpa ba-bi-bu Gloria langsung mengangkat senjatanya saat melihat jika seseorang hampir membunuh Gading.


"Angkat senjata kalian, Habibi semuanya! Sisakan hanya mereka berdua" Ucap Gloria dengan lantang.


"Siap Ketua!"


Dor


Dor


Anggota Gloria langsung mengangkat senjata mereka, menembak siapapun yang mereka anggap musuh.


Di saat mereka sedang serius bertarung terlihat 3 pasang mata yang menatap mereka dengan pandangan yang rumit dengan mulut yang menganga. Mereka bertiga adalah Luis, Javier, dan Luisa.


Luisa tidak menyangka wanita yang dia panggil kakak ipar itu ternyata begitu hebat. Luisa sangat kagum bagaimana Gloria menghajar mereka satu persatu hingga tak berdaya.


"Bos itu gadis yang anda katakan jika lugu dan polos? Dia terlihat seperti singa betina yang mengamuk." Kata Javier yang bergidik ngeri melihat Gloria yang menghajar lawannya dengan membabi buta.


"Aku tidak tahu jika dia akan seganas ini." Guman Luis yang menatap Gloria dengan mata yang tidak berkedip.


"Kakak ipar sangat keren, aku akan belajar padanya nanti. Aku pasti bisa sehebat dirinya nanti" Ungkap Luisa yang membuat Javier bergidik ngeri.


Setelah beberapa menit akhirnya Gloria bersama anggotanya memenangkan pertempuran itu. Gloria berbalik berjalan ke arah Luis tanpa menyadari jika di belakangnya Fabian sedang membidikkan pistol ke arahnya. Gading yang melihat itu langsung berteriak nyaring.


"Gloria awas.....!"


"MATI KAU SIALAN!"


Dor


Uhukk uhukk


Brukk

__ADS_1


__ADS_2