
"MEWARISI ASET YANG MANA TUAN JULIANDO YANG TERHORMAT?"
Suara yang cukup keras berasal dari pintu masuk membuat atensi semua orang langsung menoleh ke arah asal suara.
Muncullah seorang wanita yang mengenakan gaun hitam namun terlihat elegan dan cantik terlihat sangat pas dan kontras dengan kulitnya yang putih.Membuat pandangan semua orang terpaku pada gadis yang baru saja masuk itu. Terutama mata para pria semuanya menatap terpaku pada sosok gadis cantik itu.
Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Gloria yang baru masuk dan menampilkan diri setelah dari tadi bersembunyi di dalam mobil bersama Gading dan Tony.
Gloria tersenyum tipis saat melirik sekitarnya dimana para tamu undangan telah menatap terpaku padanya. Gloria diam-diam melempar senyum penuh kemenangan kepada Josefenia yang berada di atas panggung sana.
Josefenia yang melihat senyum penuh kemenangan dari Gloria sontak membulatkan mata. Matanya menatap tajam Gloria yang hanya berekspresi datar tak terganggu dengan intimidasi dari Fenia.
"Tuan Juliando sekali lagi saya bertanya apa yang anda akan wariskan kepada putri anda? Aset yang mana?" Tanya loria dengan nada sinis membuat semua tamu undangan bertanya-tanya.
"Tentu saja semua aset saya dan harta saya tentunya." Jawab Juliando dengan percaya diri.
"Maksud anda... Termaksud perusahaan yang kini sedang anda pimpin?" Suara Gloria mulai datar namun wajahnya masih sempatnya juga menampilkan senyum.
"Tentu saja...!"
"Atas dasar apa sehingga Tuan Julianda berhak menentukan bahkan mewariskan perusahaan itu kepada putri anda itu?" Sarkas Gloria yang tersenyum tipis.
Ucapan pedas dan penuh sindiran dari Gloria membuat semua orang bingun begitu pela dengan Juliando kenapa adis kecil di depannya itu mempertanyakan keputusannya memang siapa dirinya pikir Juliando yang menatap tajam Gloria.
"Tentu saja karna dia merupakan putri saya satu-satunya!" Tekan Juliando yang menatap tajam Gloria sebagai tanda tidak menyukai gadis itu.
"Putri anda...? Tapi bukan putri kandung kan...? Bukankah dia hanya anak tiri...?" Sindir Gloria yang tersenyum culas.
Deg
Sontak perkataan dari Gloria membuat ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu berdiri tegang dengan wajah yang sudah pucat pasi. Ketiga sosok itu tak lain adalah Juliando, istrinya Juana, dan Josefenia.
Bukan hanya ketiga orang itu yang kaget tapi para tama undangan sudah mulai berbisik satu sama lain.Mereka mulai membicarakan Juliando dan kebenaran tentang Josefenia sang model papan atas.
"Si...siapa kamu? Kenapa kamu memfitnah Daddy-ku dan juga diriku?" Ucap Fenia yang berusaha berkata lembut namun tatapannya begitu tajam dan penuh kekesalan kepada Gloria.
"Kamu bertanya siapa aku...? Baiklah akan aku perkenalkan identitas ku. Tapi aku harap jantung kalian masih ada di tempatnya." Ucap Gloria dengan ambigu.
Dengan langkah percaya diri yang tinggi Gloria berjalan dengan begitu anggun naik di atas panggung.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu naik di atas panggung?" Josefenia yang berada di dekat tangga panggung langsung menatap tajam Gloria.
"Karna dari awal semua adalah milikku yang kalian rebut dengan cara paksa. Jadi, persiapkan diri kalian untuk menerima pembalasan dariku." Balas Gloria yang membuat membuat Juliando dan Fenia tertegun.
Gloria tersenyum licik saat melihat wajah kebingungan kedua orang bodoh di depannya itu.Namun, sat ini Gloria malas meladeni yang ada di pikirannya saat ini adalah menyelesaikannya cepat.
Dengan langkah pasti Gloria kembali melanjutkan langkahnya hingga berhenti di tengah-tengah panggung.
"Perkenalkan nama saya adalah Gloria Adela Leticia anak kandung dari Vanessa Leticia dan Juliando Nell atau yang sekarang di panggil Juliando Leticia..." Ucap Gloria lantang.
DHUAAAAR
Dunia Juliando langsung runtuh saat mendengar pernyataan gadis di depannya yang merupakan putrinya bersama mendiang istri pertamanya.
"Apa Tuan Juliando benar-benar pernah menikah sebelumnya?"
"Apa gadis itu benar-benar anak dari Tuan Juliando?"
"Kalian tidak mendengar perkataan adis itu tadi yang mengatakan jika Nona Fenia hanyalah anak tiri."
"Ah kau benar...Tapi bagaimana selama ini tidak ada satupun kabar tentang adis itu?"
"Jangan-jangan gadis itu dikurung dalam mension?"
"Yah bisa jadi. Kan memang selama ini Tuan Juliando selalu mengadakan pestanya di hotel. Tidak pernah sekalipun mereka membuat acara di mension atau kediaman mereka."
Josepfenia yang mendengar itu jelas sangat marah karna sekarang identitasnya di pertanyakan. Di saat seperti ini siapa yang akan melihatnya lagi.
"Tidak mungkin..." Fenia menatap tak percaya pada Gloria yang kini berdiri dengan anggun dan sangat berwibawa.
"Kamu lupa kejahatan apa yang kalian lakukan ha...?" Sarkas loria yang tersenyum culas.
"Dad... Katakan ini semua bohong...." Rengek Fenia kepada Juliando.
"Jadi kamu anak Vanessa?"Juliando bertanya dengan frutasi.
"Yah.Seratus persen asli jika tidak yakin mari kita ke rumah sakit untuk membuktikan jika saya adalah anak kandung anda bukan dia." Tunjuk Gloria yang menunjuk sinis Fenia.
"Dan disini saya ingin menegaskan.... Tidak ada pewaris, tidak ada yang bisa memiliki semua aset Leticia karna semuanya milikku. Sedangkan yang lain adalah hanya numpang lewat dan tinggal di rumahku.Ucap Gloria lantang yang mengagetkan semua orang.
__ADS_1
Ketiga orang yang tadinya hanya bisa diam kini membulatkan mata saat mendengar pengakuan terhadap Gloria yang binar-benar berani pikir ketiga oran itu.
"Apa ak mu mengatakan seenaknya haaa.....Rumah itu dan aset lainnya semua milik suamiku dan tentunya akan menjadi milik Putriku..." Geram Juana dari bawah yang naik di atas panggung.
"Nyonya Juana apa perlu aku membongkar aib kalian berdua atau masa lalu kelam nyonya ingin aku bongkar disini maka dengan senang hati." Balas Gloria datar.
Deg.....
Juana yang mendengar penuturan dari wanita asing di depannya langsung menegang. Wajahnya memucat dengan mata yang melotot tajam menatap wanita asing di depannya yang mengaku-mengaku sebaai anak dari Vanessa mendiang istri dari Juliando.
"A.....apa maksud ka....kamu..."Dengan tangan gemetar Juana menunjuk Gloria.
"Cih..... Wanita tua bau tanah ini apa tidak mendengar apa yang aku katakan? Apa telinganya tuli atau memang cacat tuli sih?" Gloria membatin kesal.
"Sekali lagi saya tegaskan! Dia....! Bukan pewaris dari semua aset yang di miliki Leticia. Karna dia hanya anak haram dari seorang Juliando Nell dengan seorang wanita murahan seperti nyonya ini. Marga Leticia adalah milik mendiang ibu kandungku yaitu Vanessa Leticia." Ucap Gloria yang menggunakan pengeras suara sehingga setiap katanya dapat di dengar jelas oleh setiap orang yang hadir di pesta itu.
Setelah mengucapkan ultimatum itu Gloria segera turun dari panggung. Dengan santai berjalan keluar meninggalkan ketiga orang bodoh yang berwajah pucat di dalam pesta itu. Siapa lagi jika bukan Juliando dan istrinya Juana beserta putri mereka Fenia yang kini hanya bisa bisa terdiam kaku dengan wajah pucat.
Malam yang seharusnya menjadi malam yang begitu bersejarah dalam hidupnya karna akan menjadi pewaris perusahaan besar. Namun, angan-angan itu anya tinggal angan di saat gadis itu membongkar semua masa lalu ibu dan ayahnya.
Fenia menatap tajam dan penuh kebencian kepada punggung Gloria yang semakin menjauh. Sedangkan JUliando dan Juana kini tidak tahu lagi arus berbuat apa mereka sudah benar-benar malu dengan pengumuman yang di lakukan oleh Gloria yang benar-benar menginjak-injak harga diri mereka terutama Juliando.
Juliando ingin sekali menghentikan acara ini namun malu dengan tamu undangan yang hadir ribuan orang. Tak punya pilihan lain Juliando hanya bisa menebalkan muka pada para tamu.
"AKU LUPA.... BERHUBUNG PUTRI KESAYANGAN ANDA SEDANG ULANG TAHUN MAKA AKU AKAN MEMBERIKAN KADO."
Fenia yang mendengar suara gadis itu langsung berwajah pucat.Rupanya gadis itu belum pergi juga.Bukan hanya Fenia yang pucat tapi wajah juliando dan Juana sudah putih bersih seperti tidak memiliki darah.
Ting
Ting
Ting
Setiap ponsel yang di miliki para tamu undangan berdering membuat sang pemiliknya mengambilya.Hingga tiba-tiba semua mata menatap sinis ke arah tiga orang itu. Bukan hanya tatapan sinis tapi juga tatapan jijik mereka lemparkan pada pasangan paru baya itu.
"Ada apa?" JUana masih bisa bertanya dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"Dasar menjijikan....!"
__ADS_1